KEKERASAN DAN DISORIENTASI KEMANUSIAAN
Dalam Tinjauan Psikologis Islami
Kejadian-kejadian
yang menyakut kekerasan, perkelahian pelajar massa dan pembantaian sungguh
sangat menghentakan dan mengejutkan kesadaran kita sebagai bangsa berbudaya ,
bangsa yang berfalsafah Pancasila dan beragama ini , suatu tragedi yang
mengerikan yang terjadi dimasyarakat Indonesia saat ini, sehingga sadisme makin
hari makin tumbuh dengan indikasi–indikasi yang banyak ditemukan di media massa
: surat kabar dan televisi da media massa yang lainnya contohnya
Sudah
sedemikian sakitkah sebagian manusia dan masyarakat Indonesia, sampai mereka
bertindak sedemikian agresif dan sadis kadang hanya karena soal sepele.
Oleh
sebab ini disini pemakalah ingin membeberkan permasalahan ini sebagai bahan
renungan dan kewaspadaan semua pihak, sebab mungkin gejala ini akan terus mekar
seiring makin kompleks dan kerasnya kehidupan masyarakat di zaman ini dan
Indonesia.
PEMBAHASAN
Dimensi kekerasan
Kekerasan adalah suatu sifat atau keadaan yang mengandung kekuatan , tekanan dan paksaan. Kekerasan
terkait dengan paksaan, yang berarti tekanan yang keras. Kekerasan juga sering
dikaitkan dengan tidakan perkosaan, yakni suatu tindakan menundukkan dengan paksaan dan kekerasan
Dimensi kekerasan bukan hanya fisik, tetapi juga psikologis.
Paksaan juga bukan sekadar memiliki sasaran pada individu, tetapi juga bagi
kelompok dan masyarakat, yang sering disebut kekerasan individual dan sosial
atau struktural.
Kekerasan yang bermotif, sikap, dan tindakan yang melibatkan
aspek-aspek kekuatan, paksaan dan tekanan secara alamiah melekat dengan nafsu
dan perjuangan hidup manusia dalam memperebutkan sumber-sumber kebutuhan hidup,
ekonomi, politik, dan hal-hal yang dipandang berharga dalam kehidupan.
Nafsu untuk melakukan kekerasan bagaikan aliran sungai yang
menembus kemana-mana dalam perkembangan sejarah umat manusia. Jangankan dalam
pergumulan hidup yang profan, dalam kehidupan umat beragama pun dimana nilai
–nilai transendental senantiasa menjadi bagian penting dalam kehidupan , juga
terdapat fenomena kekerasan
Sigmund Freud memandang kekerasan sebagai wujud frustasi dari
suatu dorongan libidinal manusia. Erich Fromm melihat kekerasan sebagai hasil
watak sosial dari penguasaan dan penindasan sewenang-wenang. Reiner Maria Rilke
menunjuk kekerasan sebagai produk frustasi, kemarahan, rasa malu, dan iri hati
yang sumbernya adalah kehidupan yang tidak dihayati oleh manusia. Sedangkan
kaum Marxis mengkaitkan dengan eksploitasi dalam hubungan dengan penguasaan
faktor produksi
Sementara sosiolog melihat kekerasan sebagai bagian dari pola
hubungan sosial yang berwujud dominasi dan subordinasi. Individu atau kelompok
yang memiliki kekuatan dalam bidang apa saja cenderung ingin melakukan dominasi
dan eksplotasi terhadap yang dipandang lemah atau tidak berdaya.Jadi faktor
kekuasaan menjadi sangat menentukan bentuk dan jenis kekerasan(lord acton)
Dengan
demikian kekerasan merupakan suatu keadaan dan sifat yang menghancurkan kehidupan manusia. Manusia sebagai mahkluk
yang berakal-budi dan mulia menjadi terperosok pada sifat-sifat kebinatangan,.
merusak, menekan, memeras dan lain sebagainya
yang merupakan tindakan yang menodai dan menghancurkan kemuliaan manusia
sebagai mahkluk Tuhan. Lebih-lebih manusia melakukan kekerasan secara sadar dan
sistematik, sehingga makin memerosotkan derajat kemanusiaan ketitik paling terendah” asfala safilin”
suatu tempat terhina yang serendah-rendahnya, setelah sebelumnya berada di
puncak kemuliaan dalam maqam “ahsan at-ataqwien” (al-Qur’amn S. at Tiin 4-5)Dan
kekerasan yang timbul itu terjadi karena disebabkan oleh faktor dari individu
dan lingkungan
Disorientasi Mental
Sepertinya
terdapat kecenderungan berjangkitnya penyakit mental dalam struktur kepribadian
sebagian manusia Indonesia saat ini, inilah salah satu penyakit Psikologis yang
Alvin Toffler disebut sebagai Disorientasi mental (future Shock 1970), Penyakit
jenis ini muncul dalam bentuk ketegangan psikologis yang dahsyat dalam
kepribadian manusia akibat berbagai kejutan kejiwaan menghadapi problema
kehidupan terutama karena datangnya sejumlah besar perubahan yang terlampau
cepat, yang mengakibatkan orang mudah sekali kehilangan keseimbangan menghadapi
persoalan stres dan depresi termasuk dalam gejala psikologis ini . Ia merupakan
penyakit kronis dan makin mewabah dalam kehidupan masyarakat modern yang dipacu
oleh berbagai perubahan dalam mobilitas individual yang tinggi , maka timbullah
tindakan-tindakan yang diluar kontrol dan batas-batas kewajaran seperti agresif
dan sadisme.
Penyakit disorientasi mental
biasanya mudah hinggap dan menjadi kekuatan , destruktif yang besar dan
membahayakan dalam pribadi-pribadi yang punya tingkat keseimbangan kejiwaan
rendah termasuk daya tahan moral dan spiritualnya (moralitas agama dan nurani
yang luhur ( budi pekerti / ahklak ).
Dalam kondisi mental yang rawan
seperti ini cuma naluri-naluri
instingtual yang muncul dalam diri manusia. Naluri hewani cenderung brutal dan
memangsa dan bahkan lebih brutal dan ganas daripada hewan.
Disharmoni
Sosial
Dan
bukan faktor psikologis individu saja yang mejadi faktor tunggal dalam
kasus-kasus kejahatan sadistis terdapat
faktor lain yang diproses secara saling mempunyai antara lain
seperti faktor lingkungan sosial seperti melemahkan atau mobilitas
sosial dalam kehidupan masyarakat
berkenaan dengan dinamika kerja pembangunan serta kehidupan kota yang
semangkin tinggi di negeri ini.
Solidaritas dalam kehidupan
masyarakat Indonesia tampaknya mulai renggang atau berubah lebih-lebih dalam
lingkungan sosial perkotaaan. Solidaritas yang kokoh , alamiah, lekat tenggang
rasa , toleran dan bersifat langsung berubah serta digeser oleh oleh hubungan
sosial yang bersifat lemah individualitas organis, renggang berjarak , tidak
langsung dan serba didasarkan atas kepentingan itu seseorang atau kelompok saja
juga potensi-potensi hubungan yang
bersifat kemanusiaan dalam kehidupan masyarakat cenderung melemah menurun atau
mengalami degradasi dan hubungan ketetanggaan cenderung semakin melonggar
bahkan memudar. Hal yang menonjol adalah
gesekan kepentingan uyang mudah sekali menjurus dan menjadi ledakan konflik dalam hubungan antar sesama,
baik dirumah tangga, antar tetangga ,antar kelompok dan lain sebagainya
Solidaritas yang muncul adalah
solidaritas sesaat yang berjarak didasarkan atas kepentingan yang sering sekali
bersifat material dan lahiriah semata maka konflik yang terjadi bisa
meningkat yang bersifat kekerasan,
kejahatan dan itu terjadi cuma dengan faktor pemicu yang sepele yang akan
melahirkan tidakan yang brutal dan diluar kontrol maka manusia menjadi budak
dari pertarungan kehidupan yang mereka ciptakan sendiri inilah yang
lama-kelamaan menimbulkan proses pelemahan fungsi-fungsi sosial dalam sistem
kehidupan masyarakat pranata-pranata sosial, menjadi kehilangan fungsinya atau
setidak-tidaknya mengalami pelemahan fungsi sehingga keseimbangan sistem sosial
menajdi mudah terganggu dan rawan konflik itulah gejala disharmonis sosial yang
menunjukkan krisis dalam kehidupan suatu masyarakat.
Pemecahan-pemecahan
Menghadapi kasus-kasus kekerasan dan kejahatan sosial yang
terkait dalam situasi sosial yang kompleks menuntut adanya fungsi kontrol yang
efektif, sekaligus pembinaan moralitas yang terus-menerus oleh berbagai
institusi yang memiliki otoritas dalam satu kesatuan sistem sosial. Peningkatan
fungsi kontrol sosial dimaksudkan sebagai mengefektifkan funsi-fungsi
kelembagaan sosial tertentu yang berwenang, untuk melakukan pengendalian
sosial, baik bersifat pasif maupun aktif. Seperti aparat keamanan secara tegas
dan efektif dalam menjalankan tugas sesuai dengan kewenangannya. Tuntutan akan
perlunya hukuman berat bagi pelaku kejahatan berat seperti Pembunuhan,
pemerkosaan dan lain sebagainya .Organisasi-organisai atau lembaga-lembaga
kemasyarakatan yang memainkan peran kontrol sosial seperti pers, LSM dan
lain-lain. Juga para tokoh-tokoh keagamaan yang sangat memiliki otoritas untuk
memainkan fungsi pembinaan moral dan spritual bagi anggota masyarakat melalui
berbagai pendekatan yang lebih partisipatif dan empatik
Dan dalam melawan kekerasaan perlu menjadi gerakan politik,
pendidikan , kekeluarga, ekonomi dan kebudayaan. Perlawanan atau pemberantasan
kekerasan bahkan perlu menjadi gerakan keagamaan yang menawarkan perdamaian dan
keselamatan untuk semua
Diantara
pendekatan nya adalah melakukan entitesis terhadap budaya kekerasan dengan
jalam menghadirkan budaya tandingan baru , yaitu budaya perdamaian atau budaya
anti kekerasan. Dengan menumbuhkan budaya perdamaina berarti menindakan budaya
kekerasan atau sama dengan mengembangkan budaya anti kekerasan .Perlawanan
sebagai wujud anti kekerasan bukan terbatas pada sikap pasif berupa menolak
kekerasan, tetapi juga bersikap aktif untuk meniadakan atau melawan kekerasan
dengan mengaktifkan funsi social seperti dijabarkan sebelumnya.
Sebagai normatif, Islam diyakini
oleh para pemeluknya sebagi agama (wahyu Allah ) yang menjadi pedoman hidup
yang total dan meliputi seluruh aspek kehidupan. Aspek-aspek ajaran Islam yaitu
aqidah, ibadah, akhlak dan pergaulan kemasyarakatan. Para pemeluk Islam juga
meyakini bahwa umat Islam yang dicita-citakan dan sebagaimana yang telah
dicontohkan dizaman Nabi Muhammad, adalah umat yang terbaik
كنتم خير
أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله
(
ال عمران 110 )
Kamu sekalian adalah umat terbaik yang diciptakan bagi seluruh
manusia, yang menyuruh kepada kebaikan dan melaramg kemungkaran dan percaya
kepada Allah (surat Ali Imran 110)
Dalam ajaran-ajaran
agama Islam terkandung obat atau cara
yang memberikan terapi bagi yang mengidap gangguan jiwa. Islam juga membahas
aspek yang menjadi sebuah pedoman hidup yang membuat seluruh manusia menjadi
sejahtera dan hidup dalam kedamaian di dunia dan di akhirat, seperti shalat
bisa mengobati hati seseorang yang sedang mengalami kegundahan hati manusia,
karena mengandung aspek Auto-sugesti dan kebersamaan
يا أيها الناس قد جاءتكم موعظة من ربكم وشفاء لما في
الصدور وهدى ورحمة للمؤمنين
سورة يونس
: 57
“ Hai
manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajran dari Tuhanmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit
(yang berada ) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman “
Surat Yunus : 57
…قل هو للذين آمنوا هدى وشفاء
“… katakanlah : Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi
orang-orang yang beriman ….” Surat
Fushilat : 44
وننزل من القرآن ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين ولا يزيد
للظالمين إلا خسارا
(سورة الإسراء 82)
“ Dan kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi
penawar dan rahmat bagi orang-oraang yang zalim kecuali kerugian “ Surat
Al-Isra : 82
Selain
terapi yang bersifat kuratif, agama juga memiliki aspek preventif terhadap
gangguan jiwa. Adanya perintah Allah untuk memelihara persaudaran sesama
manusia (ukhuwah), saling memenuhi kebutuhan, saling merasakan penderitaan dan
kesenangan orang lain akan menjaga kemungkinan terjadinya gangguan jiwa
Dalam
bidang psikologi akhir-akhir ini berkembang psikologi komunitas yang tujuannya
ialah melakukan usaha preventif bagi lahirnya gangguan jiwa dalam masyarakat.
Kesimpulan
Masalah
kekerasan dalam kehidupan merupakam masalah yang kompleks dalam mengatasi
masalah ini harus ada kerjasama antara seluruh fungsi sosialdan tidak bisa
berjalan secara sektoral. Juga bisa secara aktif dan pasif.Dan sebenarnya Islam
sudah mempunyai konsep namun tidak diterapkan secara menyeluruh dan semaksimal mungkin.
SOLUSI KEKERASAN DALAM PERSEKTIF ISLAM
Kejadian-kejadian
yang menyakut kekerasan, perkelahian pelajar massa dan pembantaian sungguh
sangat menghentakan kesadaran kita sebagi bangsa berbudaya , bangsa yang berfalsafah
Pancasila dan beragama ini , suatu tragedi yang mengerikan yang terjadi
dimasyarakat Indonesia saat ini, sehingga sadisme makin hari makin tumbuh
dengan indikasi –indikasi yang banyak ditemukan di media massa : surat kabar
dan televisi contohnya
Sudah
sedemikian sakitkah sebagian manusia dan masyarakat Indonesia, sampai mereka
bertindak sedemikian agresif dan sadis kadang hanya karena soal sepele.
Oleh
sebab ini disini pemakalh ingin membeberkan permasalahan ini sebagai bahan
renungan dan kewaspadaan semua pihak, sebab mungkin gejala ini akan terus mekar
seiring makin kompleks dan kerasnya kehidupan masyarakat di zaman ini dan
Indonesia.
Dimensi kekerasan
Kekerasan
alah suatu sifata atau keadaan yang mengandung
kekuatan , tekanan dan paksaan. Kekerasan terkai dengan paksaan, yang
berarti tekanan yang keras. Kekerasan juga sering dikaitkan dengan tidakan
perkosaan, yakni suatu tindakan menundukkan
dengan paksaan dan kekerasan
Dimensi
kekerasan bukan hanya fisik, tetapi juga psikologis.Paksaan juga bukan sekadar
memilii sasaran pada individu, tetapi juga bagi kelompok dan masyarakat, yang
sering disebut kekerasna individual dan sosial atau struktural.
Kekerasan
yang bermotif, sikap, dan tindakan yang mel;ibatkan aspek-aspek kekuatan,
paksaan dan tekanan secara alamiah melekat dengann nafsu dan perjuangan hidup
manusia dalam memperebutkan sumber-sumber kebutuhan hidup, ekonomi, politik,
dan hal-hal yang dipandang berharga fdalam kehidupan.
Sigmund
Freud memandang kekrasan sebagi wujud frustasi dari suatu dorongan libidinal
manusia. Erich Fromm melihat kekrasan sebagai hasil watak sosial dari
penguasaan dan penindasan sewenang-wenang. Reiner maria Rilke menunjuk
kekerasan sebagai prioduk frustasi, kemarahan, rasa malu, dan iri hati yang
sumbernya adalah kehidupan yang tidak dihayati oleh manusia. Sedangkan kaum
Marxis mengkaitkan dengan eksploitasi dalam hubungan dengan penguasaan faktor
produksi
Sementara
sosiolog melihat kekerasan sebagai bagian dari pola hubungan sosiak yang
berwujud sominasi dan subordinasi.Individu atau kelompok yang memiliki kekuatan
dalam bidang apa saja cenderung ingin melakukan dominasi dan eksplotasi
terhadap yang dipandang lemah atau tidak berdaya.Jadi faktor kekuasaan menjadi
sangat menentukan bentuk dan jenis kekerasan(lord acton)
Sepertinya
terdapat kecenderungan berjangkitnya penyakit mental dalam struktur kepribadian
sebagian manusia Indonesia saat ini, inilah salah satu penyakit Psikologis yang
Alvin Toffler disebut sebagai Disorientasi mental (future Shock 1970), Penyakit
jenis ini muncul dalam bentuk ketegangan psikologis yang dahsyat dalam
kepribadian manusia akibat berbagai kejutan kejiwaan mengahadapi problema
kehidupan terutama karena datangnya sejumlah besar perubahan yang terlampau
cepat,yang mengakibatkan orang mudah sekali kehilangan keseimbangan menrghadapi
persoalan stres dan depresi termasuk dalam gejala psikologis ini . Ia merupakan
penyakit kronis dan makin mewabah dalam kehidupan masyarakat modern yang dipacu
oleh berbagai perubahan dalam mobilitas individual yang tinggi , maka timbullah
tindakan –tindakan yang diluar kontrol dan batas –batas kewajaran seperti
agresif dan sadisme.
Penyakit disorientasi mental
biasanya mudah hinggap dan menjadi kekuatan , destruktif yang besar dan membahayakan
dalam pribadi-pribadi yang punya tingkat keseimbangan kejiwaan rendah termasuk
daya tahan moral dan spiritualnya (moralitas agama dadn nurani yang luhur.
Dalam kondisi mental yang rawan
seperti ini cuma naluri-naluri
instingtual yang muncul dalam diri manusia. Naluri hewani cenderung brutal dan
memangsa dan bahkan lebih brutal dan ganas daripada hewan.
Disharmoni Sosial
Dan
bukan faktor psikologis individu saja yang mejadi faktor tanggal dalam
kasus-kasus kejahatan sadistis terdapat
faktor lain yang diproses secara saling mempunyai antara lain
seperti faktor lingkungan sosial sperti nmelemahkan atau mobilitas
sosial dalam kehidupan masyarakat
berkenaan dengan dinamika kerja pembangunan esrta kehidupan kota yang
semangkin tinggi di negeri ini.
Solidaritas dalam kehidupan
masyarakat Indonesia tampaknya mulai renggang atau berubah lebih-lebih dalam
lingkungan sosial perkotaaan. Solidaritas yang kokoh , alamiah, lekat tenggang
rasa , toleran dan bersifat langsung berubah serta digeser oleh oleh hubungan
sosial yang bersifat lemah individualitas organis, renggang berjarak , tidak
langsung dan serba didasarkan atas kepentingan itu seseorang atau kelompok saja
juga potensi-potensi hubungan yang
beresifat kemanusiaan dalam kehidupan masyarakat cenderung melemah menurun atau
mengalami degradasi dan hubungan ketetanggaan cenderung semakin melonggar
bahkan memudar. Hal yang menonjol adalah
gesekan kepentingan uyang mudah sekali menjurus dan menjadi ledakamn konflik dalam hubungan antar sesama,
baik dirumah tangga, antar tetangga ,antar kelompok dan lain sebagainya
Solidaritas yang muncul adalah
solidaritas sesaat yang berjarak didasarkan ats kepentingan yang seering sekali
bersifat material dan lahiriah semata maka konflik yang terjadi bisa meningkat yang bersifat kekerasan, kejahatan dan itu
terjadi cuma denagan faktor pemicu yang sepele yang akan melahirkan tidakan
yang brutal dan diluar kontrol maka manusia menjadi budak dari pertarungan
kehidupan yang mereka ciptakan sendiri inilah yang lama-kelamaan menimbulkan
proses pelemahan fungsi-fungsi sosial dalam ssistem kehidupan masyarakat
pranata-pranata sosial, menjadi kehilangan fungsinya atau setidak-tidaknya
mengalami pelemahan fungsi sehingga keseimbangan sistem sosial menajdi mudah
terganggu dan rawan konflik itulah gejala disharmonis sosial yang menunjukkan
krisis dalam kehidupan suatu masyarakat.
يا أيها
الناس قد جاءتكم موعظة من ربكم وشفاء لما في الصدور وهدى ورحمة للمؤمنين
قل هو
للذين آمنوا هدى وشفاء
وننزل من
القرآن ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين ولا يزيد للظالمين إلا خسارا (سورة الإسراء 82)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar