Belajar Naik Bus
Setidaknya telah
ada 8.085 anak sekolah yang mengikuti 'kursus' naik bus Transjakarta. Mereka tercatat sejak busway diluncurkan di Jakarta pada Januari
2004 hingga September 2005 ini. Dari program khusus ini, Badan Pengelola
Transjakarta paling tidak mendapat Rp 20.212.500.
Badan Pengelola Transjakarta merasa perlu
menyosialisasikan tata cara bertransportasi. Mereka diajari antre beli tiket,
cara memasukkan tiket ke mesin pembuka palang pintu ke ruang tunggu, cara masuk
ke bus dengan mendahulukan penumpang turun, tidak berdiri bersandar di pintu
bus, dan sebagainyaa, termasuk cara melihat rambu-rambu. Anak-anak sekolah yang
didampingi para guru itu tentu juga harus membayar tiket bus seharga Rp 2.500
sebelum mereka meluncur lewat jalur khusus dari Blok M ke Kota.
Mendengar program pendidikan transportasi
dari BP Transjakarta ini, saya lantas teringat pengalaman sehari setelah
menginjakkan kaki di Washington DC, Amerika Serikat. ''Kita dianggap orang
kampung,'' kata seorang rekan dari Semarang, sambil tersenyum getir.
Bukan apa-apa. Pukul 08.00 pagi kami
berangkat dari hotel menuju stasiun metro (subway). Ketika turun lewat
eskalator saya berdiam di sebelah kiri. Di Jakarta saya terbiasa begitu,
sehingga jalur kanan bisa dipakai oleh orang yang tergesa-gesa. Tapi rupanya
posisi saya salah. ''Jalur kiri untuk jalur cepat, kalau berdiam di sebelah
kanan saja,'' kata escort memeringatkan.
Perihal naik eskalalator, di Indonesia saya
tak berhasil menularkan tata cara yang baik. Ketika beramai-ramai naik
eskalator saya sering menganjurkan agar semuanya berada di satu sisi, sehingga
sisi lain bisa digunakan oleh orang yang terburu-buru. Tapi, selalu saja banyak
orang senang bergerombol di eskalator sehingga menutup seluruh sisi.
Seorang kolega di Mataram bercerita, saat
di sana diresmikan sebuah mal, masyarakat pun berbondong-bondong
mengunjunginya, hanya untuk mencoba eskalator. Setiap hari banyak antre di
depan eskalator untuk mencapai lantai berikutnya. Banyak yang takut untuk
menginjakkan kaki ke tangga eskalator yang sudah berjalan itu. Mereka pun
menginjakkan kaki ragu-ragu, dan alhasil, banyak yang jatuh. Tapi, bukan malu
yang mereka dapatkan, melainkan derai tawa, karena bukan satu-dua orang yang
terjatuh.
Lepas dari eskalator, escort meminta kami
untuk memegang uang 10 dolar AS. ''Kita akan membeli tiket metro,'' ujar dia.
Ia pun kemudian memandu satu per satu dari kami, mulai dari cara memasukkan
dolar ke mesin, memencet angka harga tiket yang kita pilih, sampai tempat tiket
akan keluar dari mesin. Kami pun diberi tahu cara mengisi ulang tiket jika
sudah nilai dolar di tiket itu sudah tak mencukupi untuk dipakai naik metro.
''Bagus-bagus, kalian cepat belajar,'' kata escort 'memuji' kami, setelah semua
dari kami memegang tiket.
Kami pun diajari cara memasukkan tiket ke
lubang mesin untuk membuka palang pintu, termasuk memberi tahu tempat mengambil
tiket yang telah kami masukkan. Bahkan, kami pun diberi tahu mana palang pintu
untuk masuk dan mana untuk keluar stasiun, dengan memperkenalkan rambu yang
tertera, meski tanpa diberitahu pun sebenarnya sudah tahu. Kami merasa menjadi
orang bodoh saat itu. Tapi, ketika ia melihat kamera digital yang kami bawa, ia
bilang, ''O, kameranya lebih canggih dari kamera saya. Hebat kalian.''
Saat menunggu kereta datang, kami pun masih
menerima briefing. Diberitahu agar tidak langsung menyerbu di depan pintu,
karena bisa menutup jalan bagi penumpang yang akan turun kereta. Diberitahu
untuk mendulukan penumpang turun, baru setelah itu giliran kami masuk.
Pemandangan yang ada begitu tertib. Ketika
kami tiba di stasiun tertuju, calon penumpang pun tak ada yang berebut naik,
melainkan membiarkan kami turun, baru mereka naik. Metro di Washington DC
begitu tertib, begitu kontras dengan metro di New York. Untuk mencapai stasiun
bawah tanah di New York, kami harus menapaki tangga yang kotor, bukan
eskalator. Di sini tak perlu 'kursus' membeli tiket, karena tiket dibeli di
loket. Tapi ada satu pesan, yang telah sering kita dengar di Jakarta.
''Perhatikan barang bawaan, karena di sini juga ada copet,'' kata escort.
Di Jakartaa, para pencopet mau berkorban
untuk bisa beroperasi di bus Transjakarta. Selain harus membeli tiket, mereka
juga tampil rapi: berpakaian ala orang kantoran, plus dasi mengikat leher,
menyesuaikan dengan pakaian penumpang. Para pencopet dan penumpang lain,
sama-sama sering abai aturan. Mereka berebut masuk ke bus, sehingga penumpang
yang mau turun terhambat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar