Motivation

Kamis, 25 Agustus 2016

INDONESIA MENURUT PANDANGAN PENCERITA


Indonesia yang Saya Pahami




Kondisi yang pernah saya alami dulu itu, saya kira sudah tak ada lagi. Tapi ternyata saya salah memahami Indonesia. Kondisi itu kini masih ada. Sewaktu menjalani masa kuliah kerja nyata (KKN) tahun 1991, saya harus tinggal di desa di lereng bukit di wilayah Sumedang. Belum ada listrik, meski banyak rumah bertembok, tapi soal buang hajat masih banyak yang melakukan di kebun atau di atas balong (kolam).

Menggalang dana untuk ikut 'membangun' desa itu dalam kurun masa KKN, cukuplah mudah saat itu. Hal-hal yang ditulis di proposal sangat mudah dipahami donatur, sehingga mereka rela menyumbangkan dananya. Apalagi, dalam beberapa kasus, kami benar-benar melibatkan beberapa pemuda setempat untuk ikut menyusun proposal dan mendatangi calon donatur. Saat itu, saya memahami Indonesia sebagai negara yang dipenuhi penderma: baik penderma yang ikhlas maupun yang berpamrih.

Sepuluh tahun telah lewat. Tinggal di Bandung dan Jakarta membuat saya memahami Indonesia sebagai tempat yang dipenuhi nafsu. Kendaraan tiap hari berganti dan bertambah. Angka terakhir soal pertumbuhan kendaraan di Jakarta --di tengah banyak kasus gizi buruk dan muntaber di wilayah Jabodetabek-- bahkan mencapai 34 persen.

Tiba-tiba saya tak bisa memahami Indonesia, lantaran tak jauh dari Jakarta, banyak yang masih buang hajat di kebun atau di atas balong. Kalau soal buruknya sanitasi lingkungan, jangan tanya lagi. Dalam kasus ini, Jakarta hanya bisa menampakkan dirinya sebagai metropolitan ketika gemerlap cahaya tetap menerangi lapangan Monas di peringatan ulang tahun ke 478.

Dalam soal perilaku warganya? Saya betul-betul tahu bahwa itu Indonesia. Buang sampah sembarangan, naik eskalator selalu bergerombol menutupi seluruh ruas tangga eskalator, sehingga bagi yang ingin berjalan cepat tak bisa berjalan di eskalator. (Karena tak pernah ada yang memberri tahu bahwa sebaiknya berdiri di eskalator cukup di satu jalur, sebelah kiri, sehingga sebelah kanan bisa dipakai jalan oleh orang yang terburu-buru).

Memencet klakson mobil seenaknya ketika lalu lintas sedang macet adalah bagian dari kesukaan membuat orang lain jengkel karena suara begitu bising. Meski yang dikendarai adalah mobil mewah, tak serta-merta menempatkan pengemudinya sebagai makhluk yang tahu sopan santun. Tersinggung kalau ditegur orang ketika berbuat menyalahi adab dan peraturan, sehingga mendorong banyak orang semakin tak peduli terhadap maraknya berbagai pelanggaran-pelanggaran. Menyelesaikan berbagai persoalan dengan tindak kekerasan, karena suara bising, sampah di mana-mana, banyak orang yang tak tahu adab, banyak persoalan rumah tangga, kantor, dan sebagainya, sehingga membuat membuat orang susah menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin. Itulah sebagian kecil dari Indonesia yang saya pahami.

Toh, polisi tetap saja dengan suka cita memberikan surat keterangan berkelakuan baik kepada mereka. Sampai-sampai, polisi --yang berulang tahun pada 1 Juli-- sekarang rela dihujat hanya gara-gara mereka kehabisan kelakuan baik. ''Sayang baju dan pangkatnya. Masa untuk mendapat Rp 1.000 saja harus dengan seragam dan pangkat,'' ujar seorang sopir setelah memberi uang Rp 1.000 kepada polisi yang mencegatnya di Jl Ahmad Yani, Bandung, persis di depan kantor pilisi, agar ia tak kena tilang.

Saya jadi teringat kisah Arun Gandhi di waktu remaja yang baru saya baca. Arun adalah cucu Mohandes Karamchand (Mahatma) Gandhi dari Manilal-Sushila Gandhi. Saat itu ia harus ikut orang Manilal ke kota. Ia diminta meembetulkan mobil ke bengkel, sementara Manilal mengikuti seminar, dan berjanji bertemu pukul lima sore di tempat yang ditentukan. Rupanya, Arun tak bisa menepati kesepakatan itu. Ia telat, karena harus menonton film. Tapi ia menyatakan keterlambatannya disebabkan oleh belum selesainya perbaikan mobil di bengkel, kendati Manilal sendiri telah memastikan sendiri bahwa perbaikan mobil telah selesai sebelum pukul lima sore.

Manilal menganggap ada yang salah dalam pola pengasuhan, sehingga Arun tak memiliki keberanian berkata jujur. Manilal pun menghukum diri sendiri. ''Ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik," ujar Manilal.

Arun yang mendirikan MK Gandhi Institute for Nonviolence menyebut kesal, marah, sebagai bagian dari pohon kekerasan (violence family tree). Arun mendapatkan pelajaran berharga dari Gandhi tentang cakupan kekerasan, yaitu kekerasan fisik dan kekerasan pasif. Menurut Gandhi, kit aharus mengerti tentang kekerasan sebelum memahami tanpakekerasan (nonviolence).

Pembunuhan, pemukulan, pemerkosaan, perkelahian, peperangan, adalah bagian dari kekerasan fisik. Sedangkan marah, benci, prasangka, penindasan, penganiayaan bagian dari kekerasan pasif. Prasangka terjadi dalam kasus jender, ras, dan warna kulit, sedangkan penindasan dan penganiayan bisa terjadi dalam ranah ekonomi, sosial, agama, dan politik. ''Kekerasan pasif adalah bensin untuk api kekerasan fisik,'' ujar Arun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar