Motivation

Kamis, 25 Agustus 2016

KEKERASAN DAN DISORIENTASI KEMANUSIAAN Dalam Tinjauan Psikologis Islami


KEKERASAN DAN DISORIENTASI KEMANUSIAAN
Dalam Tinjauan Psikologis Islami


Kejadian-kejadian yang menyakut kekerasan, perkelahian pelajar massa dan pembantaian sungguh sangat menghentakan dan mengejutkan kesadaran kita sebagai bangsa berbudaya , bangsa yang berfalsafah Pancasila dan beragama ini , suatu tragedi yang mengerikan yang terjadi dimasyarakat Indonesia saat ini, sehingga sadisme makin hari makin tumbuh dengan indikasi–indikasi yang banyak ditemukan di media massa : surat kabar dan televisi da media massa yang lainnya contohnya
            Sudah sedemikian sakitkah sebagian manusia dan masyarakat Indonesia, sampai mereka bertindak sedemikian agresif dan sadis kadang hanya karena soal sepele.
            Oleh sebab ini disini pemakalah ingin membeberkan permasalahan ini sebagai bahan renungan dan kewaspadaan semua pihak, sebab mungkin gejala ini akan terus mekar seiring makin kompleks dan kerasnya kehidupan masyarakat di zaman ini dan Indonesia.


PEMBAHASAN

Dimensi kekerasan


Kekerasan adalah suatu sifat atau keadaan yang mengandung  kekuatan , tekanan dan paksaan. Kekerasan terkait dengan paksaan, yang berarti tekanan yang keras. Kekerasan juga sering dikaitkan dengan tidakan perkosaan, yakni suatu tindakan menundukkan  dengan paksaan dan kekerasan
Dimensi kekerasan bukan hanya fisik, tetapi juga psikologis. Paksaan juga bukan sekadar memiliki sasaran pada individu, tetapi juga bagi kelompok dan masyarakat, yang sering disebut kekerasan individual dan sosial atau struktural.
Kekerasan yang bermotif, sikap, dan tindakan yang melibatkan aspek-aspek kekuatan, paksaan dan tekanan secara alamiah melekat dengan nafsu dan perjuangan hidup manusia dalam memperebutkan sumber-sumber kebutuhan hidup, ekonomi, politik, dan hal-hal yang dipandang berharga dalam kehidupan.
Nafsu untuk melakukan kekerasan bagaikan aliran sungai yang menembus kemana-mana dalam perkembangan sejarah umat manusia. Jangankan dalam pergumulan hidup yang profan, dalam kehidupan umat beragama pun dimana nilai –nilai transendental senantiasa menjadi bagian penting dalam kehidupan , juga terdapat fenomena kekerasan
Sigmund Freud memandang kekerasan sebagai wujud frustasi dari suatu dorongan libidinal manusia. Erich Fromm melihat kekerasan sebagai hasil watak sosial dari penguasaan dan penindasan sewenang-wenang. Reiner Maria Rilke menunjuk kekerasan sebagai produk frustasi, kemarahan, rasa malu, dan iri hati yang sumbernya adalah kehidupan yang tidak dihayati oleh manusia. Sedangkan kaum Marxis mengkaitkan dengan eksploitasi dalam hubungan dengan penguasaan faktor produksi
Sementara sosiolog melihat kekerasan sebagai bagian dari pola hubungan sosial yang berwujud dominasi dan subordinasi. Individu atau kelompok yang memiliki kekuatan dalam bidang apa saja cenderung ingin melakukan dominasi dan eksplotasi terhadap yang dipandang lemah atau tidak berdaya.Jadi faktor kekuasaan menjadi sangat menentukan bentuk dan jenis kekerasan(lord acton)
Dengan demikian kekerasan merupakan suatu keadaan dan sifat yang menghancurkan  kehidupan manusia. Manusia sebagai mahkluk yang berakal-budi dan mulia menjadi terperosok pada sifat-sifat kebinatangan,. merusak, menekan, memeras dan lain sebagainya  yang merupakan tindakan yang menodai dan menghancurkan kemuliaan manusia sebagai mahkluk Tuhan. Lebih-lebih manusia melakukan kekerasan secara sadar dan sistematik, sehingga makin memerosotkan derajat kemanusiaan  ketitik paling terendah” asfala safilin” suatu tempat terhina yang serendah-rendahnya, setelah sebelumnya berada di puncak kemuliaan dalam maqam “ahsan at-ataqwien” (al-Qur’amn S. at Tiin 4-5)Dan kekerasan yang timbul itu terjadi karena disebabkan oleh faktor dari individu dan lingkungan

Disorientasi Mental
Sepertinya terdapat kecenderungan berjangkitnya penyakit mental dalam struktur kepribadian sebagian manusia Indonesia saat ini, inilah salah satu penyakit Psikologis yang Alvin Toffler disebut sebagai Disorientasi mental (future Shock 1970), Penyakit jenis ini muncul dalam bentuk ketegangan psikologis yang dahsyat dalam kepribadian manusia akibat berbagai kejutan kejiwaan menghadapi problema kehidupan terutama karena datangnya sejumlah besar perubahan yang terlampau cepat, yang mengakibatkan orang mudah sekali kehilangan keseimbangan menghadapi persoalan stres dan depresi termasuk dalam gejala psikologis ini . Ia merupakan penyakit kronis dan makin mewabah dalam kehidupan masyarakat modern yang dipacu oleh berbagai perubahan dalam mobilitas individual yang tinggi , maka timbullah tindakan-tindakan yang diluar kontrol dan batas-batas kewajaran seperti agresif dan sadisme.
            Penyakit disorientasi mental biasanya mudah hinggap dan menjadi kekuatan , destruktif yang besar dan membahayakan dalam pribadi-pribadi yang punya tingkat keseimbangan kejiwaan rendah termasuk daya tahan moral dan spiritualnya (moralitas agama dan nurani yang luhur ( budi pekerti / ahklak ).
            Dalam kondisi mental yang rawan seperti  ini cuma naluri-naluri instingtual yang muncul dalam diri manusia. Naluri hewani cenderung brutal dan memangsa dan bahkan lebih brutal dan ganas daripada hewan.

Disharmoni Sosial
            Dan bukan faktor psikologis individu saja yang mejadi faktor tunggal dalam kasus-kasus kejahatan  sadistis terdapat faktor lain yang diproses secara saling mempunyai  antara lain  seperti faktor lingkungan sosial seperti melemahkan atau mobilitas sosial dalam kehidupan masyarakat  berkenaan dengan dinamika kerja pembangunan serta kehidupan kota yang semangkin tinggi di negeri ini.
            Solidaritas dalam kehidupan masyarakat Indonesia tampaknya mulai renggang atau berubah lebih-lebih dalam lingkungan sosial perkotaaan. Solidaritas yang kokoh , alamiah, lekat tenggang rasa , toleran dan bersifat langsung berubah serta digeser oleh oleh hubungan sosial yang bersifat lemah individualitas organis, renggang berjarak , tidak langsung dan serba didasarkan atas kepentingan itu seseorang atau kelompok saja juga potensi-potensi hubungan  yang bersifat kemanusiaan dalam kehidupan masyarakat cenderung melemah menurun atau mengalami degradasi dan hubungan ketetanggaan cenderung semakin melonggar bahkan memudar. Hal yang menonjol  adalah gesekan kepentingan uyang mudah sekali menjurus dan menjadi  ledakan konflik dalam hubungan antar sesama, baik dirumah tangga, antar tetangga ,antar kelompok dan lain sebagainya
            Solidaritas yang muncul adalah solidaritas sesaat yang berjarak didasarkan atas kepentingan yang sering sekali bersifat material dan lahiriah semata maka konflik yang terjadi bisa meningkat  yang bersifat kekerasan, kejahatan dan itu terjadi cuma dengan faktor pemicu yang sepele yang akan melahirkan tidakan yang brutal dan diluar kontrol maka manusia menjadi budak dari pertarungan kehidupan yang mereka ciptakan sendiri inilah yang lama-kelamaan menimbulkan proses pelemahan fungsi-fungsi sosial dalam sistem kehidupan masyarakat pranata-pranata sosial, menjadi kehilangan fungsinya atau setidak-tidaknya mengalami pelemahan fungsi sehingga keseimbangan sistem sosial menajdi mudah terganggu dan rawan konflik itulah gejala disharmonis sosial yang menunjukkan krisis dalam kehidupan suatu masyarakat. 
Pemecahan-pemecahan
Menghadapi kasus-kasus kekerasan dan kejahatan sosial yang terkait dalam situasi sosial yang kompleks menuntut adanya fungsi kontrol yang efektif, sekaligus pembinaan moralitas yang terus-menerus oleh berbagai institusi yang memiliki otoritas dalam satu kesatuan sistem sosial. Peningkatan fungsi kontrol sosial dimaksudkan sebagai mengefektifkan funsi-fungsi kelembagaan sosial tertentu yang berwenang, untuk melakukan pengendalian sosial, baik bersifat pasif maupun aktif. Seperti aparat keamanan secara tegas dan efektif dalam menjalankan tugas sesuai dengan kewenangannya. Tuntutan akan perlunya hukuman berat bagi pelaku kejahatan berat seperti Pembunuhan, pemerkosaan dan lain sebagainya .Organisasi-organisai atau lembaga-lembaga kemasyarakatan yang memainkan peran kontrol sosial seperti pers, LSM dan lain-lain. Juga para tokoh-tokoh keagamaan yang sangat memiliki otoritas untuk memainkan fungsi pembinaan moral dan spritual bagi anggota masyarakat melalui berbagai pendekatan yang lebih partisipatif dan empatik
Dan dalam melawan kekerasaan perlu menjadi gerakan politik, pendidikan , kekeluarga, ekonomi dan kebudayaan. Perlawanan atau pemberantasan kekerasan bahkan perlu menjadi gerakan keagamaan yang menawarkan perdamaian dan keselamatan untuk semua
Diantara pendekatan nya adalah melakukan entitesis terhadap budaya kekerasan dengan jalam menghadirkan budaya tandingan baru , yaitu budaya perdamaian atau budaya anti kekerasan. Dengan menumbuhkan budaya perdamaina berarti menindakan budaya kekerasan atau sama dengan mengembangkan budaya anti kekerasan .Perlawanan sebagai wujud anti kekerasan bukan terbatas pada sikap pasif berupa menolak kekerasan, tetapi juga bersikap aktif untuk meniadakan atau melawan kekerasan dengan mengaktifkan funsi social seperti dijabarkan sebelumnya.
            Sebagai normatif, Islam diyakini oleh para pemeluknya sebagi agama (wahyu Allah ) yang menjadi pedoman hidup yang total dan meliputi seluruh aspek kehidupan. Aspek-aspek ajaran Islam yaitu aqidah, ibadah, akhlak dan pergaulan kemasyarakatan. Para pemeluk Islam juga meyakini bahwa umat Islam yang dicita-citakan dan sebagaimana yang telah dicontohkan dizaman Nabi Muhammad, adalah umat yang terbaik
كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله
( ال عمران 110 )

Kamu sekalian adalah umat terbaik yang diciptakan bagi seluruh manusia, yang menyuruh kepada kebaikan dan melaramg kemungkaran dan percaya kepada Allah (surat Ali Imran 110)

Dalam ajaran-ajaran agama Islam terkandung  obat atau cara yang memberikan terapi bagi yang mengidap gangguan jiwa. Islam juga membahas aspek yang menjadi sebuah pedoman hidup yang membuat seluruh manusia menjadi sejahtera dan hidup dalam kedamaian di dunia dan di akhirat, seperti shalat bisa mengobati hati seseorang yang sedang mengalami kegundahan hati manusia, karena mengandung aspek Auto-sugesti dan kebersamaan 

يا أيها الناس قد جاءتكم موعظة من ربكم وشفاء لما في الصدور وهدى ورحمة للمؤمنين
سورة يونس : 57

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajran dari Tuhanmu dan

penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada ) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman “ Surat Yunus : 57

…قل هو للذين آمنوا هدى وشفاء

… katakanlah : Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman ….”  Surat Fushilat : 44

 

وننزل من القرآن ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين ولا يزيد للظالمين إلا خسارا

(سورة الإسراء 82)
“ Dan kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-oraang yang zalim kecuali kerugian “ Surat Al-Isra : 82

            Selain terapi yang bersifat kuratif, agama juga memiliki aspek preventif terhadap gangguan jiwa. Adanya perintah Allah untuk memelihara persaudaran sesama manusia (ukhuwah), saling memenuhi kebutuhan, saling merasakan penderitaan dan kesenangan orang lain akan menjaga kemungkinan terjadinya gangguan jiwa
            Dalam bidang psikologi akhir-akhir ini berkembang psikologi komunitas yang tujuannya ialah melakukan usaha preventif bagi lahirnya gangguan jiwa dalam masyarakat.
Kesimpulan
            Masalah kekerasan dalam kehidupan merupakam masalah yang kompleks dalam mengatasi masalah ini harus ada kerjasama antara seluruh fungsi sosialdan tidak bisa berjalan secara sektoral. Juga bisa secara aktif dan pasif.Dan sebenarnya Islam sudah mempunyai konsep namun tidak diterapkan secara menyeluruh dan semaksimal mungkin.
                       

SOLUSI KEKERASAN  DALAM PERSEKTIF ISLAM

Kejadian-kejadian yang menyakut kekerasan, perkelahian pelajar massa dan pembantaian sungguh sangat menghentakan kesadaran kita sebagi bangsa berbudaya , bangsa yang berfalsafah Pancasila dan beragama ini , suatu tragedi yang mengerikan yang terjadi dimasyarakat Indonesia saat ini, sehingga sadisme makin hari makin tumbuh dengan indikasi –indikasi yang banyak ditemukan di media massa : surat kabar dan televisi contohnya
            Sudah sedemikian sakitkah sebagian manusia dan masyarakat Indonesia, sampai mereka bertindak sedemikian agresif dan sadis kadang hanya karena soal sepele.
            Oleh sebab ini disini pemakalh ingin membeberkan permasalahan ini sebagai bahan renungan dan kewaspadaan semua pihak, sebab mungkin gejala ini akan terus mekar seiring makin kompleks dan kerasnya kehidupan masyarakat di zaman ini dan Indonesia.





Dimensi kekerasan
Kekerasan alah suatu sifata atau keadaan yang mengandung  kekuatan , tekanan dan paksaan. Kekerasan terkai dengan paksaan, yang berarti tekanan yang keras. Kekerasan juga sering dikaitkan dengan tidakan perkosaan, yakni suatu tindakan menundukkan  dengan paksaan dan kekerasan
Dimensi kekerasan bukan hanya fisik, tetapi juga psikologis.Paksaan juga bukan sekadar memilii sasaran pada individu, tetapi juga bagi kelompok dan masyarakat, yang sering disebut kekerasna individual dan sosial atau struktural.
Kekerasan yang bermotif, sikap, dan tindakan yang mel;ibatkan aspek-aspek kekuatan, paksaan dan tekanan secara alamiah melekat dengann nafsu dan perjuangan hidup manusia dalam memperebutkan sumber-sumber kebutuhan hidup, ekonomi, politik, dan hal-hal yang dipandang berharga fdalam kehidupan.
Sigmund Freud memandang kekrasan sebagi wujud frustasi dari suatu dorongan libidinal manusia. Erich Fromm melihat kekrasan sebagai hasil watak sosial dari penguasaan dan penindasan sewenang-wenang. Reiner maria Rilke menunjuk kekerasan sebagai prioduk frustasi, kemarahan, rasa malu, dan iri hati yang sumbernya adalah kehidupan yang tidak dihayati oleh manusia. Sedangkan kaum Marxis mengkaitkan dengan eksploitasi dalam hubungan dengan penguasaan faktor produksi
Sementara sosiolog melihat kekerasan sebagai bagian dari pola hubungan sosiak yang berwujud sominasi dan subordinasi.Individu atau kelompok yang memiliki kekuatan dalam bidang apa saja cenderung ingin melakukan dominasi dan eksplotasi terhadap yang dipandang lemah atau tidak berdaya.Jadi faktor kekuasaan menjadi sangat menentukan bentuk dan jenis kekerasan(lord acton)

Sepertinya terdapat kecenderungan berjangkitnya penyakit mental dalam struktur kepribadian sebagian manusia Indonesia saat ini, inilah salah satu penyakit Psikologis yang Alvin Toffler disebut sebagai Disorientasi mental (future Shock 1970), Penyakit jenis ini muncul dalam bentuk ketegangan psikologis yang dahsyat dalam kepribadian manusia akibat berbagai kejutan kejiwaan mengahadapi problema kehidupan terutama karena datangnya sejumlah besar perubahan yang terlampau cepat,yang mengakibatkan orang mudah sekali kehilangan keseimbangan menrghadapi persoalan stres dan depresi termasuk dalam gejala psikologis ini . Ia merupakan penyakit kronis dan makin mewabah dalam kehidupan masyarakat modern yang dipacu oleh berbagai perubahan dalam mobilitas individual yang tinggi , maka timbullah tindakan –tindakan yang diluar kontrol dan batas –batas kewajaran seperti agresif dan sadisme.
            Penyakit disorientasi mental biasanya mudah hinggap dan menjadi kekuatan , destruktif yang besar dan membahayakan dalam pribadi-pribadi yang punya tingkat keseimbangan kejiwaan rendah termasuk daya tahan moral dan spiritualnya (moralitas agama dadn nurani yang luhur.
            Dalam kondisi mental yang rawan seperti  ini cuma naluri-naluri instingtual yang muncul dalam diri manusia. Naluri hewani cenderung brutal dan memangsa dan bahkan lebih brutal dan ganas daripada hewan.
            Disharmoni Sosial
            Dan bukan faktor psikologis individu saja yang mejadi faktor tanggal dalam kasus-kasus kejahatan  sadistis terdapat faktor lain yang diproses secara saling mempunyai  antara lain  seperti faktor lingkungan sosial sperti nmelemahkan atau mobilitas sosial dalam kehidupan masyarakat  berkenaan dengan dinamika kerja pembangunan esrta kehidupan kota yang semangkin tinggi di negeri ini.
            Solidaritas dalam kehidupan masyarakat Indonesia tampaknya mulai renggang atau berubah lebih-lebih dalam lingkungan sosial perkotaaan. Solidaritas yang kokoh , alamiah, lekat tenggang rasa , toleran dan bersifat langsung berubah serta digeser oleh oleh hubungan sosial yang bersifat lemah individualitas organis, renggang berjarak , tidak langsung dan serba didasarkan atas kepentingan itu seseorang atau kelompok saja juga potensi-potensi hubungan  yang beresifat kemanusiaan dalam kehidupan masyarakat cenderung melemah menurun atau mengalami degradasi dan hubungan ketetanggaan cenderung semakin melonggar bahkan memudar. Hal yang menonjol  adalah gesekan kepentingan uyang mudah sekali menjurus dan menjadi  ledakamn konflik dalam hubungan antar sesama, baik dirumah tangga, antar tetangga ,antar kelompok dan lain sebagainya
            Solidaritas yang muncul adalah solidaritas sesaat yang berjarak didasarkan ats kepentingan yang seering sekali bersifat material dan lahiriah semata maka konflik yang terjadi bisa meningkat  yang bersifat kekerasan, kejahatan dan itu terjadi cuma denagan faktor pemicu yang sepele yang akan melahirkan tidakan yang brutal dan diluar kontrol maka manusia menjadi budak dari pertarungan kehidupan yang mereka ciptakan sendiri inilah yang lama-kelamaan menimbulkan proses pelemahan fungsi-fungsi sosial dalam ssistem kehidupan masyarakat pranata-pranata sosial, menjadi kehilangan fungsinya atau setidak-tidaknya mengalami pelemahan fungsi sehingga keseimbangan sistem sosial menajdi mudah terganggu dan rawan konflik itulah gejala disharmonis sosial yang menunjukkan krisis dalam kehidupan suatu masyarakat. 



يا أيها الناس قد جاءتكم موعظة من ربكم وشفاء لما في الصدور وهدى ورحمة للمؤمنين

قل هو للذين آمنوا هدى وشفاء


وننزل من القرآن ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين ولا يزيد للظالمين إلا خسارا (سورة الإسراء 82)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar