BELAJAR DARI
BENCANA
Pada
suatu shubuh, Setelah mengumandangkan adzan
di Masjid Madinah, lama Bilal menanti Rasul keluar
dari peraduannya untuk shalat berjamaah,
namun Rasul tak juga muncul. Karena itu, pergilah
Bilal menemuinya, didapatinya Rasul sedang duduk di atas sajadah menghadap qiblat, menangis tersedu-sedu. Bertanya Bilal, "Ya Nabiyallah, apa yang menyebabkan engkau menangis? Padahal kalau ada kesalahanmu, baik dahulu ataupun nanti, akan diampuni oleh Allah SWT". Rasul
menjawab, "Wahai Bilal, tengah malam
telah datang Jibril AS membawa wahyu kepadaku dari Allah
SWT yang berbunyi:" : Sesungguhnya dalam
penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
(Ali Imran:190-191). Rasul melanjutkan, Sengsara
hai Bilal! bagi orang yang membaca akan ayat ini lalu tidak difikirkannya.
Firman Allah dan
ungkapan Nabi tersebut di atas mengandung makna yang dalam bagi kita untuk senantiasa memikirkan berbagai fenomena alam yang terjadi sekeliling kita,
terutama disaat banyaknya bencana yang menimpa sebagian dari kita.
Apabila kita merujuk kembali ke firman Allah SWT diatas,
dapat diambil sebuah hikmah bahwa segala apa yang terjadi di dunia ini baik di
siang maupun malam adalah tanda kekuasaan Allah SWT, dan juga merupakan
pelajaran bagi manusia, bahwa manusia adalah makhluk lemah dan tiada berarti di
hadapan-Nya, secanggih apapun teknologi hasil cipataan manusia, kalau Allah SWT
berkehendak lain maka terjadilah sesuai dengan kehendak-Nya.
Selain tanda dari kekuasaan Allah SWT, fenomena alam
yang terjadi disekitar kita juga merupakan peringatan bagi kita, agar kita
mengelola dan memanfaatkan ni’mat Allah SWT yang tak terhingga banyaknya secara
profesional dan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh-Nya, mengingat
peran kita sebagai khalifatullah di dunia yang bertanggung jawab penuh
untuk memakmur bumi ini. Benarlah apa yang diungkapkan oleh Nabi, akan sengsara
orang-orang yang tidak mau menggunakan akalnya untuk berfikir dan berdzikir
dalam rangka mengingat Allah SWT dan mensyukuri ni’mat-Nya sesuai dengan
tuntunan syari’at dan ajaran yang telah diajarkan Allah SWT dan Rasul-Nya. Wallahu’alamu bi ash-showab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar