PELAJARAN DARI ALAM
Oleh: M. Dzaki Ismail El-Jambie
Banjir lagi……. Banjir lagi…… ! itulah yang sedang
melanda beberapa tempat di tanah air kita akhir-akhir ini. Jakarta, Bogor,
Bekasi dilanda banjir, di Tangerang tak satupun kecamatan yang luput dari musibah
banjir ini, Mojokerto dan Bojonegoro juga dilanda musibah yang sama. Beberapa
waktu yang lalu kota Medan, Padang, Jambi, Sulawesi Selatan juga dilanda
musibah yang sama, jembatan-jembatan rusak disertai genangan air di berbagai
ruas jalan dan rel kereta api, berbagai transportasi lumpuh, sudah puluhan ribu
rumah terendam, kerugian material pun sudah tak terhitung jumlahnya. (Republika,
29/01/2002). Gelombang pengungsipun tak bisa dihindarkan lagi, rakyat kecil
semakin sengsara karena tempat tinggal mereka satu-satunya terendam genangan
air bahkan seisi rumah mereka ikut terbawa arus banjir tersebut. Kegiatan
belajar mengajar di beberapa sekolah pun ikut terhambat. Belum puas dengan
mengirim banjir, alam kembali menunjukkan kebolehannya, Pejaten, Jakarta Selatan
di guncang tanah longsor, gempa tektonik berkekuatan 5,1 pada skala Richter
(SR) juga mengguncang Bengkulu. Kenapa ini semua harus terjadi? Benarkah alam sudah bosan untuk bersahabat dengan manusia?
Apakah yang telah kita lakukan sehingga alam begitu marah kepada kita tanpa
pilih kasih?.
Penyebab dari itu semua tidak lain adalah ulah dari
tangan-tangan manusia itu sendiri, semua orang akan mengerti, bila hutan di
hulu sungai dan lereng gunung dibabat, maka banjir dan tanah longsor akan
terjadi. Begitu pula jika sampah dibuang ke sungai atau selokan, atau bila
sungai dipersempit dengan membangun rumah ditepinya, maka banjir segera
menerjang. Jika daerah hulu dan pegunungan sudah tidak mampu menahan air lagi,
maka terjadilah sunnatullah : air akan mengalir dari tempat yang tinggi
ke tempat yang rendah, nah, jika masalahnya sesederhana itu, mestinya manusia
bisa memakai akalnya untuk menghadapi hujan selebat apapun. Tapi mengapa kita
tidak mampu melakukan itu? Sudahkah kita menggunakan akal kita?
Pada suatu hari diwaktu shubuh, Setelah mengumandangkan adzan di Masjid
Madinah, lama Bilal menanti
kehadiran Rasulullah SAW keluar dari peraduannya untuk
shalat berjamaah, namun Rasul belum juga muncul. Karena
itu, pergilah Bilal menemuinya, antara perasaan cemas
kalau-kalau Rasul yang amat dicintainya jatuh sakit.
Sesudah minta izin kepada Siti Aisyah, Bilal segera menuju
ke kamar tidur Rasulullah SAW. Ketika sampai dimuka pintu,
Bilal melihat ke dalam, kamar yang sederhana tanpa
ada kasur tebal, tanpa ada bantal
bersulam yang indah melainkan hanya seonggok
rumput kering di sudut kamar beliau, itulah kekayaan Rasul kita,
sebagai Pemimpin dunia yang telah menggerakkan revolusi
yang paling berhasil dalam sejarah kemanusiaan
selama dunia berkembang.
Didapatinya Rasulullah SAW sedang duduk di atas sajadah menghadap Qiblat, menangis
tersedu-sedu. Bertanya Bilal, "Ya
Nabiyallah, apakah gerangan yang menyebabkan
engkau menangis? Padahal kalau ada kesalahanmu,
baik dahulu ataupun nanti, akan diampuni oleh
Allah SWT". Kemudian
Rasulullah SAW menjawab, "Wahai Bilal, tengah malam
telah datang Jibril AS membawa wahyu kepadaku dari Allah
SWT, demikian bunyinya." : Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi
orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat
Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan
langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami,
tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha
Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
(QS. Ali Imran 3:190-191). Rasulullah SAW
melanjutkan, Sengsara hai Bilal! bagi orang yang
membaca akan ayat ini lalu tidak difikirkannya.
Firman Allah dalam QS. Ali Imran 3 : 190-191 di atas dan ungkapan Nabi tersebut
mengandung makna yang dalam bagi kita
untuk senantiasa merenung dan memikirkan Fenomena
alam yang terjadi di sekeliling kita, terutama disaat banyaknya bencana yang
menimpa sebagian kita seperti akhir-akhir ini, seakan-akan alam betul-betul
sudah bosan untuk bersahabat dengan kita.
Sebagian kita mungkin berfikir bahwa itu semua terjadi
karena kehendak Allah SWT (Sunnatullah). Namun apabila kita merujuk
kembali ke firman Allah SWT diatas, dapat diambil beberapa pelajaran yang amat berharga
bagi kita. Pertama, bahwa segala apa yang terjadi di bumi ini dan diatas
langit sana baik di siang hari maupun di malam hari adalah sebuah tanda dari
kekuasaan Allah SWT, agar manusia sadar bahwa dibalik segala kemampuan manusia
ada yang lebih mampu lagi yakni Allah SWT, oleh karena itu tidak pantas bagi
manusia untuk bersombong diri sehingga lupa kepada penciptanya sendiri, lupa
untuk mengingat dan berdzikir kepada-Nya. Merasa mampu berbuat segala-galanya
dan melupakan tujuan utama diciptakannya manusia yakni untuk beribadah
kepada-Nya. Dan tidak kami (Allah) ciptakan mausia dan jin kecuali hanya
untuk beribadah kepada-Ku (Al-Quran). Kedua, merupakan pelajaran serta peringatan bagi
manusia, sudahkah mereka mengelola alam ini dengan benar dan sesuai dengan
syari’at Allah SWT. Karena pengeloalaan alam yang salah akan menimbulkan
kehancuran bagi manusia itu sendiri. Kita lihat, pembatatan hutan yang
berlebihan dan penggundulan lereng-lereng gunung tanpa henti serta perubahan
fungsi hutan lindung menjadi hutan produksi akan membuat daerah tersebut tidak
mampu lagi menahan curah hujan yang turun, maka banjir dan tanah longsor pun
tak dapat dihindarkan lagi. Sementara hasilnya hanya dinikmati oleh pejabat dan
pengusaha tertentu, sedangkan akibatnya kembali kepada rakyat kecil. Belum lagi
penyedotan air tanah seenak perut sendiri oleh gedung-gedung jangkung dan
rumah-rumah seperti yang terjadi di Jakarta, juga pembangunan
pemukiman-pemukiman sah, yang dilaksanakan pada masa Orde Baru banyak tak
memperdulikan kelestarian lingkungan ikut andil besar dalam musibah banjir
ini. Ini semua merupakan salah satu
bentuk penyelewengan yang dilakukan oleh manusia terhadap alam sekitarnya.
Oleh karena itu sudah seyogyanya bagi kita untuk kembali
mengevaluasi langkah-langkah yang telah kita lakukan selama ini, agar kedepan
menjadi lebih profesional dan sesuai syari’at, mengingat peran kita sebagai khalifatullah
fil ardhi yang bertanggung jawab penuh untuk melestarikan dan memakmur bumi
ini, agar terhindar dari berbagai bencana. Benarlah apa yang diungkapkan oleh
Rasulullah SAW, akan sengsara orang-orang yang tidak mau menggunakan akalnya
untuk berfikir dan berdzikir dalam rangka mengingat Allah SWT dan mensyukuri
ni’mat-Nya sesuai dengan tuntunan syari’at yang telah diajarkan oleh-Nya.
Wallahu’alamu bisshowab.
Berfikir dan bertindak dalam
Spirit Islam
Berfikir adalah
proses menseving, mengingat, menganalisi dan mendeduksi berbagai
informasi yang eksternal dan
internal sehingga menjadi sebuah konsep gagasan (Ide) yang menjadi motivasi dan tindakan. Hanya dengan berfikir,
manusia mampu mengarahkan hidupnya pada
dimensi waktu, dimensi kemanusian/ humanisme, dan dimensi alam mendayagunakan maksimal seluruh dimensi tersebut untuk mereplace existensi dirinya dalam misi
hidupnya, apaka dia akan mulya atau
hina, sukses atau gagal, dihargai atau justru dilecehkan, semua itu titik ponintunya dari cara kita
berfikir.
Kalaupun kata Iqraa sampai saat ini
diterjemahkan dengan arti “Membaca” ini
pun berarti menghimpun huruf yang disusun
sedemikian rupa sehingga
memberikan makna. Sebagai
contoh ,anda ingin memperingatkan sesuatu bahaya tetapi
cara anda menghimpun huruf-huruf nya tidak benar, kemudian anda berteriak “Wasa,wasa. Mahariu”
Padahal yang anda
maksud adalah “Awas, awas harimau”
Kata iqra dikuti dengan
“Bismirabbikalladzi khalaq” seakan-akan memberikan informasi kepada alam
fikiran /reason kita bahwa methode yang benar
untuk berfikir adalah
berdasarkan “Rabb” (yang menjadi
rootwood terlebih artinya “ pendidikan,
pembinaan )
Al-Qur’an memberi predikat
ulul-albab(Al-Imran 190-191)
Yakni sosok
manusia yang mampu mempergunakan potensi akal .
Dan fikirannya untuk mengelaborasi
seluruh fenomena alam yang
tampak dan tidak tampak (Al-haqqah 38-39).Sebagai induksi
dirinya bersyukur .Bersyukur dapat
bermakna semacam rehabilitasi,
reformasi, restorasi, dan rekonsolidasi sekaligus reinforcement diri untuk mempergunakan seluruh aspek yang dimilikinya dijalan Allah Swt.
Bersyukur berarti sebuah
komitment untuk melakukan perenungan
diri yang mendalam sehingga mengkonstribusikan direksi
untuk bertindak dan berbuat
.Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban bahwa
rasulullah Saw bersabda: “bahwa berfikir
sesuatu lebih baik pada ibadah seratus tahun”(ibnu Hibban).
Hadist diatas adalah
sebuah bahasa metaforis yang memberikan
aspirasi tinggi a orang-orang
yang mempergunakan pikirannya untuk rekonstruksi ummat
yang sebagai indikasi syukur kepada Allah .
Pantaslah seorang pujangga berkata”Dirimu adalah apa yang kau pikirkan” Seorang filhosof tenar mengatakan “Largito ergo sum” aku Individu muslim harus mendasarkan dirinya pada
retorika berfikir Qur’ani dan
bertindak serta berkarakteristik islami,
yaitu sebuah tata cara prikehidupan
yang didasari dan
disengajakan untuk mengubah dunia dengan
pantulan fibrasi al-qur’ani.
Pikiranlah yang mendetriminasi ,
apakah anda mau bertindak atau diam sebagai penonton . Pikiran pula yang mengawali , apakah anda
akan menjadi orang
disiplionir tinggi ataukah
anda akan menjadi orang
yang melanggarnya, pikiranlah
yang menentukan , apakah
anda berfiir Qur’ani atau jahihli.
Harua ada keyakinan (Confedernce) yang diri kitas jak
di ke bahwa tidak ada sesuatu yang tidak
mungkin untuk dikerjakan selama
kita yakin untuk melaksanakannya . Menanamkan sugesti serta keyakinan didalam fikiran merupakan
sikap positif konstruktif dalam bentuk
doktrin “aku adalah penentu taqdir dan akulah komandan jiwaku.
Sementara itu kwalitas eksperien
personal sangat menentukan
kwalitas berfikir dan bertindak
yang secara aktualnya dimanifestasikan dalam kehidupannya.
Dibenak fikiran
kita bahwa fikiran akan menentukan tindakan .
Seluruh tindakan
kita merupakan mata rantai yang mengikat satu kekuatan untuk
mencapai keberhasilan . para pemenang
tidak dilahirkan, tetapi mereka lahir
dengan upayanya serta dengan
usahanya .
Allah swt telah
memberikan peluang kepada kita
untuk menjadi winner dalam percaturan kehidupan ini . Ummat islam didorong
untuk trampil semangat berkompetisi (Fastabiqul Khairat) kitapun
dipanggil untuk trampil sebagai khairah ummat . menjadi ummat yang
terbaik hal itu hanya mungkin
apabila dalam benak kita
ada semacam optimisme dan keyakinan
yang mendalam “berfikir dan bertindak
bagaikan pemenang (think and act like winner)
Seorang yang
berfikir positif akan tampak dari tindakannya yang fositip
pula
Begitu pula orang
yang berfikir negatif akan bertindak negatif pula , apabila anda
berfikir tidak mungkin kalah. Bila anda merasa takut , kecut menghdapi lawan ,berarti
anda telah kalah sebelum berperang, bila anda berfikir bisa
anda bisa. Bila berfikir
tidak bisa ,tentu saja tidak bisa
If you think you can, you can , and if you thank can’t ,you can’t
Tidak ada komentar:
Posting Komentar