Motivation

Kamis, 25 Agustus 2016

PIDATO BAPAK PENGASUH PONDOK MODERN KH AHMAD SAHAL DI HADAPAN SISWA KELAS VI (ENAM) KMI DALAM MENGHADAPI RIHLAH IQTISODIYAH


PIDATO
BAPAK PENGASUH PONDOK MODERN
KH AHMAD SAHAL
DI HADAPAN SISWA KELAS VI (ENAM) KMI
DALAM MENGHADAPI RIHLAH IQTISODIYAH
TAHUN : 1974

            السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين و الصلاة و السلام على أشرف المرسلين و على آله و صحبه أجمعين.
 لإن شكرتم لأزيدنكم و لإن كفرتم إن عذابي لشديد. وما من دابة في الأرض إلاّ على الله روقها.

Motto  : " Yen Wani ing Gampang, wedia ing pakewuh, sabarang ora kelakan.
Kang rawe-rawe rantas, kang malang-malang putung, jer basuki mawa bea."

Anak-anakku sekalian,
            Saya berbicara kali ini betul-betul ikhlas. Hanya saya akan ambil sedikit-sedikit, singkatnya - pucuknya. Semua yang saya katakan ini, bahkan sedikitnya direkam, dan rekaman ini nanti mudah jadi buku, dapat dibaca oleh seluruh umat, sampai-sampai pada anak cucu saya sendiri dan anak-anakku sekalian yang ada.

بلّغوا عنّي و ليبلغ الشاهد العائب

            Sampaikanlah kepada yang ghaib, sampaikan kepada anak kandung saya sendiri, sebab saya mengharap, mendo'a, benar-benar anak-anak kita ini, yang dimuka saya khususnya, dapat hidup yang manfaat, hidup ridhallah, hidup taqwa, cukup sandang pangan, cukup sangu ibadah, tidak canggung didalam mencari bekal-bekal untuk hidup.
Ini seperti kepada anak-anak saya sendiri.

Anak-anakmu sekalian,
Sebagai muqoddimah, jangan sampai salah terima, kalau Pondok Modern, pak Sahal, ataupun pak Zarkasy itu anti kepada siapa yang menjadi pegawai, anti kepada priyayi, anti kepada buruh, tidak ! Sama sekali tidak ! Ini supaya dicatat lebih dahulu. Saya tidak menghalangi, saya tidak anti, saya tidak memusuhi orang yang menjadi pegawai itu. Maka disini saya tekankan didalam niatmu, jangan sampai salah niat ! kalau sampai salah niat, akan rugi hidupmu, selama hidupmu hanya karena niat.
Umpamanya: Masuk ke Pondok Modern ini ingin menjadi pegawai, itu berarti niatmu sudah kalang kabut, jangan sampai niatmu itu rusak, maka disini saya beri jalan, bagaimana cara orang hidup. Kalau sekarang anak-anak ini kebetulan melarat orang tuanya, jangan kecil hati. Sekiranya anak-anakku yang dimuka ini anak-anak orang kaya raya, jangan besar hati. Ini diantaranya yang saya anggap penting dalam pembicaraan saya ini.
            Kalau saya, rumah tangga saya, anak istri cucu saya kebetulan kecukupan, jangan dikatakan saya ini bangga, tapi hanya syukur, hanya kebetulan, jangan dikatakan sombong, atau bangga. Tahukah anak-anakku sekalian, banyak persoalan. Pertama, ketika saya membuka madrasah betul-betul saya ini tidak mempunyai apa-apa. Sungguh, saya berbicara sungguh-sungguh, sebab seluruhnya sudah diwakafkan untuk semua. Berulang-ulang saya katakan : "Kuli ora dadi jempon ora manggon, ora jogan ora longan."
            Saya sudah tidak punya apa-apa, tetapi berani hidup
-          Berani hidup, tak takut mati
-          Takut mati, jangan hidup
-          Takut hidup mati saja



Ini semboyan saya.

وما من دابّة في الأرض إلا على الله رزقها

            Segala titah apapun, cacing-cacing, kutu-kutu, walang, kala jengking, kodok, kadal, semut, sudah dijamin oleh Allah akan diberi rizki. Ini saya pegang.

وما من دابّة في الأرض إلا على الله رزقها

Ini tidak boleh ditawar. Tidak boleh dipropagandai K.B ( Keluarga Berencana). Nanti terlalu banyak orang yang tanahnya habis kalau dimakan, tidak !

وما من دابّة في الأرض إلا على الله رزقها
حرك يدك أنزل عليك الرزق

Ini harus dapat. Gerakan tanganmu ! Allah akan menurunkan rizki kepadamu.

Anak-anakku sekalian
            Sungguh saya sudah tidak punya apa-apa. Konsekwensinya saya digoda sampai melarat habis-habisan, tapi perkiraan saya tidak sampai lepas. : "Kumlawe, Gumreget".
            Jangan kecil hati hanya karena tidak menjadi pegawai. Menghadapi hidup jangan kecil hati, betul-betul jangan kecil hati.
            Pada suatu masa beban akan menimpa keluarga. Sebagaimana yang pernah dialami keluarga saya. Bagaimana orang tua saya menyekolahkan anak-anaknya. Apa yang saya pakai untuk menyekolahkan anak saya. Keponakan saya sekolah ini, itu sekolah sana, anak pak Lurah sekolah HIS yang sekolahnya sampai tiga Gulden atau tiga rupiah artinya padi satu kwintal. Tetapi saya bismillah. Tanah saya yang sebelah sana sebanyak 1\2 hektar, sudah saya wakafkan, yang sebelah satu 1\2 hektarpun, sudah saya wakafkan. Hanya tanaman itu (kelapa), selama ini pak Sahal masih sekolah hasilnya masih tetap dipungut untuk menyekolahkan anak pak Sahal. Yang berarti anak-anak itu akan meneruskan cita-cita pak Sahal.
            Terus saya tanam pohon kenet kenet itu pohon dimuka Daru-l-Kutub) itu kenet namanya, atau soga. Klotokakannya itu soga untuk mengecat kain-kain jarit Ponorogo dan lain-lainnya. Kenet itu saya guanakan untuk ongkos pergi haji.
            Harus konsekwen, kelapa untuk ongkos sekolah anak-anak saya. Bismillah saya berjalan sendiri. Kalau musim kemarau saya sirami sendiri, senen kemis, agar kelapa dapat tumbuh. Alhamdulillah, kenet bisa tumbuh. Kenet yang asli tidak boleh dipotong, selama saya masih hidup. Sudah saya wasiatkan, untuk sejarah, namanya tunggu urip.
            Jagon yang tinggi itu namanya jagon mas'ud atau marfu'. Itu kepunyaan sendiri, bukan kepunyaan pondok. Dulunya kepunyaan pak Shaleh, kemudian dibeli oleh Mas'ud Zakaria dari Gempol, Sidoarjo (yang menjadi kepala dapur) lantas dibeli oleh Bu Tik. Itu tidak boleh dipotong, untuk pertahanan banjir, untuk sejarah.
            Kenet kalau diambil klotokannya untuk kayu bakar yang kemudian dibeli oleh dapur untuk kayu bakar (waktu itu kepala daurnya Muhammad Suni dari Kalimantan), setahun, dua tahun, saya kumpulkan. Sampai Bu Tik sendiri kalau mengambil kayu bakar dari kenet harus membeli, sebab kenet tersebut sudah saya niatkan untuk pergi haji. Harus pakai disiplin. Alhamdulillah uang dapat terkumpul Rp !0.000 (sepuluh ribu rupiah) gul makbul, dapat pergi haji dari hasil kenet. Uang lebih sampai di Jakarta. Uang tersebut harus habis. Terus Bu Tik saya ajak pelisir ke Sumatera, Alhamdulillah, masih turnah, terus turahannya saya belikan sapi untuk dipotong.
            Tanah yang saya tanami kelapa tidak lebih dari 1\4 hektar, sebanyak kurang lebih 40 batang, yang sekarang mungkin hanya 20 batang, sebab lainnya sudah dipotong untuk BPPM, untuk Wisma Hadi, untuk koopel. Kelapa untuk menyekolahkan anak-anak saya Alhamdulillah gul, magbul, lebih-lebih waktu itu Landbow (pertanian) mencari bibit kelapa. Disini saya kumpulkan harganya 2-3 kali lipat dari harga umum. Sampai sekarang Alhamdulillah anak-anak sarjana. Ya sarjana dalam negeri maupun luar negeri. Ya sarjana umum maupun agama. Alhamdulillah makbul dapat naik haji, tinggal sejarahnya.
            Itu diantara nasib yang saya alami, tetapi tetap berani. Berani hidup, tak takut mati. Takut mati, jangan hidup. Takut hidup, mati saja. Tak perlu korupsi, bisa hidup.

Anak-anakku sekalian:
            Jangan kecil hati. Jangan edan-edanan. Saya tidak anti, kalau nanti anak-anakku menjadi mahasiswa, menjadi sarjana, kemudian menjadi pegawai, jadi buruh, gajinya sebulan Rp 25,000 sampai 50,000, tetapi jangan kesana tekanannya. Jangan terlalu menggaris bawahi kesana, sampai-sampai lupa kepada tugasnya.
            Kalau orang sudah menjadi pegawai (ini tidak semua, ini tidak semua, tapi pada umumnya) mati otaknya. Sudah sokolah setengah mati, masuk tsanawiyah, terus ke Gontor, terus menjadi mahasiswa, akhirnya menjadi pegawai, lupa segalanya. Kitabnya tidak dibaca lagi, tabligh tidak mau, nasib rakyat tidak dipedulikan. Hanya mengumpul dengan anak dan istirinya, khianat…….khianat…….Hanya akan menghitung-hitung tanggal berapa ini, kurang berapa hari sebulannya, kapan naik pangkatnya, kapan naik gajinya, kapan ini, kapan itu. Hidup jor-joran dengan kawan-kawannya Naudzubilah.
            Sudah mondok sekian lamanya belajar agama, seperti tafsir, hadist, dam lain-lainnya tidak untuk tabligh, tidak untuk ngursus, tidak untuk apa-apa. Hilang setelah menjadi pegawai. Sudah lupa kepada masyarakat, lupa kepada nasib Negara, lupa nasib agama. Masih untung kalau masih mau sembahyang atau jama'ahan. Itulah pegawai, boleh dilihat. Menjadi pegawai 10-20 tahun belum bisa membeli rumah, itu biasa. Paling-paling kalung sebentar, cincin sebentar, Honda sebentar.
            Katakan pegawai tinggi, gajinya Rp 25,000, sampai 50,000, dimakan yang Rp 15,000 atau 17,000, itu sudah hemat bagi seorang priyayi. Kalau sebulan bisa nyelengi Rp 10,000, maka baru 20 tahun mendatang akan bisa membeli sawah 1 hektar dengan harga 1 1\2 juta rupiah.          
            Kalau mencari penghidupan banyak sekali. Nanti akan ditunjukan bagaimana membuat sabun, kecap, krupuk dan lain-lainnya supaya diperhatikan.

Anak-anakku sekalian
            Jangan sampai anak-anakku sekalian menyandarkan warisan orang tua, Warisan tidak berkahi. Anggaplah tidak akan menerima warisan. Hidup self helf, berani menolong sendiri. Maka kalau hanya menyandarkan orang tua, warisan orang tua, itu pengemis, kere. Kalau memang jantan tidak usah menerima warisan, seperti trimurti, seperti pak Sahal, Pak Fanani, Pak Zarkasy.
            Ayah saya hanya mempunyai sawah tak lebih dari 1 hektar. Tapi anak-anaknya seperti Pak Lurah, saya, Pak Fanani, Pak Zarkasy, dll. Nya sabar. Pegang doran, pegang cangkul, mencangkul, betul-betul petani. Pak Lurah sepuh, ayahnya pak Iwuk (Muhsin) juga mencangkul, sayapun demikian, tapi tidak kecil hati. Zaman dahulu, kalau orang sudah sekolah Belanda itu orang ningrat, merasa orang sudah terpandang, orang yang maju, cerdas, karena sekolah disekolah Belanda. Tetapi ayah saya tidak demiian. Ayah saya seorang Kyai desa, tapi terpandang, jujur, adil dan dicintai.

Anak-anakku sekalian
            Menjadi murid atau santri Pondok Modern jangan kecil hati. Kamu itu belum apa-apa. Besarkan hatimu. Yen wania ing gampang, wedia ing pakewuh, sabarang ora klakon. Ini wasiat Ramayana yang artinya : kalau hanya ingin enaknya saja, takut kepada kesulitan, kepada kesukaran hidup,….apa saja tidak akan tercapai. Lieben is treigen. Itu manusia hidup di dunia, jangan takut hidup. Ini yang harus dipegang mulai sekarang.

Anak-anakku sekalian
            Saya yakin bahwa wali-wali murid santri Pondok Modern hampir 90 % petani besar, umpanya yang dari daerah lampung, banyak yang kaya karena petani, saya tahu ada yang mempunyai kebun lada, kopi, cengkeh dam lain-lain.
            Banyak orang yang dapat naik haji karena hasil pertaniannya, bahkan yang dapat haji adalah petani, bukan pegawai, contoh ayah saya sendiri, petani kuno, yang hanya sekedar tani padi saja dengan system kuno, lebih-lebih sekarang dengan teknologi baru, ada semprot hama, irigasi sudah diatur, ada benih unggul, ini akan menambah produksi 2-3 kali lipat hasilnya dengan zaman bapak saya. Kalau dulu 1 hektar hanya dapat menghasilkan 3 ton, tapi sekarang sudah bisa menghasilkan 5-7 ton. Sekarang kalau mempunyai sawah satu hektar saja, sudah berapa rupiah hasilnya, sudah bisa mealwan sarjana yagn gajinya 25,000, sampai 50,000, perbulannya. Itu hanya satu hektar, lebih-lebih lagi kalau sampai 2-3-4 samapai 5 hektar. Ini petani, tidak usah korupsi, tidak usah menipu.

Anak-anakku
            Itulah sebabnya Gontor tidak akan menjadi pabrik\bengkel kaum buruh, mulai dulu sampai sekarang.
            Orang tidak mempunyai ilmu agama, kok menjadi guru agama. Orang gak punya iman kok ngajak orang untuk beriman. Itu bagaimana ? ini zaman edan. Ora edan ora klakon, melu edan ora kedumen, manging sabegja-bagja ne sing edan, isin bagja sing eling lan waspada. Tetap Trimurti aling lan waspada, Alhamdulillah pak Fanani bisa mengarang buku, seperti " Senjata Penganjur", "Jurnalsitik Putri" dll. Begitu juga pak Zarkasy, Alhamdulillah bisa untuk makan. Ini berani hidup, tidak usah menjadi pegawai, bahkan dapat memimpin pegawai.

Anak-anakku sekalian
            Yang lebih penting lagi adalah jujur, percaya kepada Allah, jangan kecil hati. Inilah yang saya amanatkan. Amanat saya pidato saya yang pertama kali mengenai iqtisodiyah. Mengenai ekonomi, pengupa jiwa, golek sandang pangan, sangune urip. Dulu-dulu tidak, ini untungnya anak-anak kelas enam sekarang dan lagi ini wasiat. Jangan sampai anak-anakku ini, sampai guru-guru, seperti pak Badri, Pak Misrahmat, dllnya iri kepada kawan-kawannya yang menjadi pegawai, iri kepada yang mendapat gaji, sekali lagi jangan kecil hati, jangan salah niat. Ini yang saya tanamkan pertama kali kepada anak-anakku.
وما من دابّة في الأرض إلا على الله روقها

            Jangan takuthidup, yang penting iman kuat, jaga kehormatan, insya Alalh cukup rizki.

Anak-anakku
Ini saja anak-anakku, mudah-mudahan ada manfaatnya ada barakahnya, untuk hidup sampai kiamat, Khusnul khatimah.

و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Gontor,                  Sya'ban 1394

Ttd
(KH Ahmad Sahal

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar