Kisah Al-Qur'an:
(Studi Komparatif Antara Fakta Sejarah dan
Analisa Sastra)
Oleh Yusuf Baihaqi*
Muqaddimah
Kisah dalam Al-Qur'an menduduki peranan yang sangat vital ditilik dari
sisi keberadaan dan ruangnya, dari sisi keberadaannya kita dapatkan kisah Al-Qur'an merupakan bagian dari uslub
Al-Qur'an yang sangat urgen, lebih-lebih disaat terjadi polemik yang sengit
antara kaum mukmin dan kafir, atas dasar itulah kita tidak mendapatkan kisah
Al-Qur'an pada surat-surat permulaannya kecuali sebatas isyarat-isyaratnya saja
yang bersifat abstrak, melainkan diturunkan disaat situasi dan metodologi
dakwah baru yang bersifat transparan membutuhkannya. Fenomena ini didasari dari
kebuTuhan kaum mukmin akan pemantapan keimanan dan keyakinan mereka terhadap
aqidah baru yang diyakininya sebagaimana juga sebagai peringatan bagi
musuh-musuh mereka akan sunnatullah yang berlaku di alam raya ini dan akibat
serta kesudahan dari komunitas-komunitas masyarakat sebelumnya dalam
berinteraksi dengan rasul-rasul mereka.
Disamping kedua tujuan diatas kisah Al-Qur'an juga memiliki
tujuan-tujuan lain yang erat kaitannya dengan masalah pendidikan dan akhlak
disamping penemuan-penemuan baru yang bersifat ilmiah maupun peradaban (hadlâriyah).
Adapun kalau kita tilik dari sisi ruang maka kita akan mendapatkan besarnya
kuantitas ruang ayat-ayat kisah dalam Al-Qur'an yang mencapai seperempat bahkan
lebih dari jumlah ayat ayat Al-Qur'an secara keseluruhan, hingga menunjukkan
betapa tinggi dan pentingnya kedudukan
kisah dalam Al-Qur'an.
Atas dasar itulah pembahasan topik "kisah Al-Qur'an" dalam
makalah ini kami anggap sangatlah tepat dalam upaya untuk menguak hakikat kisah
Al-Qur'an itu sendiri dilihat dari realita sejarah, uslub pemaparannya serta
maksud dan tujuan kisah dalam Al-Qur'an, dengan harapan metodologi pemahaman
kita khususnya dalam berinteraksi dengan “ayat-ayat kisah” bisa lebih efisien
dan akurat sehingga kita dapat mengarungi mutiara-mutiara hikmah dibalik
pemaparan kisah Al-Qur'an.
Adapun tema-tema yang berusaha kami jabarkan dalam makalah ini adalah
sebagai berikut :
- Kisah Al-Qur'an dalam pandangan
sejarawan;
- Kisah Al-Qur'an
dan Taurat;
- Perbandingan antar kisah Al-Qur'an dengan
riwayat-riwayat Taurat dan Injil;
- Thoha Husein dan kisah Al-Qur'an;
- Muhammad Ahmad khalfullah dan kisah
Al-Qur'an;
- kesimpulan.
Kisah Al-Qur'an dalam pandangan para
sejarawan
Para sejarawan memandang bahwa Al-Qur'an merupakan sumber sejarah yang
paling otentik dan valid bila dikomparasikan dengan sumber-sumber sejarah
lainnya, hal ini bila dilihat dari aspek kredibilitas periwayatannya disamping
keberadaannya sebagai kitab Allah yang “tidak mengandung kebatilan baik dari
depan maupun dari belakangnya, melainkan diturunkan dari Tuhan yang
Mahabijaksana lagi Mahatinggi” (41:42). Atas dasar itulah sangatlah tidak logis
bagi mereka untuk meragukan keabsahan teks-teks Al-Qur'an dalam kondisi apapun,
dikarenakan Al-Qur'an dalam pandangan mereka merupakan sebuah dokumen sejarah
yang tidak bisa diragukan lagi keabsahannya.1
Dikarenakan kisah Al-Qur'an merupakan bagian dari teks Al-Qur'an, mereka
berpendapat bahwasannya kisah Al-Qur'an bila ditilik dari aspek kejadiannya
merupakan sebuah realita sejarah, disamping mereka memandang bahwasannya kisah
Al-Qur’an merupakan sebuah rentetan kejadian dan pemberitaan historis yang jauh
dari unsur-unsur yang bersifat utopian dan fiktif.2 Walaupun, demikian ternyata
lapangan kajian sejarah klasik tidak banyak menaruh perhatian terhadap
pemberitaan-pemberitaan yang dibawa oleh Al-Qur’an mengingat terlalu dominannya
karya para orientalis dalam sumber kepustakaan mereka atau perasaan riskan dari
sebagian sejarawan muslim dalam mengkaji lebih mendalam akan kejadian-kejadian
sejarah dalam Al-Qur’an. Yang jelas fenomena diatas diakui atau tidak merupakan
sebuah kerugian besar dalam lapangan kajian sejarah klasik, karena telah
mengabaikan sebuah sumber sejarah yang paling otentik dan berharga, bahkan
lebih dari itu bahwasannya para sejarawan kontemporer baik itu dari kalangan
barat maupun timur (muslim atau non muslim) dalam mengambil rujukan kajian dan
riset cenderung untuk lebih melihat
kepada Taurat dibandingkan Al-Qur’an, seakan-akan Taurat dalam pandangan mereka merupakan rujukan standar dalam kajian
beberapa periode tertentu dari kajian sejarah klasik, walaupun adanya
pengetahuan dan pengakuan dari mayoritas mereka akan lemahnya kredibilitas
periwayatannya, disamping adanya ratusan hasil riset dan kajian mereka-mereka
yang mempercayai Taurat (lebih-lebih mereka yang tidak mempercayainya) yang
menyangsikan orisinilitas teks-teksnya bahkan dalam penisbatan sebuah teks
terhadap sosok seseorang yang tercantum didalamnya.3
Akan tetapi, sungguh sangat disayangkan sekali bahwasannya fenomena di
atas ternyata tidak banyak menggugah mereka untuk merujuk kepada Al-Qur’an,
sebuah kitab suci yang para cendikiawan telah bermufakat akan orisinilitas
teks-teksnya, seperti yang diungkapkan oleh Sir William Muir, salah seorang
cendikiawan yang memilliki kadar antagonisme yang tinggi terhadap Islam:
“Sesungguhnya tidak ada di dunia ini satu bukupun kecuali Al-Qur’an dimana
dalam kurun 14 abad lamanya ia tetap menampilkan keorisinilan dan
keakurasiannya”.4
Demikian dan sungguh tidak diragukan lagi bahwasannya Al-Qur’an telah
banyak memberikan kepada kita melalui kisahnya informasi-informasi yang sangat
urgen dan otentik tentang masa-masa lampau sebelum Islam baik itu dari aspek
sosial, politik maupun ekonominya. Hal ini sebagaimana yang diberitakan
Al-Qur’an lewat kisah kalim Allah Musa as. tentang kerajaan Tuhan di masa
raja-raja Fir‘aun Mesir,5 dimana pemberitaan-pemberitaan ini merupakan bagian
dari bukti nyata akan kebenaran firman-firmanNya sebagaimana yang termaktub
dalam surat Ali-Imran:44, “Yang demikian ini adalah sebagian dari berita-berita
ghaib yang kami wahyukan kepada kamu (Ya Muhammad) padahal kamu tidak hadir
beserta mereka ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk
mengundi) siapa diantara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak
hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.”
Walaupun demikian, bukanlah berarti bahwasannya Al-Qur’an merupakan buku
sejarah yang menceritakan keadaan umat-umat yang terdahulu sebagaimana para
sejarawan menceritakannya, melainkan ia merupakan sebuah buku pedoman dan
petunjuk yang diturunkan oleh Tuhan untuk dijadikan sebagai pijakan hidup dan
bimbingan bagi kaum muslimin untuk
menganut ajaran monotheisme, disamping sebagai landasan bagi mereka dalam berakhlak,berlaku
adil dan menyimpulkan sebuah hukum. Sebagaimana Rasyid Ridho juga menulis bahwa
pemberitaan alquran tentang fakta-fakta sejarah tidaklah melainkan sebatas
untuk dijadikan sebagai pelajaran dan suri tauladan.6
Kisah Alquran dan
Taurat
Tidaklah benar apa yang dikemukakan oleh
para orientalis bahwa sesungguhnya alquran telah banyak mengadopsi
kisah-kisahnya dari Taurat dan Injil,7
bahkan lebih dari itu, ada
sekelompok cendikiawan Arab yang berpendapat bahwasannya kisah Al-Qur’an
hanya merupakan bentuk salinan dari kitab-kitab sebelumnya, sehingga imajinasi
kita seakan-akan mengatakan bahwasannya tolak ukur dan standar pembenaran dan
pembuktiannya dilihat dari sisi historis dan denotasinya terhadap risalah dan
kenabian adalah harus adanya kesamaan dengan pemberitaan-pemberitaan yang
dikenal oleh para Ahli Kitab.8
Kedua pernyataan diatas kalaulah kita hendak obyektif untuk
mengkajinya lebih mendalam lagi sangatlah tidak representatif, hal ini didasari
atas beberapa argumen:
1. Rasulullah
tidak pernah mengadakan perjalanan keluar Makkah kecuali ketika beliau berumur
9 dan 25 tahun dalam sebuah perjalanan yang sangat singkat sekali sehingga
tidak sedikit yang menyangsikan akan tuduhan diatas, disamping tidak adanya
isyarat dalam Al-Qur’an akan adanya indikasi-indikasi adopsi dari agama
Nasrani. Walaupun Rasulullah pada saat itu mengadakan interaksi dengan agama
Nasrani, akan tetapi ajaran agama Nasrani yang ditemukan oleh beliau adalah
yang telah terdistorsi dan sudah jauh melenceng dari ajaran aslinya, hal ini
disebabkan oleh keserakahan para pemuka agamanya serta polemik sengit yang
terjadi diantara mereka disebabkan oleh permasalahan-permasalahan yang sifatnya
sepele. Sungguh sangatlah tepat apa yang dilakukan oleh Abdullah Darraz dalam
menggambarkan fenomena diatas sebagai sebuah aplikasi dari penafsiran firman
Allah dalam surat Al-Maidah:14 (Dan di antara orang-orang yang mengatakan,
“Sesungguhnya kami ini adalah orang-orang Nasrani”, ada yang telah kami ambil
perjanjian mereka tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang
mereka telah diberi peringatan dengannya. Maka kami timbulkan diantara mereka
permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat dan kelak Allah akan memberitakan
kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan). Hal ini jugalah yang telah mendorong
Huart untuk menyimpulkan bahwasannya gagasan yang menyatakan banyaknya pengaruh
agama Nasrani dalam pola berpikirnya seorang reformis muda (Rasulullah)
disebabkan apa yang beliau saksikan
terhadap penerapan ajaran agama Nasrani di Syria sangatlah tidak beralasan, hal
ini dikarenakan lemah dan kurang akuratnya dokumen-dokemen dan bukti-bukti
sejarah yang menunjukkan akan hal itu secara valid.9
2. Pribadi
Rasulullah sebagai seorang yang “ummi” tidak mmbaca dan menulis dan
keberadaannya yang jauh dari komunitas Ahl-kitab, sehingga tidak
memungkinkannya untuk menimba ilmu dari mereka. Pada saat yang sama kondisi
intelektual kaumnya yang sangat rendah dimana ilmu pengetahuan yang sampai
kepada mereka hanyalah sebatas yang bersifat natural dan retorika dan tidak
adanya sebuah balai pendidikan tempat bagi mereka untuk saling belajar dan
mengajar, hal ini sebagaimana yang digambarkan oleh Al-Qur’an dalam surat
Jum'at::2 (Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di
antara mereka, yang membacaakan ayat-ayatnya kepada mereka, mensucikan mereka
dan mengajarkan kepada mereka al-kitab dan hikmah, dan sesungguhnya mereka
sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata). Adapun perjalanan mereka
pada musim panas dan dingin ke negeri Syam dan Yaman hanyalah sebatas untuk
berdagang dan tidak ada sangkut pautnya dengan masalah penyebaran atau
perolehan ilmu pengetahuan.10
3. Tidak adanya
sebuah pusat kajian yang bersifat agamis baik itu di Makkah maupun
daerah-daerah sekitarnya yang menyebarkan ajaran-ajaran kitab suci sebagaimana
yang diungkapkan oleh Al-Qur’an.11
4. Kalaulah
implikasi ajaran agama Yahudi dan Nasrani benar adanya terhadap lingkungan dan
kebudayaan jahiliyyah pada saat itu tentunya akan ada sebuah terjemahan bahasa
Arab atas kitab suci mereka, sebuah kenyataan yang tidak bisa terbuktikan
secara historis. Bahkan Al-Qur’an dalam salah satu ayatnya menyatakan:
“Katakanlah ‘jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum Tawrât’,
maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu merupakan orang-orang yang
benar” (3:93). Ayat ini menggambarkan kepada kita bahwa tidak ada diantara
orang Arab saat itu yang menguasai bahasa Ibrani, disamping sebagai bukti kuat
akan tidak adanya sebuah terjamah Taurat yang berbahasa Arab.12
5. Adanya
perbedaan yang sangat fundamental antara Al-Qur’an dengan Injil dan Taurat
dalam beberapa permasalahan yang sifatnya prinsipil, seperti masalah keTuhanan
Almasih, penyaliban dan kepercayaan trinitas disamping apa yang diisyaratkan
oleh Al-Qur’an dari pendistorsian kaum Nasrani terhadap Injil Isa Almasih.
6. Kita dapatkan
bahwasannya surat-surat Makkiyyah-lah yang banyak mengupas fase-fase kisah
dalam Taurat secara rinci, dimana kita dapatkan surat-surat Madaniyyah
mensarikan pelajaran-pelajaran yang bisa diambil dari paparan kisah diatas
bahkan mayoritasnya hanyalah sebatas sindiran-sindiran belaka yang bersifat
abstrak.13
7. Tidak adanya
seorang gurupun yang mengajari Rasulullah baik itu dari kaumnya maupun
ummat-ummat yang lainnya.
Demikianlah dan walaupun kita dapatkan
adanya kemiripan dalam beberapa kisah antara Taurat dan Al-Qur’an, tidaklah hal
ini berarti bahwa Al-Qur’an mengadopsi Taurat atau bahwasannya Al-Qur’an
merupakan bentuk salinan dari Taurat, melainkan disebabkan karena Taurat pada
asalnya merupakan sebuah kitab suci samawi dan bahwasannya Islam mempercayai
Musa sebagai seorang nabi, rasul dan kalim Allah sebagaimana telah diturunkan
kepadanya lembaran-lembaran (shahiifah) dan Taurat, akan tetapi perjalanan
sejarah menyatakan bahwa apa yang telah diturunkan kepada Nabi Musa telah
banyak didistorsi oleh kaumnya sendiri sehingga selaras dengan
propaganda-propaganda yang mereka canangkan. Mereka mengklaim setelah itu
bahwasannya ia merupakan Taurat yang pernah diturunkan Tuhan kepada Nabi Mûsâ:
“Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka, mereka tidak
mengatakan ‘sesuatu’ kecuali dusta” (18:5).
Perbandingan antara kisah Al-Qur’an dengan
riwayat Taurat dan Injil
Akan lebih obyektif kalau kita lakukan sebuah studi komparatif antara
kisah Al-Qur’an dengan yang semisalnya dalam Taurat dan Injil dalam upaya untuk
membuktikan adanya perbedaan-perbedaan yang karakternya fundamental antara
keduannya disamping untuk meyakinkan bahwasannya sumber-sumber yang pertama
sama sekali tidaklah berlandaskan kepada yang kedua sebagaimana yang diyakini
dan disimpulkan oleh mayoritas orientalis (bahkan dari mereka-mereka yang
fanatik) bahwasannya Rasulullah tidaklah pernah membaca Taurat atau buku lain
dari buku-buku Ahli Kitab.14
Sebagai satu contoh dari perbandingan diatas adalah dalam konteks
siapakah yang dijadikan korban oleh Nabi Ibrahim di antara kedua anaknya
tatkala turun perintah dari Tuhan untuk menyembelih anaknya? Sebuah pertanyaan
yang jawabannya sampai saat ini masih
menjadi polemik antara kaum Yahudi dan Nasrani di satu pihak dan agama Islam
pada pihak yang lainnya.
A. Pandangan
Yahudi dan Nasrani
Kaum Yahudi dan Nasrani menyatakan
bahwasannya dari kedua anak Nabi Ibrahim
yang dijadikan sebagai tumbal adalah Ishak, bukanlah Ismail sebagaimana
yang diyakini oleh Islam. Polemik ini kalau kita lihat dari sisi historis agama
yahudi akan terlihat jelas bahwasannya perbedaan pandangan di atas memiliki
sisi-sisi lain yang lebih signifikan daripada sisi historis, hal ini dalam pandangan mereka dikarenakan menyangkut
permasalahan siapakah yang memiliki presedensi (hak lebih tinggi) untuk menjadi
al-Sya‘b al-Mau‘uud (bangsa yang dijanjikan)? Disamping kisah pengorbanan di
atas juga sebagai sebuah upaya koroborasi (penguat) siapakah diantara kedua
keturunan (Ishak : “Bani Israil”dan Ismâ‘îl: “Arab”) yang lebih tinggi
derajatnya?
Demikianlah ideologi yang diyakini oleh
penganut Yahudi dan Nasrani, bahwasannya Ishaklah yang dijadikan sebagai tumbal
oleh sang bapak guna memenuhi perintah Tuhannya, adapun diantara beberapas
faktor yang dijadikan pijakan bagi mereka dalam hal ini adalah:
1. Sebuah riwayat
dalam kitab Tawrât: “Bawalah anak satu-satumu yang engkau sayangi Ishak dan
pergilah ke tempat penyembelihan kemudian angkatlah dia dalam keadaan
tersembelih ke sebuah gunung yang telah Aku
tunjukkan kepadamu”.15
2. Sebuah riwayat
dalam kitab Injil: “Dengan penuh keimanan, Ibrahim sembahkan anak satu-satunya
Ishak sedangkan ia saat itu sedang dalam keadaan teruji . . .”.16
Apabila kita hendak mendiskusikan kedua
argumen diatas, maka ada beberapa dalih dan pernyataan yang kami anggap cukup
representatif guna mengcounter kedua argumen tersebut, di antaranya adalah:
1. Pernyataan
bahwasannya sang tumbal adalah Ishak dan merupakan anak Ibrahim satu-satunya
merupakan sebuah pernyataan yang tidak akurat apabila ditinjau dari sisi
historis kecuali apabila ditujukan kepada Ismail dalam empat belas tahun
pertama dari umurnya, hal ini dikarenakan ia lahir lebih dahulu dari Ishak.
2. Bagaimana
mungkin Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Ishak dimana pada saat yang
sama ia merupakan anak yang dijanjikan akan lahir darinya sebuah bangsa yang
dijanjikan, sebuah kontradiksi yang mustahil untuk diharmonisasikan antara
keduanya, dimana problematika ini baru akan sirna jikalah Ishak telah tumbuh
dewasa dan dianugerahi seorang anak untuk melestarikan keturunannya pada
generasi-generasi selanjutnya.
3. Dalam upaya
untuk memberikan solusi dari problematika diatas ada sebuah interpretasi baru
yang digagas oleh para pemuka agama Nasrani yang menyatakan bahwasannnya disaat
Tuhan memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih Ishak sesungguhnya telah terdetik
dalam diri Ibrahim bahwasannya Tuhan berkuasa untuk menghidupkan kembali
hambanya yang telah meninggal. Sesungguhnya solusi permasalahan diatas
disamping merupakan hal yang baru dan belum terpikirkan oleh para pemuka agama
Yahudi, juga tidak luput dari sebuah
kepincangan yaitu rendahnya kwalitas pengorbanan Ibrahim dan rasa kepaTuhan
beliau terhadap Tuhannya, hal ini dikarenakan keyakinannya bahwasannya Tuhan
hendak mengembalikan kehidupan kepada anaknya (Ishak) setelah beliau melakukan
penyembelihan terhadapnya.
B. Pandangan Islam
Adapun Islam sebagaimana yang telah kami kemukakan diatas memandang
bahwasannya Ismaillah sang tumbal tatkala turun wahyu kepada Ibrahim untuk
mengorbankan anaknya dalam rangka pendekatan diri kepada Tuhannya, adapun
diantara beberapa argumen yang dijadikan landasan untuk memperkuat ideologi ini
adalah :
1.Sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh
Ibnu Abbas sebagai sebuah penafsiran terhadap surat As-Shâffat:107 (“Dan Kami
tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar), bahwasannya yang dimaksud
dari ayat tersebut adalah Ismail.
2. Firman Tuhan dalam surat As-Shâffat:112
(“Dan kami beri dia kabar gembira dengan "kelahiran" Ishak seorang
nabi yang termasuk dalam golongan orang-orang shaleh). Pernyataan kabar gembira
pada ayat diatas setelah kisah
pengorbanan menunjukkan bahwasannya Ishak bukanlah anak dimana Ibrahim diuji
oleh Tuhannya untuk menyembelihnya disamping itu juga bagaimana mungkin Tuhan
menyuruh Ibrahim untuk menyembelih Ishak dimana pada saat yang sama Tuhan
menjanjikan untuk menjadikannya sebagai salah seorang Nabi di kemudian hari.
3. Firman Tuhan dalam surat Hûd:71 (“Maka
kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang “kelahiran” Ishak dan sesudah
Ishak ‘lahir pula’ Ya‘kub”). Pemberitaan kabar gembira yang berupa kelahiran
Ishak yang disertai dengan kelahiran Ya‘kub sesudahnya sangatlah tidak tepat
kalau masa penyembelihannya dilakukan disaat ia (Ishak) telah menginjak pada
umur dewasa.
4. Bukankah pada ritual haji yang dilakukan
oleh kaum muslimin terdapat indikasi kuat bahwasannya lokasi pengorbanan Nabi
Ibrahim adalah di Makkah dan bukan di Palestina dan anak yang bersamanya adalah
Ismail bukan Ishak, disamping ritual haji itu sendiri merupakan sebuah
implementasi riil dari rasa ta‘zhim kaum muslimin terhadap besarnya pengorbanan
Nabi Ibrahim dalam memenuhi perintah Tuhannya.
Demikianlah, adapun kesimpulan yang bisa kita tarik dari paparan diatas
adalah bahwasannya kisah Al-Qur’an bukanlah merupakan naskah imitasi atau
salinan dari apa yang aslinya tertulis dalam Taurat maupun Injil, baik itu
secara global maupun terperinci, hal ini dikarenakan kita dapatkan perbedaan
persepsi yang cukup mendasar antara apa yang
tersebut di dalam Al-Qur’an pada satu sisi serta Taurat dan Injil pada
sisi yang lainnya, walaupun dalam beberapa tempat kita dapatkan kesamaan antara
keduanya.
Adapun pendapat yang menyatakan bahwasannya kisah Al-Qur’an yang
didengar oleh bangsa Arab pada masa turunnya Al-Qur’an merupakan apa yang telah
mereka kenal sebelumnya, dalam hemat kami perlu ditelaah ulang, dimana kalaulah
bangsa Arab pada saat itu telah mengetahui hakekat kisah Al-Qur’an maka rahasia
dan hikmah apakah dibalik pemaparannya? Disamping jikalah mereka tidak
mendapatkan didalamnya sesuatu yang baru dan menarik maka apakah mereka akan
mendapatkan didalamnsya sebuah perkataan yang berguna? Walaupun pada hakekatnya
kita tidak memungkiri bahwasannya bangsa Arab dikarenakan kondisi geografis dan
sosial yang meliputinya disamping adanya interaksi dan dialog dengan beberapa
bangsa dan penganut agama yang lain, mereka telah memiliki sedikit pengetahuan
akan kejadian-kejadian historis yang pernah terjadi disekitarnya walaupun
sifatnya masih sangat global dan kurang otentik. Adapun pengetahuan kisah dengan segala
perincian dan hakikat-hakikatnya sebagaimana yang dibawa oleh Al-Qur’an dalam
pandangan kami merupakan hal baru dan belum mereka ketahui secara pasti
sebelumya, sebagaimana Al-Qur’an sendiri telah mengisyaratkan akan hal itu
dalam beberapa ayatnya, seperti firman Tuhan dalam konteks penganugerahan
kepada kaum Muslimin: “Sebagaimana kami telah mengutus kepadamu seorang rasul
diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan kamu
dan mengajarkan kepadamu Alkitab dan hikmah serta mengajarkan kepada kamu apa
yang belum kamu ketahui” (2:151). Jikalah bangsa Arab telah mengetahui akan
hakikat kisah-kisah tersebut tentulah mereka akan mengatakan sebagaimana
saudara-saudara Yusuf mengatakan tatkala mereka menemukan kembali barang-barang
penukaran mereka: “Ini barang-barang kita
dikembalikan kepada kita” (12:65).
Terdapat bukti lain yang menguatkan pendapat bahwasannya bangsa Arab
mendapatkan sesuatu yang baru dalam kisah Al-Qur’an, yaitu, bahwasannya
diantara mereka seperti Nadr bin Harist dalam beberapa kesempatan datang ke
tempat perkumpulan khalayak ramai untuk menceritakan beberapa kisah tentang
Parsi dan Romawi atau Arab sekalipun dalam upaya untuk memalingkan penduduk
Makkah dari pengaruh Al-Qur’an, atas dasar itulah turun firman Tuhan dalam
surat Luqman: 6, “Dan diantara manusia ‘ada’ orang yang mempergunakan perkataan
yang tidak berguna untuk menyesatkan ‘manusia’ dari jalan Allah tanpa
berdasarkan pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu sebagai olok-olokan,
mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan”. Jikalah bangsa Arab tidak
mendapatkan hal yang baru dalam kisah Al-Qur’an, tentulah mereka tidak membutuhkan dan akan
memperdulikannya. Bahkan kisah-kisah Al-Qur’an yang berhubungan dengan Ahli
Kitab sekalipun sesungguhnya para Ahli
Kitab sendiri mendapatkan sesuatu yang baru darinya, atas dasar itulah ada
asumsi yang menyatakan bahwasannya bangsa Arab telah mengetahui hakekat kisah
Al-Qur'an merupakan sebuah gagasan yang menarik untuk kita diskusikan, dimana
pemikiran diatas bisa jadi terilhami dari niat
baik yang berupa pengokohan akan peradaban Arab sebelum Islam atau
bahkan malah sebaliknya guna merendahkan apa yang dibawa oleh Al-Qur'an, akan
tetapi, walau bagaimanapun juga, dalam hal ini merupakan langkah yang tepat
kalau kita merujuk kepada Al-Qur'an tanpa dibarengi dengan tendensi hawa nafsu
maupun fanatisme kesukuan dan jauh dari persangkaan-persangkaan yang tidak
beralasan, karena sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk
mencapai sebuah kebenaran (53:28).17
Thoha Husein dan kisah Al-Qur'an
Dalam pandangan dan keimanan setiap muslim, kisah dan kejadian-kejadian
sejarah yang tertera dalam Al-Qur'an dilihat dari sudut pandang realitanya
adalah benar adanya dan bahwasannya ambivalensi dari apa yang dihasilkan dari
sebuah kajian sejarah yang bersifat absolut dengan kisah-kisah yang dibawa oleh
Al-Qur'an tidaklah akan terjadi. Sebagai contoh pemaparan terminologi
“al-malik” dan “fir'aun” dalam Al-Qur'an, kita dapatkan bahwa Al-Qur'an
membedakan antara keduanya. Kata “al-malik” dalam Al-Qur'an identik dengan
penguasa mesir (non pribumi) pada masa Nabi Yusuf di era Hexos, adapun penguasa
Mesir (pribumi) pada masa Nabi Musa identik dengan sebutan “fir'aun” (sebuah
julukan terhadap penguasa mesir semenjak era Akhnathon). Pemilahan pemakaian
dua terminologi diatas sangatlah tepat dan akurat dengan hasil penelitian
seorang pakar dalam bahasa Mesir kuno yang bernama Sir Alan Gardiner dalam
sebuah prasasti yang ditemukannya.18 Disamping hal ini juga sebagai penguat
akan unsur-unsur I'jaz yang terkandung didalam Al-Qur'an, dimana kalaulah kita
mau meneliti lebih jauh kepada Taurat akan banyak kita dapatkan kontradiksi
fakta antara hakikat-hakikat sejarah dengan substansi kandungan yang terdapat
didalamnya. Sebagai contoh: dalam pemakaian terminologi “fir‘aun” sebagaimana
yang tertera diatas dimana kita dapatkan Taurat memakai kata “fira'un” disaat
ia harus memakai kata “almalik” dan demikian pula sebaliknya.
Ilmu sejarah dengan segala perangkat dan metodologi yang dimilikinya
sangatlah memungkinkan untuk tidak dapat sampai kepada sebagian fakta-fakta
sejarah yang tertera didalam Al-Qur'an. Kelemahan ilmu sejarah untuk mengetahui
dan membuktikan fakta-fakta sejarah yang tertera di dalam Al-Qur'an dalam
pandangan kami tidaklah berarti menafikan keotentikan Al-Qur'an, bahkan
sesungguhnya apa yang dikonfirmasikan oleh Al-Qur'an dalam konteks diatas
merupakan sebuah nilai tambah bagi ilmu sejarah itu sendiri.19
Thoha Husein dalam bukunya “Fî al-Syi‘r al-Jâhilî” merupakan sebuah
contoh kongkrit dari problematika diatas. Beliau berpendapat bahwasannya kisah
Ibrahim dan Ismail yang tertera didalam
Al-Qur'an merupakan sebuah mitos dan kisah fiktif yang dibuat-buat oleh Yahudi
demi sebuah kepentingan politik tertentu dan dimanfaatkan oleh Islam dalam
rangka kepentingan yang sama. Pendapat ini, sebagaimana yang beliau ungkapkan,
merupakan hasil dari sebuah pembuktian yang bersifat absolut. Adapun postulat
yang dijadikan sandaran oleh beliau dalam hal ini adalah bahwasannya para
cendikiawan telah bermufakat bahwa bangsa Arab terbagi menjadi dua golongan :
1.Golongan Qahthâniyyah (berdomisili di
Yaman);
2.Golongan ‘Adnâniyyah (berdomisili di
Hijaz).
Dalam sebuah penelitian baru disebutkan
bahwasannya bahasa “Qahthâniyyin” berbeda dengan bahasa “‘'Adnâniyyin”. Atas
dasar itulah, dikatakan bahwasanya penisbatan bahasa “‘Adnâniyyin” terhadap
bahasa Arab yang digunakan oleh “Qahthâniyin” adalah sebagaimana penisbatan
bahasa Arab terhadap bahasa-bahasa samiyah (semit) lainnya. Jikalah kisah Ibrahim dan Ismail sebagaimana
yang diceritakan oleh Al-Qur'an benar adanya, dan bahwasannya Ismail (kakek moyang ‘Adnâniyyin) beserta segenap
anak cucunya pernah belajar bahasa Arab dari golongan “Qahthâniyyah”, maka
bagaimana mungkin terjadi kontradiksi yang sangat mencolok dan mendasar antar
bahasa Arab golongan “‘Adnâniyyah” dan golongan “Qahthâniyyah”? Atas dasar itulah beliau berpendapat, bahwa
dalam konteks di atas kita dihadapkan kepada dua tawaran, antara menerima kisah
tersebut apa adanya dan menolak pembuktian yang bersifat absolut, atau malah
sebaliknya. Dalam hal ini masih menurut beliau tidak ada alternatif lain
kecuali menolak kisah dan menerima pembuktian yang (dianggap) bersifat absolut.
Muhammad Ahmad ‘Arfah (waka. Jurusan Syari'ah di Fak. Darul Ulum),
ketika mengcounter pendapat Thoha Husein diatas menyatakan:
1. Al-Qur'an tidak pernah menyinggung kisah
belajarnya Nabi Ismail bahasa Arab dari Qahthâniyah, melainkan yang tersebut di
dalamnya adalah keberadaan Ibrahim dan Ismail disamping hijrah dan pembangunan
Ka‘bah yang dilakukan oleh keduanya, adapun mereka yang mengatakan bahwasannya
Ismail belajar bahasa Arab dari Qahthâniyyah adalah para sejarawan bahasa.
2. Pembuktian yang menyatakan bahwasannya
telah terdapat perbedaan yang cukup mendasar antara bahasa ‘Adnâniyyah dengan
Qahthâniyyah hanyalah sebatas menafikan belajarnya Ismail dan anak cucunya
bahasa Arab dari Qahthâniyyah, dan bukanlah berarti penafian terhadap kisah
secara keseluruhan.
3. Pernyataan bahwasannya dibalik kisah
Ibrahim dan Ismail ada konspirasi kepentingan antara Yahudi, kaum musyrik
Makkah dan Islam baik yang bersifat politik maupun agamis tidaklah dapat
dibuktikan dengan teks-teks sejarah yang otentik dan akurat; hal ini baru
sebatas dugaan-dugaan saja.
4. Lebih dari pada itu bahwa gagasan Thoha
Husein dalam konteks diatas kalaulah kita mau lebih kritis dan teliti ternyata
hanyalah sebatas penjiplakan dari buah pemikiran seorang missionaris
berkebangsaan Inggris dalam usahanya untuk meragukan keotentikan dan
keorisinilan substansi Al-Qur'an dalam sebuah buku yang berjudul “Dhail Maqâlah
fi al Islam”.20
Demikianlah Thoha Husein dalam bukunya “Fî al-Syi‘r al-Jâhilî”, sebuah
karya beliau yang banyak menimbulkan polemik dalam kancah pemikiran Mesir pada
tahun1926-an, disamping masih banyak lagi terobosan pemikiran yang beliau
gelindingkan dalam wacana pemikiran Mesir yang masih erat kaitannya dengan tema
pembahasan makalah ini. Seperti pernyataannya bahwa ayat-ayat kisah dan sejarah
dalam Al-Qur'an hanyalah terdapat pada ayat-ayat Madaniyyah saja dalam
kapasitas untuk menguatkan pandangannya
bahwa keadaan sosial masyarakat Makkah saat itu sangatlah rendah dan
bahwasannya Muhammad banyak terpengaruhi dengan kultur Ahli Kitab saat beliau
berada di Madinah. Pernyataan ini kalaulah kita rujuk kepada asbab nuzûl ayat
sangatlah tidak akurat, bahkan sesungguhnya ayat-ayat kisah dan sejarah dalam
Al-Qur'an malah lebih banyak kita
dapatkan pada ayat-ayat Makkiyyah, seperti dalam surat Al-‘'A‘raf, Yûnus, Hûd,
Al-Kahfi, Maryam, Thâhâ, Yûsuf dan Al-Syu‘arâ’, dimana kesemua surat tersebut
sangatlah penuh dan kental dengan ayat-ayat kisah dan sejarah.
Muhammad Ahmad Khalfullah dan kisah
Al-Qur'an
Tepatnya pada tahun 1946, Muhammad Ahmad Khalfullah dengan disertasi
doktoralnya yang berjudul “Al-Fann al-Qashashî fî Al-Qur'an” telah
menggoncangkan dunia pemikiran di Mesir dikarenakan substansinya yang penuh
dengan gagasan-gagasan baru dan kontroversial seputar kisah Al-Qur'an, sehingga membuat Cairo
University tempat dimana beliau mengajukan disertasinya mengumumkan untuk
menolak disertasi tersebut. untuk disidangkan.
Adapun yang melatarbelakangi gagasan beliau sebagaimana yang ditulis
dalam disertasinya adalah hasil riset dan penelitiannya yang menyatakan bahwa
sebagian besar para mufassirin mengganggap bahwa kisah Al-Qur'an adalah bagian
dari “mutasyâbih Al-Qur'an”, dimana fenomena ini dimanfaatkan betul oleh
orang-orang kafir dan mereka-mereka yang memiliki persepsi yang sama dari para
missionaris dan orientalis untuk menghujat validitasi Nabi dan Al-Qur'an.
Mengenai faktor penyebab dari pemahaman para mufassirin diatas, sebagaimana
yang ditulis dalam bukunya, adalah kepincangan metodologi yang mereka pakai
dalam memahami hakikat kisah Al-Qur'an, dikarenakan metodologi yang mereka
pakai adalah sebagaimana para sejarawan memahami dokumen-dokumen sejarah, tidak
sebagaimana memahami teks-teks agama dan sastra. Atas dasar itulah, beliau
berinisiatif untuk memahami kisah Al-Qur'an dengan memakai metodologi teolog,
ahli bahasa dan para sastrawan sebagai sebuah solusi dari problematika diatas.
Mengenai faktor-faktor penunjang atas metodologi pemahaman yang
ditawarkan oleh beliau adalah :
1. Integritas pemaparan kisah dalam
Al-Qur'an tidaklah sebatas kepribadian para rasul dan nabi, akan tetapi lebih
difokuskan pada tema-tema agama dan maksud dan tujuan dari pemaparan kisah itu
sendiri baik yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial maupun etika.
2. Pemaparan Al-Qur'an tentang sejarah
tidaklah dimaksudkan pembahasan sejarah itu sendiri secara konvensional kecuali
dalam beberapa tempat yang sangat jarang sekali, sehingga tidak memungkinkannya
untuk dijadikan sebagai sandaran hukum secara umum, bahkan yang sering kita
dapatkan malah sebaliknya dimana Al-Qur'an tidak banyak menyinggung
komponen-komponen sejarah itu sendiri baik yang berhubngan dengan jaman maupun
tempat.
3. kurangnya kepedulian para mufassir
selama ini akan unsur penggambaran kisah Al-Qur'an dengan uslub dan kosa
katanya yang bersifat mu'jiz dan indah.
4. Tidak mampunya para orientalis dalam
memahami uslub dan metodologi Al-Qur'an dalam merekonstruksi sebuah kisah dan
integritasinya dengan formula kisah itu sendiri, dimana fenomena diatas
mendorong mereka untuk berkisimpulan bahwa telah terjadi sebuah evolusi karakter
dan identitas di dalam Al-Qur'an.
5. Kelemahan mereka dalam memahami
karakteristik substansi kisah Al-Qur'an beserta rahasia-rahasia yang terkandung
didalamnya, sehingga mendorong mereka untuk berpendapat sebagaimana para
pendahulu mereka dari kaum musyrikin Makkah dan murtaddin dari kaum muslimin
yang menyatakan bahwasannya yang mengajari Muhammad adalah seorang manusia dan
bahwasannya distorsi pemaparan sejarah banyak terdapat di dalam Al-Qur'an.21
Syubuhaat Khalfullah seputar kisah Al-Qur'an
Di antara beberapa gagasan yang dilontarkan oleh Khalfullah dalam rangka
keluar dari tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh para orientalis dan
missionaris dalam memahami hakikat kisah Al-Qur'an sebagaimana yang telah
disinggung diatas adalah :
Pertama:
Kurangnya komitmen Al-Qur'an terhadap realita sejarah dalam memaparkan
ayat-ayat kisah dan sejarah, hal ini sebagaimana yang dinyatakan dalam bukunya:
“Sesungguhnya kaum muslimin telah berupaya keras dalam memahami hakikat kisah
Al-Qur'an melalui pendekatan sejarah, atas dasar itulah mereka banyak melandaskan pemahamannya
terhadap kebudayaan sejarah, israiliyyat dan teori-teori yang masih sebatas
hipotesa dengan harapan dari ketiga komponen diatas mereka dapat menghilangkan
kesamaran sejarah yang terkandung dalam kisah Al-Qur'an baik yang berkenaan
dengan jaman, tempat maupun personal . . .
. . . dimana jikalah mereka
berpaling dari landasan-landasan diatas dan berupaya untuk memahami Al-Qur'an
dengan menggunakan metodologi seni sastra tentulah mereka akan terjauhi dari
tuduhan-tuduhan yang dilontarkan untuk menghujat nabi dan Al-Qur'an”.
Adapun di antara rujukan yang dijadikan sebagai postulat bagi pembenaran
gagasannya dari pendapat para ulama klasik maupun kontemporer adalah:
1. Pendapat pengarang Tafsir Al-Manar yang
menyatakan bahwa apa yang diriwayatkan dari kisah Harut dan Marut sebagaimana
yang tertera dalam surat Al Baqarah: 102, tentang sihir dan anggapan
bahwasannya Nabi Sulaiman telah mengerjakan perbuatan kafir . . . . . .
tidaklah mesti bahwa kejadian diatas benar-benar terjadi secara realita,
sebagaimana juga pernyataan ‘Abduh bahwasannya kisah Al-Qur'an hanya diturunkan
sebatas sebagai peringatan dan pelajaran bukan sebagai penjelasan sejarah. 22
2. Pendapat Ar Razi dan Nisaburi pada
catatan kecil At Tabari dalam menafsirkan surat Yûnus:39, “Sesungguhnya ketika kaum musyrikin berasumsi
bahwasannya kisah Al-Qur'an tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu,
mereka belum memahami bahwa maksud dan tujuan dari pemaparan kisah tersebut
bukanlah kisah itu sendiri, melainkan sebagi penjelasan akan kekuasaan Tuhan
dalam bertindak di alam semesta ini.
Dari paparan tersebut Khalfullah mengklaim bahwa dirinya telah berhasil
memberikan sebuah solusi dari problematika di atas dengan seruannya agar kita
dapat memahami hakikat hubungan antara sastra dan sejarah, dimana Al-Qur'an
dilihat dari aspek balaghah adabiyyah dan seni ceritanya tidaklah harus sesuai
(konsekwen) dengan realita.
Catatan-Catatan:
1. Khalfullah dalam konteks di atas
berupaya untuk memahami teks-teks Ilahi sebagaimana pemahamannya terhadap
teks-teks manusia, dimana beliau juga menambahkan bahwasanya konteks diatas
adalah murni kaitannya dengan masalah-masalah seni dan sastra dan tidak ada kaitannya
dengan realita maupun dokumentasi sejarah, hal ini sebagaimana yang dilakukan
oleh Shakespeare,Bernard Shaw, Syauqi … … dalam karya-karya mereka.
2. Sesungguhnya pernyataan para mufassirin
baik klasik maupun kontemporer bahwasannya kisah Al-Qur'an hanya diturunkan
sebagai peringatan dan petunjuk merupakan seruan bagi kaum muslimin untuk tidak
membahas kisah itu sendiri secara mendetail dan bukanlah berarti bahwa
makna-makna sejarah yang terkandung di dalam Al-Qur'an akseptabel untuk digugat
dan diinovasi.
3. Apa yang tertera di dalam Al-Qur'an dari
kejadian-kejadian yang sifatnya irrasional seperti pendengaran Nabi Sulaiman
akan pembicaraan semut dan penaklukan bangsa jin dibawah kendalinya, bukanlah
merupakan sebuah ambivalensi dengan rasio dan dalil-dalil yang sifatnya
dogmatis. Bukanlah semua kejadian yang sifatnya ajaib merupakan sebuah
kemustahilan, dikarenakan kalau demikian adanya maka akan berarti bahwasannya
segenap mukjizat adalah mustahil sebagaimana juga penemuan-penemuan ilmiah baru
yang oleh orang-orang dahulu sama sekali belum terbayangkan.
4. Kontradiksi antara apa yang dikisahkan
Allah Swt. kepada kita dalam Al-Qur'an dengan fakta-fakta sejarah tidaklah akan
terjadi kecuali dikarenakan dua faktor:
- Tidak adanya kisah Al-Qur'an dalam
literatur sejarah, dengan kata lain bahwasannya sumber-sumber sejarah bersikap
netral untuk menerima atau menolak terhadap kisah-kisah yang dibawa oleh
Al-Qur'an.
- Adanya kontradiksi antara kisah Al-Qur'an
dengan apa yang tertera dalam literatur sejarah.
Jikalah penyebabnya adalah faktor pertama,
maka bukanlah ketidakmampuan kita dalam melacak kisah-kisah Al-Qur'an dalam
literatur sejarah berarti sebuah bukti kongkrit akan ketidakberadaan
kisah-kisah tersebut dalam realitanya. Adapun jikalah terdapat kontradiksi
antara kisah Al-Qur'an dengan apa yang terdapat dalam literatur sejarah, maka
dalam hal ini hendaklah kita melihat kepada substansi sejarah itu sendiri
apakah ia bersifat mutawatir dalam periwayatannya sehingga layak bagi sebuah
teks Al-Qur'an untuk diinterpretasi ulang sehingga selaras dengan fakta sejarah
diatas ataukah ia sebatas zhanniyyat yang secara keotentikannya masih belum
dapat dipertanggung jawabkan?
5. Adapun asumsi Khalfullah bahwasanya
unsur sejarah bukanlah merupakan bagian dari maksud dan tujuan diturunkannya
Al-Qur'an dan ketergantungan kita dengan
realita kejadian-kejadian yang digambarkan oleh Al-Qur'an memberikan kesempatan
bagi musuh-musuh Islam untuk menghujat nabi dan Al-Qur'an bahkan mendorong kaum
muslimin untuk tidak mempercayai kandungan Al-Qur'an … …, Maka dalam hal ini
kita akan balik bertanya: apakah solusi yang ditawarkan oleh beliau dalam
memahami kisah Al-Qur'an dengan menjadikannya sebagai sebuah kreasi seni akan
menjauhkan Al-Qur'an dari tangan musuh-musuhnya?
Kedua:
Asumsi Khalfullah bahwasannya Al-Qur'an mengandung dongengan orang-orang
yang terdahulu, dimana diantara postulat
yang dijadikan sandaran beliau dalam hal ini adalah anggapannya bahwa tatkala
kaum musyrikin menyebutkan Al-Qur'an sebagai “asâthir al-awwalîn” bukanlah tanpa alasan
dan dikarenakan kebodohan dan kedengkian
mereka, melainkan hal ini merupakan hasil dari sebuah keyakinan kuat yang
mereka yakini … … sebagaimana Al-Qur'an sendiri secara eksplisit tidak
menafikan akan keberadaan “asathir” didalamnya,
sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Furqân:5-6, “Dan mereka berkata:
dongengan-dongengan orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan maka
dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang. Katakanlah:
Al-Qur'an itu diturunkan oleh Allah yang mengetahui rahasia di langit dan di
bumi. Sesungguhnya Dia adalah Mahapengampun lagi Mahapenyayang”. Pada ayat
diatas, Al-Qur'an hanyalah sebatas menafikan anggapan bahwa dongengan-dongengan
tadi merupakan karya Muhammad, disamping juga untuk menguatkan bahwasannya ia
adalah benar-benar diturunkan oleh Allah Swt. … … Atas dasar itulah, pendapat
yang menyatakan bahwasannya Al-Qur'an mengandung dongengan-dongengan, dalam
hemat beliau, bukanlah merupakan satu
hal yang kontradiktif dengan teks-teks Al-Qur'an itu sendiri. Masih
menurut beliau, bahwasannya pembahasan
Al-Qur'an tentang “asâthir” timbul disaat ia berinteraksi dengan penduduk
Makkah yang mayoritas mereka terdiri dari kaum musyrikin, dimana pada saat yang
sama kita tidak mendapatkan satupun dari ayat-ayat Madaniyyah yang membahas
topik diatas (sebuah fenomena menarik yang membutuhkan interpretasi lebih
jauh).
Catatan penulis:
1. Sesungguhnya kisah-kisah Al-Qur'an
merupakan kumpulan berita dan kejadian sejarah yang terkonstruksi secara rapih
dan kokoh dari sebuah hakikat yang bersifat absolut dan belum tersentuh dengan
hal-hal yang bersifat utopian dan imajinatif. Aallah berfirman: “Sesungguhnya
pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai
akal. Al-Qur'an itu bukan cerita yang dibuat-buat akan tetapi membenarkan
‘kitab-kitab’ yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai
petunjuk dan rahmat bagi kaum beriman. (12:111)
2. Sebuah ambivalensi telah terdapat dalam
alur pemikiran Khalfullah, dimana pada salah satu kesempatan beliau menyatakan
bahwasannya perkataan “asathir” di dalam Al-Qur'an hanyalah terdapat pada
ayat-ayat Makkiyyah saja dikarenakan faktor lingkungan jahiliyyah saat itu dan
tidak kita dapatkan pada ayat-ayat Madaniyyah dikarenakan lingkungan Madinah
yang telah berperadaban, dan pada kesempatan lain beliau juga menyatakaan
bahwasanya tatkala penduduk Makkah menisbatkan kisah-kisah Al-Qur'an sebagai
dongengan-dongengan belaka hal ini bukanlah dikarenakan kebodohan mereka akan
realita-realita sejarah, dimana pada saat yang sama sangkaan-sangkaan bathil
tersebut tidak terdetik dalam diri penduduk Madinah.
3. Adapun asumsi Khalfullah bahwasannya
Al-Qur'an itu sendiri tidak menafikan akan adanya dongengan-dongengan belaka
didalamnya, melainkan yang dinafikan adalah kalaulah dongengan-dongengan tadi
merupakan hasil kreasi Muhammad, dalam hemat kami, merupakan sebuah kekeliruan. Berkenaan dengan surat
Al-Furqon:5-6, sebagaimana yang dijadikan pijakan oleh beliau, bahwasannya
pernyataan orang-orang kafir: “Al-Qur'an
adalah dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan” sesungguhnya
yang dijadikan sebagai obyek pada pernyataan diatas adalah Al-Qur'an secara
keseluruhan dan bukanlah sebatas pada kisah Al-Qur'an itu sendiri, dalam hal
ini akan sangat transparan kalau kita merujuk kepada konteks diturunkannya ayat
diatas sebagaimana yang difirmankan dalam surat Al-Furqân:1-6.
Maka apakah tuduhan orang-orang kafir “Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah
kebohongan yang diada-adakan”, kemudian pernyataan mereka: “Dongengan
orang-orang dahulu dimintanya supaya dituliskan” ditujukan kepada kisah
Al-Qur'an secara khusus ataukah Al-Qur'an
secara keseluruhan ?
Sesungguhnya ada dua pernyataan yang dilontarkan oleh orang-orang kafir
dalam konteks ayat diatas :
- Al-Furqân:4 (“Dan orang-orang kafir
berkata: ‘Al-Qur'an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh
Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain’”).
- Al-Furqân:5 (“Dan mereka berkata: ‘Dongengan-dongengan
orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan maka dibacanya dongengan itu
kepadanya setiap pagi dan petang’”).
Kedua pernyataan diatas bermuara pada satu substansi yang sama, yaitu
bahwasannya Al-Qur'an merupakan hasil kreasi Muhammad yang dia peroleh dari
orang lain, dimana kalaulah kita merujuk kepada Al-Qur'an itu sendiri kita
dapatkan bahwasannya ia sendiri telah mengcounter pernyataan pertama,
sebagaimana yang tertera dalam firmanNya: “Maka sesungguhnya mereka telah
berbuat suatu kezaliman dan dusta besar”,
dan pernyataan kedua dalam firmanNya: “Katakanlah: Al-Qur'an itu
diturunkannya oleh Allah yang mengetahui rahasia di langit dan dibumi.
Sesungguhnya Dia adalah Mahapengampun lagi Mahapenyayang”. Maka, apakah logis
bagi yang maha mengetahui segala rahasia di langit dan bumi untuk berinteraksi
dengan dongengan-dongengan belaka dan menjadikannya sebagia alat bantu dalam
upaya mensosialisasikan nilai-nilai uluhiyyat kepada hamba-hamba-Nya?23
Ketiga:
Diantara beberapa postulat yang dijadikan penguat oleh Khalfullah atas
gagasannya, bahwa Al-Qur'an adalah human expression dan bahwasannya pemberitaan
gaib Al-Qur'an bukanlah merupakan sebuah mukjizat dan realita yang harus
diyakini keberadaannya, adalah asumsi beliau bahwa terdapat banyak kontradiksi
dalam kisah Al-Qur'an, sebagai contoh adalah pemberitaan Al-Qur'an tentang awal
peneriman wahyu oleh nabi Musa dan percakapan Tuhan dengan-Nya sebagaimana yang
tertera pada tiga surat dalam Al-Qur'an (thâhâ, an-Naml dan Al-Qhashas).
Catatan Catatan:
1.Sebagian ahli tafsir dalam memberikan
solusi atas problematika diatas yang secara eksternal terdapat kontradiksi
menyatakan bahwasannya pada kisah Musa diatas, Al-Qur'an hanyalah sebatas
menggambarkan akan kondisi suatu kaum yang tidak berkomunikasi dengan bahasa
Arab, atas dasar itulah bahwasannya penerjamahan makna-makna Al-Qur'an tidaklah
mengandung mukjizat secara linguistik sebagaimana yang dibawa oleh Al-Qur'an
itu sendiri, dikarenakan tarjamah tersebut
kembali kepada perkataan manusia.24
2. Sesungguhnya penggambaran Al-Qur'an akan
setiap kisah yang diceritakannya bersifat komprehensif, akurat dan sesuai
dengan realita kejadiannya dan bahwasanya perbedaan ekspresi dan uslub dalam
satu kisah yang sering kita dapatkan dalam Al-Qur'an pada hakekatnya merupakan
sebuah gambaran kisah tersebut secara
keseluruhan, dimana kita seakan-akan mengambil beberapa episode dalam beberapa
tempat yang berlainan sehingga apabila kita satukan akan terlihat jelas adanya
satu integritas kisah dalam Al-Qur'an, melainkan dikarenakan hikmah dan rahasia
tertentu dan dalam upaya korelasi antar ayat dan surat dalam Al-Qur'an kita
dapatkan pembagian episode-episode kisah dalam beberapa surat yang berlainan,
disamping kalau kesemuanya dikumpulkan dalam satu tempat hal ini akan
mengundang rasa jenuh dan bosan bagi pembacanya. Sebagai contoh adalah
pemaparan Al-Qur'an dalam tiga surat yang berlainan dalam konteks kisah Nabi
Musa yang oleh sebagian orang dianggap sebagai
sebuah kontradiksi dalam Al-Qur'an:
- Surat Thâhâ yang diturunkan dalam rangka
untuk menstimulir rasulullah dalam berdakwah disamping untuk meringankan beban
psikologis yang dideritanya, maka diceritakanlah kisah Nabi Musa dan
pertolongan Tuhan atas dirinya supaya dijadikan pelajaran bagi Rasulullah
bahwasanya pertolongan Tuhan merupakan sunnatullah dan selalu akan bersama para
rasul dan nabi-Nya.
- Adapun pada surat An Naml yang datang
dengan sebuah misi bahwasannya Al-Qur'an merupakan wahyu Ilahi yang diterima
oleh Rasulullah dari sisi yang Mahabijaksana lagi Mahamengetahui, maka diantara
tanda-tanda kebijaksanaan dan pengetahuanNya adalah seruan dan panggilanNya
terhadap Musa di tempat yang sunyi dan senyap seraya berfirman kepadanya:
“Sesungguhnya akulah Allah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”.
- Sedangkan pada surat Al-Qhashas yang
penuh dengan kisah Nabi Musa khususnya sebelum memasuki masa kenabiannya dan
bahwasannya karunia Tuhan akan selalu bersama orang-orang yang tertindas dari
hamba-hambanya yang beriman, maka dalam konteks di atas merupakan sebuah
akurasi yang sangat indah dan tempat sekali ketika Allah berfirman: “Wahai
Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam”.25
Kesimpulan
Dalam rangka memformat sebuah metodogi berinteraksi yang pas dan akurat
dengan ayat-ayat kisah dalam Al-Qur'an kita dihadapkan kepada dua pendapat yang
sama-sama memiliki kepincangan dan kekurangan:
1.Mereka yang “overstatement” dalam
memahami kisah Al-Qur'an, dalam hal ini terimplementasikan dalam kelompok yang menjadikan
Al-Qur'an sebagai kitab sejarah sehingga indikasinya mereka terlalu disibukkan
dengan pembahasan komponen-komponen yang terkandung dalam sebuah kisah seperti
pembahasan tentang identitas personal,jaman dan tempat.
2.Kelompok “Minusstatement” hal ini bisa
kita lilhat pada sosok Thoha Husein dan Khalfullah, dimana mereka memandang
bahwasannya Al-Qur'an mengandung distorsi sejarah dan pemaparan Al-Qur'an
tentang ayat-ayat kisah tidaklah harus diyakini keberadaannya dalam realita
kehidupan.
Atas dasar itulah dan dalam upaya untuk keluar dari dilema di atas kami
berpendapat bahwasannya kisah Al-Qur'an bukanlah seperti kisah sejarah yang
banyak menekankan pada pembahasan komponen-komponen yang terkandung di dalamnya
melainkan sebuah kisah yang penuh dengan hakekat-hakekat ilahiyyat, pelajaran
dan petunjuk hidup bagi segenap umat manusia (12:111/ 27:76-77) dan bahwasannya
besarnya intensitas kita terhadap kisah Al-Qur'an hendaknya sesuai dengan besar
intensitas Al-Qur'an itu sendiri, dikarenakan hal ini disamping untuk
mendekatkan kita kepada hikmah diturunkannya kisah Al-Qur’an juga merupakan
sebuah langkah defensif atas masuknya israiliyyat dalam interpretasi ayat-ayat
kisah dalam Al-Qur'an sebagaimana yang banyak kita dapatkan dalam literatur tafsir
klasik. Disamping itu juga bahwasannya kedudukan Al-Qur'an sebagai sebuah kitab
petunjuk tidaklah berarti bahwasannya kisah-kisah yang terdapat di dalamnya
mengandung nilai mitos, fiksi dan jauh dari realita (3:62).
Wa akhiran, bahwasanya kekurangan dan kelemahan sudah merupakan tabiat
bagi setiap manusia.Dan kesempurnaan hanyalah otoritas Tuhan belaka yang tidak
dimiliki oleh seorangpun dari makhluknya. Atas dasar itulah kritikan dan
masukan terhadap substansi makalah ini sangat besar kami harapkan sebagai
langkah untuk saling mengisi dan berdialog guna pencapaian sebuah kebenaran.
Madinah Bu'uts, 6 Oktober 2000
Catatan pustaka:
1. M Abdullah Darraz, Madkhal ila Al-Qur'an
Al-Karîm, hal 49.
2. Abdul Karim Khatib, Al-Qishas Al-Qur’ani,
hal 52.
3. DR. Bayoumi Mahran, Dirasat Tarikhiyyah
min Al-Qur’an Al-Karim fi Bilad Al-‘Arab, Daar Al-Ma'rifah Al-Jami'iyyah, hal
6-7.
4. Sir William Muir, The life of Mohammad
and history of Islam, Edinburgh, 1923.
5. Lihat kisah Musa as. (Al-Baqarah:
47-74/Al-A‘raf: 104-155/Yûnus: 75-93/Thaha: 9-99/Al Syu‘ara 10-68/ Al-Qashas:
3-44/Ghâfir: 23-54).
6. Lihat tentang Ahdaaf Al-Qur’an wa
Maqâsiduhû, Tafsir Al-Manâr: 1/207-293.
7. Goldziher, Al-'Aqidah wa Al-Syari'ah fi
Al-Islam, tarjamah DR M Yusuf Musa, hal 12 dan 15. Lihat jugaKisah Al-Qur'an:
(Studi Komparatif Antara Fakta Sejarah dan
Analisa Sastra)
Oleh Yusuf Baihaqi*
Muqaddimah
Kisah dalam Al-Qur'an menduduki peranan yang sangat vital ditilik dari
sisi keberadaan dan ruangnya, dari sisi keberadaannya kita dapatkan kisah Al-Qur'an merupakan bagian dari uslub
Al-Qur'an yang sangat urgen, lebih-lebih disaat terjadi polemik yang sengit
antara kaum mukmin dan kafir, atas dasar itulah kita tidak mendapatkan kisah
Al-Qur'an pada surat-surat permulaannya kecuali sebatas isyarat-isyaratnya saja
yang bersifat abstrak, melainkan diturunkan disaat situasi dan metodologi
dakwah baru yang bersifat transparan membutuhkannya. Fenomena ini didasari dari
kebuTuhan kaum mukmin akan pemantapan keimanan dan keyakinan mereka terhadap
aqidah baru yang diyakininya sebagaimana juga sebagai peringatan bagi
musuh-musuh mereka akan sunnatullah yang berlaku di alam raya ini dan akibat
serta kesudahan dari komunitas-komunitas masyarakat sebelumnya dalam
berinteraksi dengan rasul-rasul mereka.
Disamping kedua tujuan diatas kisah Al-Qur'an juga memiliki
tujuan-tujuan lain yang erat kaitannya dengan masalah pendidikan dan akhlak
disamping penemuan-penemuan baru yang bersifat ilmiah maupun peradaban (hadlâriyah).
Adapun kalau kita tilik dari sisi ruang maka kita akan mendapatkan besarnya
kuantitas ruang ayat-ayat kisah dalam Al-Qur'an yang mencapai seperempat bahkan
lebih dari jumlah ayat ayat Al-Qur'an secara keseluruhan, hingga menunjukkan
betapa tinggi dan pentingnya kedudukan
kisah dalam Al-Qur'an.
Atas dasar itulah pembahasan topik "kisah Al-Qur'an" dalam
makalah ini kami anggap sangatlah tepat dalam upaya untuk menguak hakikat kisah
Al-Qur'an itu sendiri dilihat dari realita sejarah, uslub pemaparannya serta
maksud dan tujuan kisah dalam Al-Qur'an, dengan harapan metodologi pemahaman
kita khususnya dalam berinteraksi dengan “ayat-ayat kisah” bisa lebih efisien
dan akurat sehingga kita dapat mengarungi mutiara-mutiara hikmah dibalik
pemaparan kisah Al-Qur'an.
Adapun tema-tema yang berusaha kami jabarkan dalam makalah ini adalah
sebagai berikut :
- Kisah Al-Qur'an dalam pandangan
sejarawan;
- Kisah Al-Qur'an
dan Taurat;
- Perbandingan antar kisah Al-Qur'an dengan
riwayat-riwayat Taurat dan Injil;
- Thoha Husein dan kisah Al-Qur'an;
- Muhammad Ahmad khalfullah dan kisah
Al-Qur'an;
- kesimpulan.
Kisah Al-Qur'an dalam pandangan para
sejarawan
Para sejarawan memandang bahwa Al-Qur'an merupakan sumber sejarah yang
paling otentik dan valid bila dikomparasikan dengan sumber-sumber sejarah
lainnya, hal ini bila dilihat dari aspek kredibilitas periwayatannya disamping
keberadaannya sebagai kitab Allah yang “tidak mengandung kebatilan baik dari
depan maupun dari belakangnya, melainkan diturunkan dari Tuhan yang
Mahabijaksana lagi Mahatinggi” (41:42). Atas dasar itulah sangatlah tidak logis
bagi mereka untuk meragukan keabsahan teks-teks Al-Qur'an dalam kondisi apapun,
dikarenakan Al-Qur'an dalam pandangan mereka merupakan sebuah dokumen sejarah
yang tidak bisa diragukan lagi keabsahannya.1
Dikarenakan kisah Al-Qur'an merupakan bagian dari teks Al-Qur'an, mereka
berpendapat bahwasannya kisah Al-Qur'an bila ditilik dari aspek kejadiannya
merupakan sebuah realita sejarah, disamping mereka memandang bahwasannya kisah
Al-Qur’an merupakan sebuah rentetan kejadian dan pemberitaan historis yang jauh
dari unsur-unsur yang bersifat utopian dan fiktif.2 Walaupun, demikian ternyata
lapangan kajian sejarah klasik tidak banyak menaruh perhatian terhadap
pemberitaan-pemberitaan yang dibawa oleh Al-Qur’an mengingat terlalu dominannya
karya para orientalis dalam sumber kepustakaan mereka atau perasaan riskan dari
sebagian sejarawan muslim dalam mengkaji lebih mendalam akan kejadian-kejadian
sejarah dalam Al-Qur’an. Yang jelas fenomena diatas diakui atau tidak merupakan
sebuah kerugian besar dalam lapangan kajian sejarah klasik, karena telah
mengabaikan sebuah sumber sejarah yang paling otentik dan berharga, bahkan
lebih dari itu bahwasannya para sejarawan kontemporer baik itu dari kalangan
barat maupun timur (muslim atau non muslim) dalam mengambil rujukan kajian dan
riset cenderung untuk lebih melihat
kepada Taurat dibandingkan Al-Qur’an, seakan-akan Taurat dalam pandangan mereka merupakan rujukan standar dalam kajian
beberapa periode tertentu dari kajian sejarah klasik, walaupun adanya
pengetahuan dan pengakuan dari mayoritas mereka akan lemahnya kredibilitas
periwayatannya, disamping adanya ratusan hasil riset dan kajian mereka-mereka
yang mempercayai Taurat (lebih-lebih mereka yang tidak mempercayainya) yang
menyangsikan orisinilitas teks-teksnya bahkan dalam penisbatan sebuah teks
terhadap sosok seseorang yang tercantum didalamnya.3
Akan tetapi, sungguh sangat disayangkan sekali bahwasannya fenomena di
atas ternyata tidak banyak menggugah mereka untuk merujuk kepada Al-Qur’an,
sebuah kitab suci yang para cendikiawan telah bermufakat akan orisinilitas
teks-teksnya, seperti yang diungkapkan oleh Sir William Muir, salah seorang
cendikiawan yang memilliki kadar antagonisme yang tinggi terhadap Islam:
“Sesungguhnya tidak ada di dunia ini satu bukupun kecuali Al-Qur’an dimana
dalam kurun 14 abad lamanya ia tetap menampilkan keorisinilan dan
keakurasiannya”.4
Demikian dan sungguh tidak diragukan lagi bahwasannya Al-Qur’an telah
banyak memberikan kepada kita melalui kisahnya informasi-informasi yang sangat
urgen dan otentik tentang masa-masa lampau sebelum Islam baik itu dari aspek
sosial, politik maupun ekonominya. Hal ini sebagaimana yang diberitakan
Al-Qur’an lewat kisah kalim Allah Musa as. tentang kerajaan Tuhan di masa
raja-raja Fir‘aun Mesir,5 dimana pemberitaan-pemberitaan ini merupakan bagian
dari bukti nyata akan kebenaran firman-firmanNya sebagaimana yang termaktub
dalam surat Ali-Imran:44, “Yang demikian ini adalah sebagian dari berita-berita
ghaib yang kami wahyukan kepada kamu (Ya Muhammad) padahal kamu tidak hadir
beserta mereka ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk
mengundi) siapa diantara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak
hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.”
Walaupun demikian, bukanlah berarti bahwasannya Al-Qur’an merupakan buku
sejarah yang menceritakan keadaan umat-umat yang terdahulu sebagaimana para
sejarawan menceritakannya, melainkan ia merupakan sebuah buku pedoman dan
petunjuk yang diturunkan oleh Tuhan untuk dijadikan sebagai pijakan hidup dan
bimbingan bagi kaum muslimin untuk
menganut ajaran monotheisme, disamping sebagai landasan bagi mereka dalam berakhlak,berlaku
adil dan menyimpulkan sebuah hukum. Sebagaimana Rasyid Ridho juga menulis bahwa
pemberitaan alquran tentang fakta-fakta sejarah tidaklah melainkan sebatas
untuk dijadikan sebagai pelajaran dan suri tauladan.6
Kisah Alquran dan
Taurat
Tidaklah benar apa yang dikemukakan oleh
para orientalis bahwa sesungguhnya alquran telah banyak mengadopsi
kisah-kisahnya dari Taurat dan Injil,7
bahkan lebih dari itu, ada
sekelompok cendikiawan Arab yang berpendapat bahwasannya kisah Al-Qur’an
hanya merupakan bentuk salinan dari kitab-kitab sebelumnya, sehingga imajinasi
kita seakan-akan mengatakan bahwasannya tolak ukur dan standar pembenaran dan
pembuktiannya dilihat dari sisi historis dan denotasinya terhadap risalah dan
kenabian adalah harus adanya kesamaan dengan pemberitaan-pemberitaan yang
dikenal oleh para Ahli Kitab.8
Kedua pernyataan diatas kalaulah kita hendak obyektif untuk
mengkajinya lebih mendalam lagi sangatlah tidak representatif, hal ini didasari
atas beberapa argumen:
1. Rasulullah
tidak pernah mengadakan perjalanan keluar Makkah kecuali ketika beliau berumur
9 dan 25 tahun dalam sebuah perjalanan yang sangat singkat sekali sehingga
tidak sedikit yang menyangsikan akan tuduhan diatas, disamping tidak adanya
isyarat dalam Al-Qur’an akan adanya indikasi-indikasi adopsi dari agama
Nasrani. Walaupun Rasulullah pada saat itu mengadakan interaksi dengan agama
Nasrani, akan tetapi ajaran agama Nasrani yang ditemukan oleh beliau adalah
yang telah terdistorsi dan sudah jauh melenceng dari ajaran aslinya, hal ini
disebabkan oleh keserakahan para pemuka agamanya serta polemik sengit yang
terjadi diantara mereka disebabkan oleh permasalahan-permasalahan yang sifatnya
sepele. Sungguh sangatlah tepat apa yang dilakukan oleh Abdullah Darraz dalam
menggambarkan fenomena diatas sebagai sebuah aplikasi dari penafsiran firman
Allah dalam surat Al-Maidah:14 (Dan di antara orang-orang yang mengatakan,
“Sesungguhnya kami ini adalah orang-orang Nasrani”, ada yang telah kami ambil
perjanjian mereka tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang
mereka telah diberi peringatan dengannya. Maka kami timbulkan diantara mereka
permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat dan kelak Allah akan memberitakan
kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan). Hal ini jugalah yang telah mendorong
Huart untuk menyimpulkan bahwasannya gagasan yang menyatakan banyaknya pengaruh
agama Nasrani dalam pola berpikirnya seorang reformis muda (Rasulullah)
disebabkan apa yang beliau saksikan
terhadap penerapan ajaran agama Nasrani di Syria sangatlah tidak beralasan, hal
ini dikarenakan lemah dan kurang akuratnya dokumen-dokemen dan bukti-bukti
sejarah yang menunjukkan akan hal itu secara valid.9
2. Pribadi
Rasulullah sebagai seorang yang “ummi” tidak mmbaca dan menulis dan
keberadaannya yang jauh dari komunitas Ahl-kitab, sehingga tidak
memungkinkannya untuk menimba ilmu dari mereka. Pada saat yang sama kondisi
intelektual kaumnya yang sangat rendah dimana ilmu pengetahuan yang sampai
kepada mereka hanyalah sebatas yang bersifat natural dan retorika dan tidak
adanya sebuah balai pendidikan tempat bagi mereka untuk saling belajar dan
mengajar, hal ini sebagaimana yang digambarkan oleh Al-Qur’an dalam surat
Jum'at::2 (Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di
antara mereka, yang membacaakan ayat-ayatnya kepada mereka, mensucikan mereka
dan mengajarkan kepada mereka al-kitab dan hikmah, dan sesungguhnya mereka
sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata). Adapun perjalanan mereka
pada musim panas dan dingin ke negeri Syam dan Yaman hanyalah sebatas untuk
berdagang dan tidak ada sangkut pautnya dengan masalah penyebaran atau
perolehan ilmu pengetahuan.10
3. Tidak adanya
sebuah pusat kajian yang bersifat agamis baik itu di Makkah maupun
daerah-daerah sekitarnya yang menyebarkan ajaran-ajaran kitab suci sebagaimana
yang diungkapkan oleh Al-Qur’an.11
4. Kalaulah
implikasi ajaran agama Yahudi dan Nasrani benar adanya terhadap lingkungan dan
kebudayaan jahiliyyah pada saat itu tentunya akan ada sebuah terjemahan bahasa
Arab atas kitab suci mereka, sebuah kenyataan yang tidak bisa terbuktikan
secara historis. Bahkan Al-Qur’an dalam salah satu ayatnya menyatakan:
“Katakanlah ‘jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum Tawrât’,
maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu merupakan orang-orang yang
benar” (3:93). Ayat ini menggambarkan kepada kita bahwa tidak ada diantara
orang Arab saat itu yang menguasai bahasa Ibrani, disamping sebagai bukti kuat
akan tidak adanya sebuah terjamah Taurat yang berbahasa Arab.12
5. Adanya
perbedaan yang sangat fundamental antara Al-Qur’an dengan Injil dan Taurat
dalam beberapa permasalahan yang sifatnya prinsipil, seperti masalah keTuhanan
Almasih, penyaliban dan kepercayaan trinitas disamping apa yang diisyaratkan
oleh Al-Qur’an dari pendistorsian kaum Nasrani terhadap Injil Isa Almasih.
6. Kita dapatkan
bahwasannya surat-surat Makkiyyah-lah yang banyak mengupas fase-fase kisah
dalam Taurat secara rinci, dimana kita dapatkan surat-surat Madaniyyah
mensarikan pelajaran-pelajaran yang bisa diambil dari paparan kisah diatas
bahkan mayoritasnya hanyalah sebatas sindiran-sindiran belaka yang bersifat
abstrak.13
7. Tidak adanya
seorang gurupun yang mengajari Rasulullah baik itu dari kaumnya maupun
ummat-ummat yang lainnya.
Demikianlah dan walaupun kita dapatkan
adanya kemiripan dalam beberapa kisah antara Taurat dan Al-Qur’an, tidaklah hal
ini berarti bahwa Al-Qur’an mengadopsi Taurat atau bahwasannya Al-Qur’an
merupakan bentuk salinan dari Taurat, melainkan disebabkan karena Taurat pada
asalnya merupakan sebuah kitab suci samawi dan bahwasannya Islam mempercayai
Musa sebagai seorang nabi, rasul dan kalim Allah sebagaimana telah diturunkan
kepadanya lembaran-lembaran (shahiifah) dan Taurat, akan tetapi perjalanan
sejarah menyatakan bahwa apa yang telah diturunkan kepada Nabi Musa telah
banyak didistorsi oleh kaumnya sendiri sehingga selaras dengan
propaganda-propaganda yang mereka canangkan. Mereka mengklaim setelah itu
bahwasannya ia merupakan Taurat yang pernah diturunkan Tuhan kepada Nabi Mûsâ:
“Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka, mereka tidak
mengatakan ‘sesuatu’ kecuali dusta” (18:5).
Perbandingan antara kisah Al-Qur’an dengan
riwayat Taurat dan Injil
Akan lebih obyektif kalau kita lakukan sebuah studi komparatif antara
kisah Al-Qur’an dengan yang semisalnya dalam Taurat dan Injil dalam upaya untuk
membuktikan adanya perbedaan-perbedaan yang karakternya fundamental antara
keduannya disamping untuk meyakinkan bahwasannya sumber-sumber yang pertama
sama sekali tidaklah berlandaskan kepada yang kedua sebagaimana yang diyakini
dan disimpulkan oleh mayoritas orientalis (bahkan dari mereka-mereka yang
fanatik) bahwasannya Rasulullah tidaklah pernah membaca Taurat atau buku lain
dari buku-buku Ahli Kitab.14
Sebagai satu contoh dari perbandingan diatas adalah dalam konteks
siapakah yang dijadikan korban oleh Nabi Ibrahim di antara kedua anaknya
tatkala turun perintah dari Tuhan untuk menyembelih anaknya? Sebuah pertanyaan
yang jawabannya sampai saat ini masih
menjadi polemik antara kaum Yahudi dan Nasrani di satu pihak dan agama Islam
pada pihak yang lainnya.
A. Pandangan
Yahudi dan Nasrani
Kaum Yahudi dan Nasrani menyatakan
bahwasannya dari kedua anak Nabi Ibrahim
yang dijadikan sebagai tumbal adalah Ishak, bukanlah Ismail sebagaimana
yang diyakini oleh Islam. Polemik ini kalau kita lihat dari sisi historis agama
yahudi akan terlihat jelas bahwasannya perbedaan pandangan di atas memiliki
sisi-sisi lain yang lebih signifikan daripada sisi historis, hal ini dalam pandangan mereka dikarenakan menyangkut
permasalahan siapakah yang memiliki presedensi (hak lebih tinggi) untuk menjadi
al-Sya‘b al-Mau‘uud (bangsa yang dijanjikan)? Disamping kisah pengorbanan di
atas juga sebagai sebuah upaya koroborasi (penguat) siapakah diantara kedua
keturunan (Ishak : “Bani Israil”dan Ismâ‘îl: “Arab”) yang lebih tinggi
derajatnya?
Demikianlah ideologi yang diyakini oleh
penganut Yahudi dan Nasrani, bahwasannya Ishaklah yang dijadikan sebagai tumbal
oleh sang bapak guna memenuhi perintah Tuhannya, adapun diantara beberapas
faktor yang dijadikan pijakan bagi mereka dalam hal ini adalah:
1. Sebuah riwayat
dalam kitab Tawrât: “Bawalah anak satu-satumu yang engkau sayangi Ishak dan
pergilah ke tempat penyembelihan kemudian angkatlah dia dalam keadaan
tersembelih ke sebuah gunung yang telah Aku
tunjukkan kepadamu”.15
2. Sebuah riwayat
dalam kitab Injil: “Dengan penuh keimanan, Ibrahim sembahkan anak satu-satunya
Ishak sedangkan ia saat itu sedang dalam keadaan teruji . . .”.16
Apabila kita hendak mendiskusikan kedua
argumen diatas, maka ada beberapa dalih dan pernyataan yang kami anggap cukup
representatif guna mengcounter kedua argumen tersebut, di antaranya adalah:
1. Pernyataan
bahwasannya sang tumbal adalah Ishak dan merupakan anak Ibrahim satu-satunya
merupakan sebuah pernyataan yang tidak akurat apabila ditinjau dari sisi
historis kecuali apabila ditujukan kepada Ismail dalam empat belas tahun
pertama dari umurnya, hal ini dikarenakan ia lahir lebih dahulu dari Ishak.
2. Bagaimana
mungkin Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Ishak dimana pada saat yang
sama ia merupakan anak yang dijanjikan akan lahir darinya sebuah bangsa yang
dijanjikan, sebuah kontradiksi yang mustahil untuk diharmonisasikan antara
keduanya, dimana problematika ini baru akan sirna jikalah Ishak telah tumbuh
dewasa dan dianugerahi seorang anak untuk melestarikan keturunannya pada
generasi-generasi selanjutnya.
3. Dalam upaya
untuk memberikan solusi dari problematika diatas ada sebuah interpretasi baru
yang digagas oleh para pemuka agama Nasrani yang menyatakan bahwasannnya disaat
Tuhan memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih Ishak sesungguhnya telah terdetik
dalam diri Ibrahim bahwasannya Tuhan berkuasa untuk menghidupkan kembali
hambanya yang telah meninggal. Sesungguhnya solusi permasalahan diatas
disamping merupakan hal yang baru dan belum terpikirkan oleh para pemuka agama
Yahudi, juga tidak luput dari sebuah
kepincangan yaitu rendahnya kwalitas pengorbanan Ibrahim dan rasa kepaTuhan
beliau terhadap Tuhannya, hal ini dikarenakan keyakinannya bahwasannya Tuhan
hendak mengembalikan kehidupan kepada anaknya (Ishak) setelah beliau melakukan
penyembelihan terhadapnya.
B. Pandangan Islam
Adapun Islam sebagaimana yang telah kami kemukakan diatas memandang
bahwasannya Ismaillah sang tumbal tatkala turun wahyu kepada Ibrahim untuk
mengorbankan anaknya dalam rangka pendekatan diri kepada Tuhannya, adapun
diantara beberapa argumen yang dijadikan landasan untuk memperkuat ideologi ini
adalah :
1.Sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh
Ibnu Abbas sebagai sebuah penafsiran terhadap surat As-Shâffat:107 (“Dan Kami
tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar), bahwasannya yang dimaksud
dari ayat tersebut adalah Ismail.
2. Firman Tuhan dalam surat As-Shâffat:112
(“Dan kami beri dia kabar gembira dengan "kelahiran" Ishak seorang
nabi yang termasuk dalam golongan orang-orang shaleh). Pernyataan kabar gembira
pada ayat diatas setelah kisah
pengorbanan menunjukkan bahwasannya Ishak bukanlah anak dimana Ibrahim diuji
oleh Tuhannya untuk menyembelihnya disamping itu juga bagaimana mungkin Tuhan
menyuruh Ibrahim untuk menyembelih Ishak dimana pada saat yang sama Tuhan
menjanjikan untuk menjadikannya sebagai salah seorang Nabi di kemudian hari.
3. Firman Tuhan dalam surat Hûd:71 (“Maka
kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang “kelahiran” Ishak dan sesudah
Ishak ‘lahir pula’ Ya‘kub”). Pemberitaan kabar gembira yang berupa kelahiran
Ishak yang disertai dengan kelahiran Ya‘kub sesudahnya sangatlah tidak tepat
kalau masa penyembelihannya dilakukan disaat ia (Ishak) telah menginjak pada
umur dewasa.
4. Bukankah pada ritual haji yang dilakukan
oleh kaum muslimin terdapat indikasi kuat bahwasannya lokasi pengorbanan Nabi
Ibrahim adalah di Makkah dan bukan di Palestina dan anak yang bersamanya adalah
Ismail bukan Ishak, disamping ritual haji itu sendiri merupakan sebuah
implementasi riil dari rasa ta‘zhim kaum muslimin terhadap besarnya pengorbanan
Nabi Ibrahim dalam memenuhi perintah Tuhannya.
Demikianlah, adapun kesimpulan yang bisa kita tarik dari paparan diatas
adalah bahwasannya kisah Al-Qur’an bukanlah merupakan naskah imitasi atau
salinan dari apa yang aslinya tertulis dalam Taurat maupun Injil, baik itu
secara global maupun terperinci, hal ini dikarenakan kita dapatkan perbedaan
persepsi yang cukup mendasar antara apa yang
tersebut di dalam Al-Qur’an pada satu sisi serta Taurat dan Injil pada
sisi yang lainnya, walaupun dalam beberapa tempat kita dapatkan kesamaan antara
keduanya.
Adapun pendapat yang menyatakan bahwasannya kisah Al-Qur’an yang
didengar oleh bangsa Arab pada masa turunnya Al-Qur’an merupakan apa yang telah
mereka kenal sebelumnya, dalam hemat kami perlu ditelaah ulang, dimana kalaulah
bangsa Arab pada saat itu telah mengetahui hakekat kisah Al-Qur’an maka rahasia
dan hikmah apakah dibalik pemaparannya? Disamping jikalah mereka tidak
mendapatkan didalamnya sesuatu yang baru dan menarik maka apakah mereka akan
mendapatkan didalamnsya sebuah perkataan yang berguna? Walaupun pada hakekatnya
kita tidak memungkiri bahwasannya bangsa Arab dikarenakan kondisi geografis dan
sosial yang meliputinya disamping adanya interaksi dan dialog dengan beberapa
bangsa dan penganut agama yang lain, mereka telah memiliki sedikit pengetahuan
akan kejadian-kejadian historis yang pernah terjadi disekitarnya walaupun
sifatnya masih sangat global dan kurang otentik. Adapun pengetahuan kisah dengan segala
perincian dan hakikat-hakikatnya sebagaimana yang dibawa oleh Al-Qur’an dalam
pandangan kami merupakan hal baru dan belum mereka ketahui secara pasti
sebelumya, sebagaimana Al-Qur’an sendiri telah mengisyaratkan akan hal itu
dalam beberapa ayatnya, seperti firman Tuhan dalam konteks penganugerahan
kepada kaum Muslimin: “Sebagaimana kami telah mengutus kepadamu seorang rasul
diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan kamu
dan mengajarkan kepadamu Alkitab dan hikmah serta mengajarkan kepada kamu apa
yang belum kamu ketahui” (2:151). Jikalah bangsa Arab telah mengetahui akan
hakikat kisah-kisah tersebut tentulah mereka akan mengatakan sebagaimana
saudara-saudara Yusuf mengatakan tatkala mereka menemukan kembali barang-barang
penukaran mereka: “Ini barang-barang kita
dikembalikan kepada kita” (12:65).
Terdapat bukti lain yang menguatkan pendapat bahwasannya bangsa Arab
mendapatkan sesuatu yang baru dalam kisah Al-Qur’an, yaitu, bahwasannya
diantara mereka seperti Nadr bin Harist dalam beberapa kesempatan datang ke
tempat perkumpulan khalayak ramai untuk menceritakan beberapa kisah tentang
Parsi dan Romawi atau Arab sekalipun dalam upaya untuk memalingkan penduduk
Makkah dari pengaruh Al-Qur’an, atas dasar itulah turun firman Tuhan dalam
surat Luqman: 6, “Dan diantara manusia ‘ada’ orang yang mempergunakan perkataan
yang tidak berguna untuk menyesatkan ‘manusia’ dari jalan Allah tanpa
berdasarkan pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu sebagai olok-olokan,
mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan”. Jikalah bangsa Arab tidak
mendapatkan hal yang baru dalam kisah Al-Qur’an, tentulah mereka tidak membutuhkan dan akan
memperdulikannya. Bahkan kisah-kisah Al-Qur’an yang berhubungan dengan Ahli
Kitab sekalipun sesungguhnya para Ahli
Kitab sendiri mendapatkan sesuatu yang baru darinya, atas dasar itulah ada
asumsi yang menyatakan bahwasannya bangsa Arab telah mengetahui hakekat kisah
Al-Qur'an merupakan sebuah gagasan yang menarik untuk kita diskusikan, dimana
pemikiran diatas bisa jadi terilhami dari niat
baik yang berupa pengokohan akan peradaban Arab sebelum Islam atau
bahkan malah sebaliknya guna merendahkan apa yang dibawa oleh Al-Qur'an, akan
tetapi, walau bagaimanapun juga, dalam hal ini merupakan langkah yang tepat
kalau kita merujuk kepada Al-Qur'an tanpa dibarengi dengan tendensi hawa nafsu
maupun fanatisme kesukuan dan jauh dari persangkaan-persangkaan yang tidak
beralasan, karena sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk
mencapai sebuah kebenaran (53:28).17
Thoha Husein dan kisah Al-Qur'an
Dalam pandangan dan keimanan setiap muslim, kisah dan kejadian-kejadian
sejarah yang tertera dalam Al-Qur'an dilihat dari sudut pandang realitanya
adalah benar adanya dan bahwasannya ambivalensi dari apa yang dihasilkan dari
sebuah kajian sejarah yang bersifat absolut dengan kisah-kisah yang dibawa oleh
Al-Qur'an tidaklah akan terjadi. Sebagai contoh pemaparan terminologi
“al-malik” dan “fir'aun” dalam Al-Qur'an, kita dapatkan bahwa Al-Qur'an
membedakan antara keduanya. Kata “al-malik” dalam Al-Qur'an identik dengan
penguasa mesir (non pribumi) pada masa Nabi Yusuf di era Hexos, adapun penguasa
Mesir (pribumi) pada masa Nabi Musa identik dengan sebutan “fir'aun” (sebuah
julukan terhadap penguasa mesir semenjak era Akhnathon). Pemilahan pemakaian
dua terminologi diatas sangatlah tepat dan akurat dengan hasil penelitian
seorang pakar dalam bahasa Mesir kuno yang bernama Sir Alan Gardiner dalam
sebuah prasasti yang ditemukannya.18 Disamping hal ini juga sebagai penguat
akan unsur-unsur I'jaz yang terkandung didalam Al-Qur'an, dimana kalaulah kita
mau meneliti lebih jauh kepada Taurat akan banyak kita dapatkan kontradiksi
fakta antara hakikat-hakikat sejarah dengan substansi kandungan yang terdapat
didalamnya. Sebagai contoh: dalam pemakaian terminologi “fir‘aun” sebagaimana
yang tertera diatas dimana kita dapatkan Taurat memakai kata “fira'un” disaat
ia harus memakai kata “almalik” dan demikian pula sebaliknya.
Ilmu sejarah dengan segala perangkat dan metodologi yang dimilikinya
sangatlah memungkinkan untuk tidak dapat sampai kepada sebagian fakta-fakta
sejarah yang tertera didalam Al-Qur'an. Kelemahan ilmu sejarah untuk mengetahui
dan membuktikan fakta-fakta sejarah yang tertera di dalam Al-Qur'an dalam
pandangan kami tidaklah berarti menafikan keotentikan Al-Qur'an, bahkan
sesungguhnya apa yang dikonfirmasikan oleh Al-Qur'an dalam konteks diatas
merupakan sebuah nilai tambah bagi ilmu sejarah itu sendiri.19
Thoha Husein dalam bukunya “Fî al-Syi‘r al-Jâhilî” merupakan sebuah
contoh kongkrit dari problematika diatas. Beliau berpendapat bahwasannya kisah
Ibrahim dan Ismail yang tertera didalam
Al-Qur'an merupakan sebuah mitos dan kisah fiktif yang dibuat-buat oleh Yahudi
demi sebuah kepentingan politik tertentu dan dimanfaatkan oleh Islam dalam
rangka kepentingan yang sama. Pendapat ini, sebagaimana yang beliau ungkapkan,
merupakan hasil dari sebuah pembuktian yang bersifat absolut. Adapun postulat
yang dijadikan sandaran oleh beliau dalam hal ini adalah bahwasannya para
cendikiawan telah bermufakat bahwa bangsa Arab terbagi menjadi dua golongan :
1.Golongan Qahthâniyyah (berdomisili di
Yaman);
2.Golongan ‘Adnâniyyah (berdomisili di
Hijaz).
Dalam sebuah penelitian baru disebutkan
bahwasannya bahasa “Qahthâniyyin” berbeda dengan bahasa “‘'Adnâniyyin”. Atas
dasar itulah, dikatakan bahwasanya penisbatan bahasa “‘Adnâniyyin” terhadap
bahasa Arab yang digunakan oleh “Qahthâniyin” adalah sebagaimana penisbatan
bahasa Arab terhadap bahasa-bahasa samiyah (semit) lainnya. Jikalah kisah Ibrahim dan Ismail sebagaimana
yang diceritakan oleh Al-Qur'an benar adanya, dan bahwasannya Ismail (kakek moyang ‘Adnâniyyin) beserta segenap
anak cucunya pernah belajar bahasa Arab dari golongan “Qahthâniyyah”, maka
bagaimana mungkin terjadi kontradiksi yang sangat mencolok dan mendasar antar
bahasa Arab golongan “‘Adnâniyyah” dan golongan “Qahthâniyyah”? Atas dasar itulah beliau berpendapat, bahwa
dalam konteks di atas kita dihadapkan kepada dua tawaran, antara menerima kisah
tersebut apa adanya dan menolak pembuktian yang bersifat absolut, atau malah
sebaliknya. Dalam hal ini masih menurut beliau tidak ada alternatif lain
kecuali menolak kisah dan menerima pembuktian yang (dianggap) bersifat absolut.
Muhammad Ahmad ‘Arfah (waka. Jurusan Syari'ah di Fak. Darul Ulum),
ketika mengcounter pendapat Thoha Husein diatas menyatakan:
1. Al-Qur'an tidak pernah menyinggung kisah
belajarnya Nabi Ismail bahasa Arab dari Qahthâniyah, melainkan yang tersebut di
dalamnya adalah keberadaan Ibrahim dan Ismail disamping hijrah dan pembangunan
Ka‘bah yang dilakukan oleh keduanya, adapun mereka yang mengatakan bahwasannya
Ismail belajar bahasa Arab dari Qahthâniyyah adalah para sejarawan bahasa.
2. Pembuktian yang menyatakan bahwasannya
telah terdapat perbedaan yang cukup mendasar antara bahasa ‘Adnâniyyah dengan
Qahthâniyyah hanyalah sebatas menafikan belajarnya Ismail dan anak cucunya
bahasa Arab dari Qahthâniyyah, dan bukanlah berarti penafian terhadap kisah
secara keseluruhan.
3. Pernyataan bahwasannya dibalik kisah
Ibrahim dan Ismail ada konspirasi kepentingan antara Yahudi, kaum musyrik
Makkah dan Islam baik yang bersifat politik maupun agamis tidaklah dapat
dibuktikan dengan teks-teks sejarah yang otentik dan akurat; hal ini baru
sebatas dugaan-dugaan saja.
4. Lebih dari pada itu bahwa gagasan Thoha
Husein dalam konteks diatas kalaulah kita mau lebih kritis dan teliti ternyata
hanyalah sebatas penjiplakan dari buah pemikiran seorang missionaris
berkebangsaan Inggris dalam usahanya untuk meragukan keotentikan dan
keorisinilan substansi Al-Qur'an dalam sebuah buku yang berjudul “Dhail Maqâlah
fi al Islam”.20
Demikianlah Thoha Husein dalam bukunya “Fî al-Syi‘r al-Jâhilî”, sebuah
karya beliau yang banyak menimbulkan polemik dalam kancah pemikiran Mesir pada
tahun1926-an, disamping masih banyak lagi terobosan pemikiran yang beliau
gelindingkan dalam wacana pemikiran Mesir yang masih erat kaitannya dengan tema
pembahasan makalah ini. Seperti pernyataannya bahwa ayat-ayat kisah dan sejarah
dalam Al-Qur'an hanyalah terdapat pada ayat-ayat Madaniyyah saja dalam
kapasitas untuk menguatkan pandangannya
bahwa keadaan sosial masyarakat Makkah saat itu sangatlah rendah dan
bahwasannya Muhammad banyak terpengaruhi dengan kultur Ahli Kitab saat beliau
berada di Madinah. Pernyataan ini kalaulah kita rujuk kepada asbab nuzûl ayat
sangatlah tidak akurat, bahkan sesungguhnya ayat-ayat kisah dan sejarah dalam
Al-Qur'an malah lebih banyak kita
dapatkan pada ayat-ayat Makkiyyah, seperti dalam surat Al-‘'A‘raf, Yûnus, Hûd,
Al-Kahfi, Maryam, Thâhâ, Yûsuf dan Al-Syu‘arâ’, dimana kesemua surat tersebut
sangatlah penuh dan kental dengan ayat-ayat kisah dan sejarah.
Muhammad Ahmad Khalfullah dan kisah
Al-Qur'an
Tepatnya pada tahun 1946, Muhammad Ahmad Khalfullah dengan disertasi
doktoralnya yang berjudul “Al-Fann al-Qashashî fî Al-Qur'an” telah
menggoncangkan dunia pemikiran di Mesir dikarenakan substansinya yang penuh
dengan gagasan-gagasan baru dan kontroversial seputar kisah Al-Qur'an, sehingga membuat Cairo
University tempat dimana beliau mengajukan disertasinya mengumumkan untuk
menolak disertasi tersebut. untuk disidangkan.
Adapun yang melatarbelakangi gagasan beliau sebagaimana yang ditulis
dalam disertasinya adalah hasil riset dan penelitiannya yang menyatakan bahwa
sebagian besar para mufassirin mengganggap bahwa kisah Al-Qur'an adalah bagian
dari “mutasyâbih Al-Qur'an”, dimana fenomena ini dimanfaatkan betul oleh
orang-orang kafir dan mereka-mereka yang memiliki persepsi yang sama dari para
missionaris dan orientalis untuk menghujat validitasi Nabi dan Al-Qur'an.
Mengenai faktor penyebab dari pemahaman para mufassirin diatas, sebagaimana
yang ditulis dalam bukunya, adalah kepincangan metodologi yang mereka pakai
dalam memahami hakikat kisah Al-Qur'an, dikarenakan metodologi yang mereka
pakai adalah sebagaimana para sejarawan memahami dokumen-dokumen sejarah, tidak
sebagaimana memahami teks-teks agama dan sastra. Atas dasar itulah, beliau
berinisiatif untuk memahami kisah Al-Qur'an dengan memakai metodologi teolog,
ahli bahasa dan para sastrawan sebagai sebuah solusi dari problematika diatas.
Mengenai faktor-faktor penunjang atas metodologi pemahaman yang
ditawarkan oleh beliau adalah :
1. Integritas pemaparan kisah dalam
Al-Qur'an tidaklah sebatas kepribadian para rasul dan nabi, akan tetapi lebih
difokuskan pada tema-tema agama dan maksud dan tujuan dari pemaparan kisah itu
sendiri baik yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial maupun etika.
2. Pemaparan Al-Qur'an tentang sejarah
tidaklah dimaksudkan pembahasan sejarah itu sendiri secara konvensional kecuali
dalam beberapa tempat yang sangat jarang sekali, sehingga tidak memungkinkannya
untuk dijadikan sebagai sandaran hukum secara umum, bahkan yang sering kita
dapatkan malah sebaliknya dimana Al-Qur'an tidak banyak menyinggung
komponen-komponen sejarah itu sendiri baik yang berhubngan dengan jaman maupun
tempat.
3. kurangnya kepedulian para mufassir
selama ini akan unsur penggambaran kisah Al-Qur'an dengan uslub dan kosa
katanya yang bersifat mu'jiz dan indah.
4. Tidak mampunya para orientalis dalam
memahami uslub dan metodologi Al-Qur'an dalam merekonstruksi sebuah kisah dan
integritasinya dengan formula kisah itu sendiri, dimana fenomena diatas
mendorong mereka untuk berkisimpulan bahwa telah terjadi sebuah evolusi karakter
dan identitas di dalam Al-Qur'an.
5. Kelemahan mereka dalam memahami
karakteristik substansi kisah Al-Qur'an beserta rahasia-rahasia yang terkandung
didalamnya, sehingga mendorong mereka untuk berpendapat sebagaimana para
pendahulu mereka dari kaum musyrikin Makkah dan murtaddin dari kaum muslimin
yang menyatakan bahwasannya yang mengajari Muhammad adalah seorang manusia dan
bahwasannya distorsi pemaparan sejarah banyak terdapat di dalam Al-Qur'an.21
Syubuhaat Khalfullah seputar kisah Al-Qur'an
Di antara beberapa gagasan yang dilontarkan oleh Khalfullah dalam rangka
keluar dari tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh para orientalis dan
missionaris dalam memahami hakikat kisah Al-Qur'an sebagaimana yang telah
disinggung diatas adalah :
Pertama:
Kurangnya komitmen Al-Qur'an terhadap realita sejarah dalam memaparkan
ayat-ayat kisah dan sejarah, hal ini sebagaimana yang dinyatakan dalam bukunya:
“Sesungguhnya kaum muslimin telah berupaya keras dalam memahami hakikat kisah
Al-Qur'an melalui pendekatan sejarah, atas dasar itulah mereka banyak melandaskan pemahamannya
terhadap kebudayaan sejarah, israiliyyat dan teori-teori yang masih sebatas
hipotesa dengan harapan dari ketiga komponen diatas mereka dapat menghilangkan
kesamaran sejarah yang terkandung dalam kisah Al-Qur'an baik yang berkenaan
dengan jaman, tempat maupun personal . . .
. . . dimana jikalah mereka
berpaling dari landasan-landasan diatas dan berupaya untuk memahami Al-Qur'an
dengan menggunakan metodologi seni sastra tentulah mereka akan terjauhi dari
tuduhan-tuduhan yang dilontarkan untuk menghujat nabi dan Al-Qur'an”.
Adapun di antara rujukan yang dijadikan sebagai postulat bagi pembenaran
gagasannya dari pendapat para ulama klasik maupun kontemporer adalah:
1. Pendapat pengarang Tafsir Al-Manar yang
menyatakan bahwa apa yang diriwayatkan dari kisah Harut dan Marut sebagaimana
yang tertera dalam surat Al Baqarah: 102, tentang sihir dan anggapan
bahwasannya Nabi Sulaiman telah mengerjakan perbuatan kafir . . . . . .
tidaklah mesti bahwa kejadian diatas benar-benar terjadi secara realita,
sebagaimana juga pernyataan ‘Abduh bahwasannya kisah Al-Qur'an hanya diturunkan
sebatas sebagai peringatan dan pelajaran bukan sebagai penjelasan sejarah. 22
2. Pendapat Ar Razi dan Nisaburi pada
catatan kecil At Tabari dalam menafsirkan surat Yûnus:39, “Sesungguhnya ketika kaum musyrikin berasumsi
bahwasannya kisah Al-Qur'an tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu,
mereka belum memahami bahwa maksud dan tujuan dari pemaparan kisah tersebut
bukanlah kisah itu sendiri, melainkan sebagi penjelasan akan kekuasaan Tuhan
dalam bertindak di alam semesta ini.
Dari paparan tersebut Khalfullah mengklaim bahwa dirinya telah berhasil
memberikan sebuah solusi dari problematika di atas dengan seruannya agar kita
dapat memahami hakikat hubungan antara sastra dan sejarah, dimana Al-Qur'an
dilihat dari aspek balaghah adabiyyah dan seni ceritanya tidaklah harus sesuai
(konsekwen) dengan realita.
Catatan-Catatan:
1. Khalfullah dalam konteks di atas
berupaya untuk memahami teks-teks Ilahi sebagaimana pemahamannya terhadap
teks-teks manusia, dimana beliau juga menambahkan bahwasanya konteks diatas
adalah murni kaitannya dengan masalah-masalah seni dan sastra dan tidak ada kaitannya
dengan realita maupun dokumentasi sejarah, hal ini sebagaimana yang dilakukan
oleh Shakespeare,Bernard Shaw, Syauqi … … dalam karya-karya mereka.
2. Sesungguhnya pernyataan para mufassirin
baik klasik maupun kontemporer bahwasannya kisah Al-Qur'an hanya diturunkan
sebagai peringatan dan petunjuk merupakan seruan bagi kaum muslimin untuk tidak
membahas kisah itu sendiri secara mendetail dan bukanlah berarti bahwa
makna-makna sejarah yang terkandung di dalam Al-Qur'an akseptabel untuk digugat
dan diinovasi.
3. Apa yang tertera di dalam Al-Qur'an dari
kejadian-kejadian yang sifatnya irrasional seperti pendengaran Nabi Sulaiman
akan pembicaraan semut dan penaklukan bangsa jin dibawah kendalinya, bukanlah
merupakan sebuah ambivalensi dengan rasio dan dalil-dalil yang sifatnya
dogmatis. Bukanlah semua kejadian yang sifatnya ajaib merupakan sebuah
kemustahilan, dikarenakan kalau demikian adanya maka akan berarti bahwasannya
segenap mukjizat adalah mustahil sebagaimana juga penemuan-penemuan ilmiah baru
yang oleh orang-orang dahulu sama sekali belum terbayangkan.
4. Kontradiksi antara apa yang dikisahkan
Allah Swt. kepada kita dalam Al-Qur'an dengan fakta-fakta sejarah tidaklah akan
terjadi kecuali dikarenakan dua faktor:
- Tidak adanya kisah Al-Qur'an dalam
literatur sejarah, dengan kata lain bahwasannya sumber-sumber sejarah bersikap
netral untuk menerima atau menolak terhadap kisah-kisah yang dibawa oleh
Al-Qur'an.
- Adanya kontradiksi antara kisah Al-Qur'an
dengan apa yang tertera dalam literatur sejarah.
Jikalah penyebabnya adalah faktor pertama,
maka bukanlah ketidakmampuan kita dalam melacak kisah-kisah Al-Qur'an dalam
literatur sejarah berarti sebuah bukti kongkrit akan ketidakberadaan
kisah-kisah tersebut dalam realitanya. Adapun jikalah terdapat kontradiksi
antara kisah Al-Qur'an dengan apa yang terdapat dalam literatur sejarah, maka
dalam hal ini hendaklah kita melihat kepada substansi sejarah itu sendiri
apakah ia bersifat mutawatir dalam periwayatannya sehingga layak bagi sebuah
teks Al-Qur'an untuk diinterpretasi ulang sehingga selaras dengan fakta sejarah
diatas ataukah ia sebatas zhanniyyat yang secara keotentikannya masih belum
dapat dipertanggung jawabkan?
5. Adapun asumsi Khalfullah bahwasanya
unsur sejarah bukanlah merupakan bagian dari maksud dan tujuan diturunkannya
Al-Qur'an dan ketergantungan kita dengan
realita kejadian-kejadian yang digambarkan oleh Al-Qur'an memberikan kesempatan
bagi musuh-musuh Islam untuk menghujat nabi dan Al-Qur'an bahkan mendorong kaum
muslimin untuk tidak mempercayai kandungan Al-Qur'an … …, Maka dalam hal ini
kita akan balik bertanya: apakah solusi yang ditawarkan oleh beliau dalam
memahami kisah Al-Qur'an dengan menjadikannya sebagai sebuah kreasi seni akan
menjauhkan Al-Qur'an dari tangan musuh-musuhnya?
Kedua:
Asumsi Khalfullah bahwasannya Al-Qur'an mengandung dongengan orang-orang
yang terdahulu, dimana diantara postulat
yang dijadikan sandaran beliau dalam hal ini adalah anggapannya bahwa tatkala
kaum musyrikin menyebutkan Al-Qur'an sebagai “asâthir al-awwalîn” bukanlah tanpa alasan
dan dikarenakan kebodohan dan kedengkian
mereka, melainkan hal ini merupakan hasil dari sebuah keyakinan kuat yang
mereka yakini … … sebagaimana Al-Qur'an sendiri secara eksplisit tidak
menafikan akan keberadaan “asathir” didalamnya,
sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Furqân:5-6, “Dan mereka berkata:
dongengan-dongengan orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan maka
dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang. Katakanlah:
Al-Qur'an itu diturunkan oleh Allah yang mengetahui rahasia di langit dan di
bumi. Sesungguhnya Dia adalah Mahapengampun lagi Mahapenyayang”. Pada ayat
diatas, Al-Qur'an hanyalah sebatas menafikan anggapan bahwa dongengan-dongengan
tadi merupakan karya Muhammad, disamping juga untuk menguatkan bahwasannya ia
adalah benar-benar diturunkan oleh Allah Swt. … … Atas dasar itulah, pendapat
yang menyatakan bahwasannya Al-Qur'an mengandung dongengan-dongengan, dalam
hemat beliau, bukanlah merupakan satu
hal yang kontradiktif dengan teks-teks Al-Qur'an itu sendiri. Masih
menurut beliau, bahwasannya pembahasan
Al-Qur'an tentang “asâthir” timbul disaat ia berinteraksi dengan penduduk
Makkah yang mayoritas mereka terdiri dari kaum musyrikin, dimana pada saat yang
sama kita tidak mendapatkan satupun dari ayat-ayat Madaniyyah yang membahas
topik diatas (sebuah fenomena menarik yang membutuhkan interpretasi lebih
jauh).
Catatan penulis:
1. Sesungguhnya kisah-kisah Al-Qur'an
merupakan kumpulan berita dan kejadian sejarah yang terkonstruksi secara rapih
dan kokoh dari sebuah hakikat yang bersifat absolut dan belum tersentuh dengan
hal-hal yang bersifat utopian dan imajinatif. Aallah berfirman: “Sesungguhnya
pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai
akal. Al-Qur'an itu bukan cerita yang dibuat-buat akan tetapi membenarkan
‘kitab-kitab’ yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai
petunjuk dan rahmat bagi kaum beriman. (12:111)
2. Sebuah ambivalensi telah terdapat dalam
alur pemikiran Khalfullah, dimana pada salah satu kesempatan beliau menyatakan
bahwasannya perkataan “asathir” di dalam Al-Qur'an hanyalah terdapat pada
ayat-ayat Makkiyyah saja dikarenakan faktor lingkungan jahiliyyah saat itu dan
tidak kita dapatkan pada ayat-ayat Madaniyyah dikarenakan lingkungan Madinah
yang telah berperadaban, dan pada kesempatan lain beliau juga menyatakaan
bahwasanya tatkala penduduk Makkah menisbatkan kisah-kisah Al-Qur'an sebagai
dongengan-dongengan belaka hal ini bukanlah dikarenakan kebodohan mereka akan
realita-realita sejarah, dimana pada saat yang sama sangkaan-sangkaan bathil
tersebut tidak terdetik dalam diri penduduk Madinah.
3. Adapun asumsi Khalfullah bahwasannya
Al-Qur'an itu sendiri tidak menafikan akan adanya dongengan-dongengan belaka
didalamnya, melainkan yang dinafikan adalah kalaulah dongengan-dongengan tadi
merupakan hasil kreasi Muhammad, dalam hemat kami, merupakan sebuah kekeliruan. Berkenaan dengan surat
Al-Furqon:5-6, sebagaimana yang dijadikan pijakan oleh beliau, bahwasannya
pernyataan orang-orang kafir: “Al-Qur'an
adalah dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan” sesungguhnya
yang dijadikan sebagai obyek pada pernyataan diatas adalah Al-Qur'an secara
keseluruhan dan bukanlah sebatas pada kisah Al-Qur'an itu sendiri, dalam hal
ini akan sangat transparan kalau kita merujuk kepada konteks diturunkannya ayat
diatas sebagaimana yang difirmankan dalam surat Al-Furqân:1-6.
Maka apakah tuduhan orang-orang kafir “Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah
kebohongan yang diada-adakan”, kemudian pernyataan mereka: “Dongengan
orang-orang dahulu dimintanya supaya dituliskan” ditujukan kepada kisah
Al-Qur'an secara khusus ataukah Al-Qur'an
secara keseluruhan ?
Sesungguhnya ada dua pernyataan yang dilontarkan oleh orang-orang kafir
dalam konteks ayat diatas :
- Al-Furqân:4 (“Dan orang-orang kafir
berkata: ‘Al-Qur'an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh
Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain’”).
- Al-Furqân:5 (“Dan mereka berkata: ‘Dongengan-dongengan
orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan maka dibacanya dongengan itu
kepadanya setiap pagi dan petang’”).
Kedua pernyataan diatas bermuara pada satu substansi yang sama, yaitu
bahwasannya Al-Qur'an merupakan hasil kreasi Muhammad yang dia peroleh dari
orang lain, dimana kalaulah kita merujuk kepada Al-Qur'an itu sendiri kita
dapatkan bahwasannya ia sendiri telah mengcounter pernyataan pertama,
sebagaimana yang tertera dalam firmanNya: “Maka sesungguhnya mereka telah
berbuat suatu kezaliman dan dusta besar”,
dan pernyataan kedua dalam firmanNya: “Katakanlah: Al-Qur'an itu
diturunkannya oleh Allah yang mengetahui rahasia di langit dan dibumi.
Sesungguhnya Dia adalah Mahapengampun lagi Mahapenyayang”. Maka, apakah logis
bagi yang maha mengetahui segala rahasia di langit dan bumi untuk berinteraksi
dengan dongengan-dongengan belaka dan menjadikannya sebagia alat bantu dalam
upaya mensosialisasikan nilai-nilai uluhiyyat kepada hamba-hamba-Nya?23
Ketiga:
Diantara beberapa postulat yang dijadikan penguat oleh Khalfullah atas
gagasannya, bahwa Al-Qur'an adalah human expression dan bahwasannya pemberitaan
gaib Al-Qur'an bukanlah merupakan sebuah mukjizat dan realita yang harus
diyakini keberadaannya, adalah asumsi beliau bahwa terdapat banyak kontradiksi
dalam kisah Al-Qur'an, sebagai contoh adalah pemberitaan Al-Qur'an tentang awal
peneriman wahyu oleh nabi Musa dan percakapan Tuhan dengan-Nya sebagaimana yang
tertera pada tiga surat dalam Al-Qur'an (thâhâ, an-Naml dan Al-Qhashas).
Catatan Catatan:
1.Sebagian ahli tafsir dalam memberikan
solusi atas problematika diatas yang secara eksternal terdapat kontradiksi
menyatakan bahwasannya pada kisah Musa diatas, Al-Qur'an hanyalah sebatas
menggambarkan akan kondisi suatu kaum yang tidak berkomunikasi dengan bahasa
Arab, atas dasar itulah bahwasannya penerjamahan makna-makna Al-Qur'an tidaklah
mengandung mukjizat secara linguistik sebagaimana yang dibawa oleh Al-Qur'an
itu sendiri, dikarenakan tarjamah tersebut
kembali kepada perkataan manusia.24
2. Sesungguhnya penggambaran Al-Qur'an akan
setiap kisah yang diceritakannya bersifat komprehensif, akurat dan sesuai
dengan realita kejadiannya dan bahwasanya perbedaan ekspresi dan uslub dalam
satu kisah yang sering kita dapatkan dalam Al-Qur'an pada hakekatnya merupakan
sebuah gambaran kisah tersebut secara
keseluruhan, dimana kita seakan-akan mengambil beberapa episode dalam beberapa
tempat yang berlainan sehingga apabila kita satukan akan terlihat jelas adanya
satu integritas kisah dalam Al-Qur'an, melainkan dikarenakan hikmah dan rahasia
tertentu dan dalam upaya korelasi antar ayat dan surat dalam Al-Qur'an kita
dapatkan pembagian episode-episode kisah dalam beberapa surat yang berlainan,
disamping kalau kesemuanya dikumpulkan dalam satu tempat hal ini akan
mengundang rasa jenuh dan bosan bagi pembacanya. Sebagai contoh adalah
pemaparan Al-Qur'an dalam tiga surat yang berlainan dalam konteks kisah Nabi
Musa yang oleh sebagian orang dianggap sebagai
sebuah kontradiksi dalam Al-Qur'an:
- Surat Thâhâ yang diturunkan dalam rangka
untuk menstimulir rasulullah dalam berdakwah disamping untuk meringankan beban
psikologis yang dideritanya, maka diceritakanlah kisah Nabi Musa dan
pertolongan Tuhan atas dirinya supaya dijadikan pelajaran bagi Rasulullah
bahwasanya pertolongan Tuhan merupakan sunnatullah dan selalu akan bersama para
rasul dan nabi-Nya.
- Adapun pada surat An Naml yang datang
dengan sebuah misi bahwasannya Al-Qur'an merupakan wahyu Ilahi yang diterima
oleh Rasulullah dari sisi yang Mahabijaksana lagi Mahamengetahui, maka diantara
tanda-tanda kebijaksanaan dan pengetahuanNya adalah seruan dan panggilanNya
terhadap Musa di tempat yang sunyi dan senyap seraya berfirman kepadanya:
“Sesungguhnya akulah Allah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”.
- Sedangkan pada surat Al-Qhashas yang
penuh dengan kisah Nabi Musa khususnya sebelum memasuki masa kenabiannya dan
bahwasannya karunia Tuhan akan selalu bersama orang-orang yang tertindas dari
hamba-hambanya yang beriman, maka dalam konteks di atas merupakan sebuah
akurasi yang sangat indah dan tempat sekali ketika Allah berfirman: “Wahai
Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam”.25
Kesimpulan
Dalam rangka memformat sebuah metodogi berinteraksi yang pas dan akurat
dengan ayat-ayat kisah dalam Al-Qur'an kita dihadapkan kepada dua pendapat yang
sama-sama memiliki kepincangan dan kekurangan:
1.Mereka yang “overstatement” dalam
memahami kisah Al-Qur'an, dalam hal ini terimplementasikan dalam kelompok yang menjadikan
Al-Qur'an sebagai kitab sejarah sehingga indikasinya mereka terlalu disibukkan
dengan pembahasan komponen-komponen yang terkandung dalam sebuah kisah seperti
pembahasan tentang identitas personal,jaman dan tempat.
2.Kelompok “Minusstatement” hal ini bisa
kita lilhat pada sosok Thoha Husein dan Khalfullah, dimana mereka memandang
bahwasannya Al-Qur'an mengandung distorsi sejarah dan pemaparan Al-Qur'an
tentang ayat-ayat kisah tidaklah harus diyakini keberadaannya dalam realita
kehidupan.
Atas dasar itulah dan dalam upaya untuk keluar dari dilema di atas kami
berpendapat bahwasannya kisah Al-Qur'an bukanlah seperti kisah sejarah yang
banyak menekankan pada pembahasan komponen-komponen yang terkandung di dalamnya
melainkan sebuah kisah yang penuh dengan hakekat-hakekat ilahiyyat, pelajaran
dan petunjuk hidup bagi segenap umat manusia (12:111/ 27:76-77) dan bahwasannya
besarnya intensitas kita terhadap kisah Al-Qur'an hendaknya sesuai dengan besar
intensitas Al-Qur'an itu sendiri, dikarenakan hal ini disamping untuk
mendekatkan kita kepada hikmah diturunkannya kisah Al-Qur’an juga merupakan
sebuah langkah defensif atas masuknya israiliyyat dalam interpretasi ayat-ayat
kisah dalam Al-Qur'an sebagaimana yang banyak kita dapatkan dalam literatur tafsir
klasik. Disamping itu juga bahwasannya kedudukan Al-Qur'an sebagai sebuah kitab
petunjuk tidaklah berarti bahwasannya kisah-kisah yang terdapat di dalamnya
mengandung nilai mitos, fiksi dan jauh dari realita (3:62).
Wa akhiran, bahwasanya kekurangan dan kelemahan sudah merupakan tabiat
bagi setiap manusia.Dan kesempurnaan hanyalah otoritas Tuhan belaka yang tidak
dimiliki oleh seorangpun dari makhluknya. Atas dasar itulah kritikan dan
masukan terhadap substansi makalah ini sangat besar kami harapkan sebagai
langkah untuk saling mengisi dan berdialog guna pencapaian sebuah kebenaran.
Madinah Bu'uts, 6 Oktober 2000
Catatan pustaka:
1. M Abdullah Darraz, Madkhal ila Al-Qur'an
Al-Karîm, hal 49.
2. Abdul Karim Khatib, Al-Qishas Al-Qur’ani,
hal 52.
3. DR. Bayoumi Mahran, Dirasat Tarikhiyyah
min Al-Qur’an Al-Karim fi Bilad Al-‘Arab, Daar Al-Ma'rifah Al-Jami'iyyah, hal
6-7.
4. Sir William Muir, The life of Mohammad
and history of Islam, Edinburgh, 1923.
5. Lihat kisah Musa as. (Al-Baqarah:
47-74/Al-A‘raf: 104-155/Yûnus: 75-93/Thaha: 9-99/Al Syu‘ara 10-68/ Al-Qashas:
3-44/Ghâfir: 23-54).
6. Lihat tentang Ahdaaf Al-Qur’an wa
Maqâsiduhû, Tafsir Al-Manâr: 1/207-293.
7. Goldziher, Al-'Aqidah wa Al-Syari'ah fi
Al-Islam, tarjamah DR M Yusuf Musa, hal 12 dan 15. Lihat juga Alfred Guillaume,
Islam, Pelican books, 1964, pp.61-62.
8. Muhammad Ahmad Khalfullah, Al-Fann
Al-Qashashi fi Al-Qur’an, Sina li al-nasyr.
9. M. Abdullah Darraz, op.cit. ,hal 134.
Lihat juga Huart, Une nouvella source du koran, 1904, p 129.
10. M Abu Zahrah, Al-Qur’an, hal 363.
11. Malik bin Nabi, Al-Zhahirah
Al-Qur’aniyyah, Daar al-Fikr, hal 310.
12. Malik bin Nabi, ibid., hal 311-322.
13. M Abdullah Darraz, op.cit., hal
106-107.
14. T Noeldeke, Geschichte des Quarans, 1961,
p.16.
15. Risalah Al-Takwin, 22:2.
16. Al-Risâlah ila Al-‘Ibraniyyin,
11:17-19.
17. DR. Fadl Hasan Abbas, Qadlâyâ
Qur’aniyyah fi Al-Mausû‘ah Al-Brithaniyyah, Daar al-Basyir, Amman.
18. A.H.Gardiner, Egypt of the pharaohs,
Oxford, 1964, p.52.
19. M Ghazali, Nazharaat fi Al-Qur’an, Daar
al-Kutub Al-Haditsah, hal 122.
20. M. Ahmad 'Arfah, Naqd Matha'in fi
Al-Qur’an Al-Karim, Maktabah Azzahra.
21. Ahmad Khulfullah, op.cit., Sina li
al-nasyr.
22. M Rasyid Ridho, Tafsir Al-Manâr,
1/329-330.
23. DR Sholah Ya'kub Yusuf Abdullah, Al
‘Almaniyyûn Wa Al-Qur’an, disertasi doktoral di Fakultas Usuluddin, Al-Azhar
University, Kairo, jurusan Tafsir dan Ulûm Al-Qur’an.
24. DR Abdurrahman Jirah, At Tabsyir wa
Qûwa Al-Istinârah fi Misr.
25. DR Muh. Mahmud Hijazi, Al-Wihdah
Al-Maudhu'iyyah fi Al-Qur’an Al-Karîm, Daar al kutub al haditsah. Alfred Guillaume,
Islam, Pelican books, 1964, pp.61-62.
8. Muhammad Ahmad Khalfullah, Al-Fann
Al-Qashashi fi Al-Qur’an, Sina li al-nasyr.
9. M. Abdullah Darraz, op.cit. ,hal 134.
Lihat juga Huart, Une nouvella source du koran, 1904, p 129.
10. M Abu Zahrah, Al-Qur’an, hal 363.
11. Malik bin Nabi, Al-Zhahirah
Al-Qur’aniyyah, Daar al-Fikr, hal 310.
12. Malik bin Nabi, ibid., hal 311-322.
13. M Abdullah Darraz, op.cit., hal
106-107.
14. T Noeldeke, Geschichte des Quarans, 1961,
p.16.
15. Risalah Al-Takwin, 22:2.
16. Al-Risâlah ila Al-‘Ibraniyyin,
11:17-19.
17. DR. Fadl Hasan Abbas, Qadlâyâ
Qur’aniyyah fi Al-Mausû‘ah Al-Brithaniyyah, Daar al-Basyir, Amman.
18. A.H.Gardiner, Egypt of the pharaohs,
Oxford, 1964, p.52.
19. M Ghazali, Nazharaat fi Al-Qur’an, Daar
al-Kutub Al-Haditsah, hal 122.
20. M. Ahmad 'Arfah, Naqd Matha'in fi
Al-Qur’an Al-Karim, Maktabah Azzahra.
21. Ahmad Khulfullah, op.cit., Sina li
al-nasyr.
22. M Rasyid Ridho, Tafsir Al-Manâr,
1/329-330.
23. DR Sholah Ya'kub Yusuf Abdullah, Al
‘Almaniyyûn Wa Al-Qur’an, disertasi doktoral di Fakultas Usuluddin, Al-Azhar
University, Kairo, jurusan Tafsir dan Ulûm Al-Qur’an.
24. DR Abdurrahman Jirah, At Tabsyir wa
Qûwa Al-Istinârah fi Misr.
25. DR Muh. Mahmud Hijazi, Al-Wihdah
Al-Maudhu'iyyah fi Al-Qur’an Al-Karîm, Daar al kutub al haditsah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar