Maaf, Terima Kasih
Jumat (27/5) kemarin, untuk pertama kalinya
saya masuk kerja lagi setelah terbaring di rumah sakit. Kali ini saya lewat Jl
Pejaten. Alhamdulillah, saya lancar berjalan ke kantor karena tak ada trotoar
di sana. Pada Selasa (17/5/2005) saya harus masuk rumah sakit karena dipukul
orang yang naik motor di trotoar. Saya tak mempunyai memori soal kejadian itu
hingga saya tersadar telah berada di Unit Gawat Darurat RS Pertamina, Jakarta,
sekitar pukul 21.00 WIB. Tapi saksi mata menyebut pemukul saya berseragam
militer.
Selama di rumah sakit, saya merasa bahwa
sayalah yang bersalah, karena telah berjalan kaki di trotoar. Di Jakarta,
trotoar adalah untuk pedagang kaki lima, parkir mobil, dan pengendara sepeda
motor.
Kepada pengendara motor yang manghajar
saya, maaf, saya telah mengganggu kelancaraan bermotor Anda di trotoar. Maaf
kalau saat itu saya lancang menegur Anda bahwa trotoar adalah untuk pejalan
kaki, sehingga saya tak mau minggir ketika Anda mengklakson saya. Saya tahu,
banyak orang yang mudah marah karena ditegur. Saya pernah menegur orang yang
hendak menyelinap masuk antrean di depan loket Stasiun Gambir, Jakarta. Ia juga
marah-marah.
Tapi, saya juga harus berterima kasih
kepada seorang tentara yang membeli tiket tanpa antre tak marah ketika saya
tegur. Saat itu antrean begitu panjang, orang harus menunggu dua-tiga jam untuk
bisa mendapatkan tiket tujuan Bandung. Tiba-tiba seorang tentara berseragam
lengkap dengan pisau di pinggang beli tiket tanpa antre, dan dilayani petugas piket.
Saya menduga, ia marah mendengar teguran
saya, sebab, ia menghampiri saya begitu saya selesai beli tiket. Belum juga ia
sempat bicara, saya dahului bicara, menjelaskan alasan saya menegur dia. ''Saya
tahu, tentara akan didahulukan dalam pelayanan, tapi dalam kondisi banyak orang
berdiri antre berjam-jam, lebih baik Mas beli lewat belakang, sehingga nggak
dilihat orang yang lagi antre,'' kata saya meski dalam hati waswas,
jangan-jangan ia akan menghajar saya karena saya tegur dia di depan banyak orang.
Saya salut kepadanya. Ia malah berterima
kasih karena telah ditegur, dan meminta maaf karena tidak ikut antre. Ia
mengaku ditegur kakak angkatan dia yang saat itu juga mengawasi dia. Tapi, saya
juga pernah dimarahi orang yang saya tegur karena merokok di kendaraan umum. Ia
merasa berhak merokok, karena namanya saja kendaraan umum, jadi boleh dong
merokok, tak peduli banyak orang terganggu asap rokoknya.
Tapi, maafkan saya, kalau saya tidak tahu
bahwa ternyata merokok menghindarkan orang dari perbuatan jahat. Banyak orang
bilang, tidak pernah ditemui orang yang membunuh, mencuri, dan berkelahi sambil
merokok. Andai saja saat saya berjalan kaki di trotoar depan kantor itu sambil
merokok dan si pengendara motor yang lewat trotoar juga sambil merokok ... Mungkin
yang terjadi adalah basa-basi, saling menawarkan rokok, karena melihat rokok
masing-masing sudah hampir habis. Kata orang-orang, tak mungkin kan ketemu
orang tak dikenal lantas menawarkan uang ...
Saya pun merasa perlu berterima kasih
kepada Anda yang menganiaya saya, karena setelah itu --dengan luka terparah di
pelipis kiri dekat mata-- saya berkesempatan lagi belajar mengenal huruf dan
simbol, meski belajarnya di poli mata. Saya juga perlu berterima kasih karena
saya tak mempunyai memori peristiwa itu, sehingga saya tak perlu dendam kepada
Anda, dan atasan Anda tak tahu, meski sebenarnya ingin sekali melihat Anda
dihukum akibat perbuatan Anda itu.
Tapi, hikmah tentu saja ada, sehingga Anda
bisa bercerita kepada keluarga Anda, bahwa Anda telah menghajar pejalan kaki di
trotoar karena tak mau minggir ketika diklakson. Anda punya kesempatan
menularkan nilai-nilai kekerasan kepada keluarga Anda atau rekan yang seide
dengan Anda. Dari lingkup kecil inilah Anda bisa melanggengkan rejim kekerasan,
yang suatu saat mungkin Anda perlukan di masa depan Anda. Kecintaan Anda pada
kekerasan adalah modal utama untuk bisa melanjutkan rejim kekerasan di bumi
Nusantara ini. Dengan begitulah, Anda bisa memberi sumbangsih agar Amerika
Serikat tetap tak membantu Indonesia lewat pelatihan militer dan jual-beli
alat-alat militer.
Orang-orang di Kongres AS banyak menyimpan
kesan baik dalam hubungan personal dengan beberapa personel tentara Indonesia.
Di antara mereka ada yang perlu mengucapkan terima kasih karena ditolong tentara
Indonesia ketika ia diserang Khmer Merah di Kompong Cam, dekat Distrik Batai,
Kamboja, pada Mei 1993. Ia menyatakan, sangat kagum kepada tentara penolong
itu, karena dengan bekal peralatan yang minim bersedia menolong dia. Tapi,
kesan simpatik secara personal seperti ini tak akan meluluhkan Kongres AS untuk
menyetujui normalisasi kerja sama militer Indonesia-AS. Mereka masih melihat
personal TNI masih banyak yang mengedepankan kekerasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar