Kondisi yang pernah saya alami dulu itu,
saya kira sudah tak ada lagi. Tapi ternyata saya salah memahami Indonesia. Kondisi itu kini masih ada.
Sewaktu menjalani masa kuliah kerja nyata (KKN) tahun 1991, saya harus tinggal
di desa di lereng bukit di wilayah Sumedang. Belum ada listrik, meski banyak
rumah bertembok, tapi soal buang hajat masih banyak yang melakukan di kebun
atau di atas balong (kolam).
Menggalang dana
untuk ikut 'membangun' desa itu dalam kurun masa KKN, cukuplah mudah saat itu. Hal-hal yang ditulis di proposal sangat
mudah dipahami donatur, sehingga mereka rela menyumbangkan dananya. Apalagi,
dalam beberapa kasus, kami benar-benar melibatkan beberapa pemuda setempat
untuk ikut menyusun proposal dan mendatangi calon donatur. Saat itu, saya
memahami Indonesia sebagai negara yang dipenuhi penderma: baik penderma yang
ikhlas maupun yang berpamrih.
Sepuluh tahun
telah lewat. Tinggal di Bandung dan Jakarta membuat saya memahami Indonesia
sebagai tempat yang dipenuhi nafsu. Kendaraan tiap hari berganti dan bertambah.
Angka terakhir soal pertumbuhan kendaraan di Jakarta --di tengah banyak kasus
gizi buruk dan muntaber di wilayah Jabodetabek-- bahkan mencapai 34 persen.
Tiba-tiba saya
tak bisa memahami Indonesia, lantaran tak jauh dari Jakarta, banyak yang masih
buang hajat di kebun atau di atas balong. Kalau soal buruknya sanitasi
lingkungan, jangan tanya lagi. Dalam kasus ini, Jakarta hanya bisa menampakkan
dirinya sebagai metropolitan ketika gemerlap cahaya tetap menerangi lapangan
Monas di peringatan ulang tahun ke 478.
Dalam soal
perilaku warganya? Saya betul-betul tahu bahwa itu Indonesia. Buang sampah
sembarangan, naik eskalator selalu bergerombol menutupi seluruh ruas tangga
eskalator, sehingga bagi yang ingin berjalan cepat tak bisa berjalan di
eskalator. (Karena tak pernah ada yang memberri tahu bahwa sebaiknya berdiri di
eskalator cukup di satu jalur, sebelah kiri, sehingga sebelah kanan bisa
dipakai jalan oleh orang yang terburu-buru).
Memencet klakson
mobil seenaknya ketika lalu lintas sedang macet adalah bagian dari kesukaan
membuat orang lain jengkel karena suara begitu bising. Meski yang dikendarai
adalah mobil mewah, tak serta-merta menempatkan pengemudinya sebagai makhluk
yang tahu sopan santun. Tersinggung kalau ditegur orang ketika berbuat
menyalahi adab dan peraturan, sehingga mendorong banyak orang semakin tak
peduli terhadap maraknya berbagai pelanggaran-pelanggaran. Menyelesaikan
berbagai persoalan dengan tindak kekerasan, karena suara bising, sampah di
mana-mana, banyak orang yang tak tahu adab, banyak persoalan rumah tangga,
kantor, dan sebagainya, sehingga membuat membuat orang susah menyelesaikan
persoalan dengan kepala dingin. Itulah sebagian kecil dari Indonesia yang saya
pahami.
Toh, polisi tetap
saja dengan suka cita memberikan surat keterangan berkelakuan baik kepada
mereka. Sampai-sampai, polisi --yang berulang tahun pada 1 Juli-- sekarang rela
dihujat hanya gara-gara mereka kehabisan kelakuan baik. ''Sayang baju dan
pangkatnya. Masa untuk mendapat Rp 1.000 saja harus dengan seragam dan
pangkat,'' ujar seorang sopir setelah memberi uang Rp 1.000 kepada polisi yang
mencegatnya di Jl Ahmad Yani, Bandung, persis di depan kantor pilisi, agar ia
tak kena tilang.
Saya jadi
teringat kisah Arun Gandhi di waktu remaja yang baru saya baca. Arun adalah
cucu Mohandes Karamchand (Mahatma) Gandhi dari Manilal-Sushila Gandhi. Saat itu
ia harus ikut orang Manilal ke kota. Ia diminta meembetulkan mobil ke bengkel,
sementara Manilal mengikuti seminar, dan berjanji bertemu pukul lima sore di
tempat yang ditentukan. Rupanya, Arun tak bisa menepati kesepakatan itu. Ia
telat, karena harus menonton film. Tapi ia menyatakan keterlambatannya
disebabkan oleh belum selesainya perbaikan mobil di bengkel, kendati Manilal
sendiri telah memastikan sendiri bahwa perbaikan mobil telah selesai sebelum
pukul lima sore.
Manilal
menganggap ada yang salah dalam pola pengasuhan, sehingga Arun tak memiliki
keberanian berkata jujur. Manilal pun menghukum diri sendiri. ''Ayah akan
pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya
baik-baik," ujar Manilal.
Arun yang
mendirikan MK Gandhi Institute for Nonviolence menyebut kesal, marah, sebagai
bagian dari pohon kekerasan (violence family tree). Arun mendapatkan pelajaran
berharga dari Gandhi tentang cakupan kekerasan, yaitu kekerasan fisik dan
kekerasan pasif. Menurut Gandhi, kit aharus mengerti tentang kekerasan sebelum
memahami tanpakekerasan (nonviolence).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar