Motivation

Kamis, 25 Agustus 2016

KHUSYU’


KHUSYU’


Allah swt berfirman : Sungguh berbahagialah orang-orang mukmin yang khusyu’ (tenang) dalam shalatnya  (QS. Al-Mukminun : 1-2)

Khusyu’ dalam shalat mempunyai arti melakukan shalat dengan sikap ta’at dan tunduk kepada perintah Allah, takut shalatnya tidak diterima, mengharapkan ampunannya dan selalu merasa diawasi oleh-Nya, sehingga timbul semangat untuk shalat dengan sempurna supaya menjadi dekat kepada-Nya. Perasaan khusyu’ dalam shalat merupakan suatu keharusan, karena shalat yang tidak dilaksanakan secara khusyu’ tidak lebih dari gerak-gerik jasmani semata tanpa ada nilai lain disisi Allah. Secara sederhana khusyu’ dalam shalat dapat dibagi tiga :
1.      Lahiriah, yaitu melakukan gerak-gerik shalat dan ucapan-ucapannya sesuai dengan   
      tuntunan dan ajaran Rasulullah saw.
2.      Batiniah, yaitu melakukan shalat dengan hati penuh rasa harap, cemas, takut, diawasi
      dan mengagungkan Allah swt.
3.      Tempat dan suasana mendukung terciptanya pelaksanaan lahir batin dalam melakukan  
      shalat.
Melaksanakan ibadah shalat tanpa rasa khusyu’ berarti berada dalam kebinasaan. Dengan shalat yang dilakukan dengan khusyu’ kita bisa mendapat jaminan untuk mencapai kebahagian dan kejayaan didunia dan akhirat.
Timbul suatu pertanyaan, mengapa hati kita susah untuk khusyu’ didalam shalat ? Sebenarnya, khusyu’ dalam shalat bermula dari khusyu’ diluar shalat. Kalau diluar shalat hati tidak khusyu’ dengan Allah swt, tentu sulit untuk khusyu’ dalam shalat. Ibarat kita hendak membuat suatu pekerjaan yang berat, kalau kita tidak biasa melakukannya memang terasa berat, namun bagi mereka yang tiap hari bekerja deperti itu tentulah tidak terasa berat. Jadi, tidak khusyu’nya kita didalam shalat adalah disebabkan hati tidak khusyu’ diluar shalat, kalau diluar shalat tidak khusyu’ bukan mudah untuk memaksa-maksa hati untuk khusyu’ didalam shalat. Biarlah hati kita senantiasa dengan Allah swt dimanapun kita berada. Firman Allah swt : Mereka yang senantiasa mengingat Allah swt waktu berdiri, duduk dan baring (QS. Ali Imran : 191). Kalau kita dapat merasakan kehadiran Allah walau dimanapun kita berada, maka diwaktu shalat kita hanya menyambung atau mempertajam rasa tersebut. Artinya benih sudah ada tinggal disuburkan saja. Tapi bila hati tidak berhubungan dengan Allah swt, tiba-tiba dalam shalat baru hendak kita hubungkan tentulah sulit. Inilah rahasianya mengapa kita susah untuk khusyu’ dalam shalat. Kenapa kita menunggu dalam shalat untuk khusyu’? seharusnya dalam apapun hati kita selalu khusyu’ dan mengingat Allah swt.
Dalam ajaran Islam, dimanapun kita berada dan kapanpun  kita tidak boleh lupa dengan Allah swt, hati senantiasa ada hubungan dengan-Nya, dalam arti mengingat Allah tidak hanya dengan menyebut Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar namun lebih dari itu hati kita selalu mrngingatnya walau lidah tidak menyebut nama-Nya. Melihat kejadian ciptaan-Nya hati merasakan kebesaran-Nya hal tersebut akan semakin menyuburkan ingatan kita kepada sang pencipta. Bila mendapat nikmat, hati akan tersentuh dan timbul rasa malu bila tidak mensyukuri nikmat tersebut, bila ditimpa musibah atau ujian, hati merasa berdosa “dosa apakah yang telah aku perbuat”?, dengan demikian hati kita selalu mengingat Allah swt.
Sebab itulah sebagian ahli sufi berkata : “Aku merasakan keramaian dalam kesendirianku”. Kenapa ? karena dengan hanya melihat benda-benda ciptaan Allah, hatinya lantas mengingat sang penciptanya seolah-olah ia berdzikir, ia merasakan bahwasanya Allah bersamanya dan ia tidak sendiri.
Sayyidina Ali Karamallahu Wajhahu merasakan kekhusyu’an dalam shalatnya hingga sewaktu orang mencabut panah dibetisnya dia tidak terasa apa-apa, karena benih-benihnya sudah ada diluar shalat dan ia bukan suatu perasaan yang dibuat-buat. Pernah seseorang melakukan wirid/berdzikir dengan menundukkan kepala, lalu datang sayyidina Umar bin Khattab menegurnya dan berkata : “khusyu’ itu bukan dengan menunduk kepala akan tetapi khusyu’ itu ada dalam hati”. Bukan berarti menundukkan kepala tidak boleh, hal tersebut sah-sah saja kalau memang bisa membuat kekhusyuan yang lebih, namun yang lebih penting dari itu adalah hati seseorang tersebut merasakan kewujudan dan kehadiran Allah swt.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar