Motivation

Kamis, 25 Agustus 2016

KISAH PENUH HIKMAH



PELAJARAN DARI ALAM
Oleh: M. Dzaki Ismail El-Jambie

Banjir lagi……. Banjir lagi…… ! itulah yang sedang melanda beberapa tempat di tanah air kita akhir-akhir ini. Jakarta, Bogor, Bekasi dilanda banjir, di Tangerang tak satupun kecamatan yang luput dari musibah banjir ini, Mojokerto dan Bojonegoro juga dilanda musibah yang sama. Beberapa waktu yang lalu kota Medan, Padang, Jambi, Sulawesi Selatan juga dilanda musibah yang sama, jembatan-jembatan rusak disertai genangan air di berbagai ruas jalan dan rel kereta api, berbagai transportasi lumpuh, sudah puluhan ribu rumah terendam, kerugian material pun sudah tak terhitung jumlahnya. (Republika, 29/01/2002). Gelombang pengungsipun tak bisa dihindarkan lagi, rakyat kecil semakin sengsara karena tempat tinggal mereka satu-satunya terendam genangan air bahkan seisi rumah mereka ikut terbawa arus banjir tersebut. Kegiatan belajar mengajar di beberapa sekolah pun ikut terhambat. Belum puas dengan mengirim banjir, alam kembali menunjukkan kebolehannya, Pejaten, Jakarta Selatan di guncang tanah longsor, gempa tektonik berkekuatan 5,1 pada skala Richter (SR) juga mengguncang Bengkulu. Kenapa ini semua harus terjadi? Benarkah alam sudah bosan untuk bersahabat dengan manusia? Apakah yang telah kita lakukan sehingga alam begitu marah kepada kita tanpa pilih kasih?.
Penyebab dari itu semua tidak lain adalah ulah dari tangan-tangan manusia itu sendiri, semua orang akan mengerti, bila hutan di hulu sungai dan lereng gunung dibabat, maka banjir dan tanah longsor akan terjadi. Begitu pula jika sampah dibuang ke sungai atau selokan, atau bila sungai dipersempit dengan membangun rumah ditepinya, maka banjir segera menerjang. Jika daerah hulu dan pegunungan sudah tidak mampu menahan air lagi, maka terjadilah sunnatullah : air akan mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, nah, jika masalahnya sesederhana itu, mestinya manusia bisa memakai akalnya untuk menghadapi hujan selebat apapun. Tapi mengapa kita tidak mampu melakukan itu? Sudahkah kita menggunakan akal kita?
Pada suatu hari diwaktu shubuh, Setelah mengumandangkan adzan di Masjid Madinah, lama Bilal menanti kehadiran Rasulullah SAW keluar dari peraduannya untuk shalat berjamaah, namun Rasul belum juga muncul. Karena itu, pergilah Bilal menemuinya, antara perasaan cemas kalau-kalau Rasul yang amat dicintainya jatuh sakit. Sesudah minta izin kepada Siti Aisyah, Bilal segera menuju ke kamar tidur Rasulullah SAW. Ketika sampai dimuka pintu, Bilal melihat ke dalam, kamar yang sederhana tanpa ada kasur tebal, tanpa  ada bantal bersulam yang indah melainkan hanya seonggok rumput kering di sudut kamar beliau, itulah kekayaan Rasul kita, sebagai Pemimpin dunia yang telah menggerakkan revolusi yang paling berhasil dalam sejarah kemanusiaan selama dunia berkembang.  
Didapatinya Rasulullah SAW sedang duduk di atas sajadah menghadap Qiblat, menangis tersedu-sedu. Bertanya Bilal, "Ya Nabiyallah, apakah gerangan yang menyebabkan engkau menangis? Padahal kalau ada kesalahanmu, baik dahulu ataupun nanti, akan diampuni oleh Allah SWT". Kemudian Rasulullah SAW menjawab, "Wahai Bilal, tengah malam telah datang Jibril AS membawa wahyu kepadaku dari Allah SWT, demikian bunyinya." : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran 3:190-191). Rasulullah SAW melanjutkan, Sengsara hai Bilal!   bagi orang yang membaca akan ayat ini lalu tidak difikirkannya.
Firman Allah dalam QS. Ali Imran 3 : 190-191 di atas dan ungkapan Nabi tersebut mengandung makna yang dalam bagi kita untuk senantiasa merenung dan memikirkan Fenomena alam yang terjadi di sekeliling kita, terutama disaat banyaknya bencana yang menimpa sebagian kita seperti akhir-akhir ini, seakan-akan alam betul-betul sudah bosan untuk bersahabat dengan kita.
Sebagian kita mungkin berfikir bahwa itu semua terjadi karena kehendak Allah SWT (Sunnatullah). Namun apabila kita merujuk kembali ke firman Allah SWT diatas, dapat diambil beberapa pelajaran yang amat berharga bagi kita. Pertama, bahwa segala apa yang terjadi di bumi ini dan diatas langit sana baik di siang hari maupun di malam hari adalah sebuah tanda dari kekuasaan Allah SWT, agar manusia sadar bahwa dibalik segala kemampuan manusia ada yang lebih mampu lagi yakni Allah SWT, oleh karena itu tidak pantas bagi manusia untuk bersombong diri sehingga lupa kepada penciptanya sendiri, lupa untuk mengingat dan berdzikir kepada-Nya. Merasa mampu berbuat segala-galanya dan melupakan tujuan utama diciptakannya manusia yakni untuk beribadah kepada-Nya. Dan tidak kami (Allah) ciptakan mausia dan jin kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku (Al-Quran). Kedua,  merupakan pelajaran serta peringatan bagi manusia, sudahkah mereka mengelola alam ini dengan benar dan sesuai dengan syari’at Allah SWT. Karena pengeloalaan alam yang salah akan menimbulkan kehancuran bagi manusia itu sendiri. Kita lihat, pembatatan hutan yang berlebihan dan penggundulan lereng-lereng gunung tanpa henti serta perubahan fungsi hutan lindung menjadi hutan produksi akan membuat daerah tersebut tidak mampu lagi menahan curah hujan yang turun, maka banjir dan tanah longsor pun tak dapat dihindarkan lagi. Sementara hasilnya hanya dinikmati oleh pejabat dan pengusaha tertentu, sedangkan akibatnya kembali kepada rakyat kecil. Belum lagi penyedotan air tanah seenak perut sendiri oleh gedung-gedung jangkung dan rumah-rumah seperti yang terjadi di Jakarta, juga pembangunan pemukiman-pemukiman sah, yang dilaksanakan pada masa Orde Baru banyak tak memperdulikan kelestarian lingkungan ikut andil besar dalam musibah banjir ini.  Ini semua merupakan salah satu bentuk penyelewengan yang dilakukan oleh manusia terhadap alam sekitarnya.
Oleh karena itu sudah seyogyanya bagi kita untuk kembali mengevaluasi langkah-langkah yang telah kita lakukan selama ini, agar kedepan menjadi lebih profesional dan sesuai syari’at, mengingat peran kita sebagai khalifatullah fil ardhi yang bertanggung jawab penuh untuk melestarikan dan memakmur bumi ini, agar terhindar dari berbagai bencana. Benarlah apa yang diungkapkan oleh Rasulullah SAW, akan sengsara orang-orang yang tidak mau menggunakan akalnya untuk berfikir dan berdzikir dalam rangka mengingat Allah SWT dan mensyukuri ni’mat-Nya sesuai dengan tuntunan syari’at yang telah diajarkan oleh-Nya. Wallahu’alamu bisshowab.








Berfikir dan bertindak dalam Spirit Islam

            Berfikir adalah proses menseving, mengingat, menganalisi dan mendeduksi  berbagai  informasi yang  eksternal dan internal sehingga menjadi sebuah konsep gagasan (Ide) yang menjadi  motivasi dan tindakan. Hanya dengan berfikir, manusia mampu  mengarahkan hidupnya pada dimensi waktu, dimensi kemanusian/ humanisme, dan dimensi alam mendayagunakan  maksimal seluruh dimensi tersebut  untuk mereplace existensi dirinya dalam misi hidupnya, apaka dia akan  mulya atau hina, sukses atau gagal, dihargai atau justru dilecehkan, semua itu titik ponintunya dari cara kita berfikir.

            Kalaupun kata Iqraa sampai saat ini diterjemahkan  dengan arti “Membaca” ini pun  berarti   menghimpun huruf  yang disusun  sedemikian  rupa  sehingga  memberikan  makna. Sebagai contoh  ,anda ingin   memperingatkan sesuatu  bahaya tetapi  cara anda  menghimpun  huruf-huruf nya  tidak benar, kemudian  anda berteriak “Wasa,wasa. Mahariu”
Padahal yang anda maksud adalah “Awas, awas harimau”
            Kata iqra dikuti dengan “Bismirabbikalladzi khalaq” seakan-akan memberikan informasi kepada alam fikiran  /reason  kita bahwa methode  yang benar  untuk berfikir  adalah berdasarkan  “Rabb” (yang menjadi rootwood terlebih  artinya “ pendidikan, pembinaan )
            Al-Qur’an memberi  predikat  ulul-albab(Al-Imran 190-191)
Yakni sosok manusia  yang mampu mempergunakan  potensi akal .
 Dan fikirannya untuk mengelaborasi seluruh  fenomena  alam yang  tampak  dan tidak  tampak (Al-haqqah 38-39).Sebagai induksi dirinya  bersyukur .Bersyukur dapat bermakna  semacam rehabilitasi, reformasi, restorasi, dan rekonsolidasi sekaligus  reinforcement diri untuk mempergunakan  seluruh aspek yang dimilikinya  dijalan Allah    Swt.
            Bersyukur berarti sebuah komitment  untuk melakukan perenungan diri  yang mendalam  sehingga mengkonstribusikan  direksi   untuk bertindak  dan berbuat .Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban  bahwa rasulullah Saw  bersabda: “bahwa  berfikir  sesuatu lebih baik pada ibadah seratus tahun”(ibnu Hibban).
            Hadist diatas  adalah  sebuah  bahasa  metaforis yang  memberikan  aspirasi  tinggi  a orang-orang  yang mempergunakan pikirannya untuk rekonstruksi  ummat  yang sebagai  indikasi syukur  kepada Allah .
Pantaslah  seorang pujangga  berkata”Dirimu adalah  apa yang kau pikirkan” Seorang filhosof  tenar mengatakan “Largito  ergo sum” aku Individu muslim  harus mendasarkan dirinya  pada  retorika  berfikir Qur’ani dan bertindak serta berkarakteristik  islami, yaitu  sebuah tata  cara  prikehidupan   yang didasari  dan disengajakan  untuk mengubah  dunia dengan  pantulan  fibrasi al-qur’ani.
            Pikiranlah yang mendetriminasi , apakah  anda mau bertindak atau diam  sebagai penonton . Pikiran pula yang  mengawali , apakah  anda  akan menjadi  orang disiplionir   tinggi  ataukah  anda akan  menjadi  orang  yang melanggarnya, pikiranlah  yang menentukan , apakah  anda  berfiir Qur’ani   atau jahihli.
            Harua ada  keyakinan (Confedernce) yang diri kitas   jak  di ke bahwa tidak ada  sesuatu  yang tidak  mungkin untuk dikerjakan  selama kita yakin untuk melaksanakannya . Menanamkan sugesti  serta keyakinan  didalam fikiran  merupakan  sikap positif  konstruktif  dalam bentuk  doktrin “aku adalah  penentu  taqdir dan akulah komandan jiwaku.
            Sementara itu kwalitas  eksperien  personal  sangat  menentukan  kwalitas  berfikir  dan bertindak  yang secara  aktualnya  dimanifestasikan  dalam kehidupannya.
Dibenak fikiran kita  bahwa fikiran  akan menentukan  tindakan .
Seluruh tindakan  kita merupakan mata rantai yang mengikat satu kekuatan untuk mencapai  keberhasilan . para pemenang tidak dilahirkan, tetapi mereka lahir  dengan upayanya  serta dengan usahanya .
            Allah swt  telah  memberikan  peluang  kepada kita  untuk  menjadi winner dalam  percaturan  kehidupan ini . Ummat islam  didorong  untuk trampil  semangat   berkompetisi (Fastabiqul Khairat) kitapun dipanggil  untuk trampil  sebagai khairah ummat . menjadi ummat yang terbaik    hal itu hanya  mungkin  apabila  dalam  benak kita  ada semacam  optimisme dan  keyakinan  yang mendalam “berfikir dan bertindak  bagaikan pemenang (think and act like winner)
Seorang yang berfikir  positif  akan tampak dari tindakannya yang fositip pula
Begitu pula orang yang berfikir  negatif  akan bertindak negatif pula , apabila anda berfikir  tidak mungkin   kalah. Bila anda merasa takut , kecut  menghdapi lawan  ,berarti  anda telah  kalah sebelum  berperang, bila anda berfikir  bisa  anda bisa. Bila  berfikir  tidak bisa  ,tentu saja tidak bisa
If you think  you can, you can , and if  you thank can’t ,you can’t



Tidak ada komentar:

Posting Komentar