Motivation

Kamis, 25 Agustus 2016

KISAH INSPIRATIF


Maaf, Terima Kasih


Jumat (27/5) kemarin, untuk pertama kalinya saya masuk kerja lagi setelah terbaring di rumah sakit. Kali ini saya lewat Jl Pejaten. Alhamdulillah, saya lancar berjalan ke kantor karena tak ada trotoar di sana. Pada Selasa (17/5/2005) saya harus masuk rumah sakit karena dipukul orang yang naik motor di trotoar. Saya tak mempunyai memori soal kejadian itu hingga saya tersadar telah berada di Unit Gawat Darurat RS Pertamina, Jakarta, sekitar pukul 21.00 WIB. Tapi saksi mata menyebut pemukul saya berseragam militer.

Selama di rumah sakit, saya merasa bahwa sayalah yang bersalah, karena telah berjalan kaki di trotoar. Di Jakarta, trotoar adalah untuk pedagang kaki lima, parkir mobil, dan pengendara sepeda motor.

Kepada pengendara motor yang manghajar saya, maaf, saya telah mengganggu kelancaraan bermotor Anda di trotoar. Maaf kalau saat itu saya lancang menegur Anda bahwa trotoar adalah untuk pejalan kaki, sehingga saya tak mau minggir ketika Anda mengklakson saya. Saya tahu, banyak orang yang mudah marah karena ditegur. Saya pernah menegur orang yang hendak menyelinap masuk antrean di depan loket Stasiun Gambir, Jakarta. Ia juga marah-marah.

Tapi, saya juga harus berterima kasih kepada seorang tentara yang membeli tiket tanpa antre tak marah ketika saya tegur. Saat itu antrean begitu panjang, orang harus menunggu dua-tiga jam untuk bisa mendapatkan tiket tujuan Bandung. Tiba-tiba seorang tentara berseragam lengkap dengan pisau di pinggang beli tiket tanpa antre, dan dilayani petugas piket.

Saya menduga, ia marah mendengar teguran saya, sebab, ia menghampiri saya begitu saya selesai beli tiket. Belum juga ia sempat bicara, saya dahului bicara, menjelaskan alasan saya menegur dia. ''Saya tahu, tentara akan didahulukan dalam pelayanan, tapi dalam kondisi banyak orang berdiri antre berjam-jam, lebih baik Mas beli lewat belakang, sehingga nggak dilihat orang yang lagi antre,'' kata saya meski dalam hati waswas, jangan-jangan ia akan menghajar saya karena saya tegur dia di depan banyak orang.

Saya salut kepadanya. Ia malah berterima kasih karena telah ditegur, dan meminta maaf karena tidak ikut antre. Ia mengaku ditegur kakak angkatan dia yang saat itu juga mengawasi dia. Tapi, saya juga pernah dimarahi orang yang saya tegur karena merokok di kendaraan umum. Ia merasa berhak merokok, karena namanya saja kendaraan umum, jadi boleh dong merokok, tak peduli banyak orang terganggu asap rokoknya.

Tapi, maafkan saya, kalau saya tidak tahu bahwa ternyata merokok menghindarkan orang dari perbuatan jahat. Banyak orang bilang, tidak pernah ditemui orang yang membunuh, mencuri, dan berkelahi sambil merokok. Andai saja saat saya berjalan kaki di trotoar depan kantor itu sambil merokok dan si pengendara motor yang lewat trotoar juga sambil merokok ... Mungkin yang terjadi adalah basa-basi, saling menawarkan rokok, karena melihat rokok masing-masing sudah hampir habis. Kata orang-orang, tak mungkin kan ketemu orang tak dikenal lantas menawarkan uang ...

Saya pun merasa perlu berterima kasih kepada Anda yang menganiaya saya, karena setelah itu --dengan luka terparah di pelipis kiri dekat mata-- saya berkesempatan lagi belajar mengenal huruf dan simbol, meski belajarnya di poli mata. Saya juga perlu berterima kasih karena saya tak mempunyai memori peristiwa itu, sehingga saya tak perlu dendam kepada Anda, dan atasan Anda tak tahu, meski sebenarnya ingin sekali melihat Anda dihukum akibat perbuatan Anda itu.

Tapi, hikmah tentu saja ada, sehingga Anda bisa bercerita kepada keluarga Anda, bahwa Anda telah menghajar pejalan kaki di trotoar karena tak mau minggir ketika diklakson. Anda punya kesempatan menularkan nilai-nilai kekerasan kepada keluarga Anda atau rekan yang seide dengan Anda. Dari lingkup kecil inilah Anda bisa melanggengkan rejim kekerasan, yang suatu saat mungkin Anda perlukan di masa depan Anda. Kecintaan Anda pada kekerasan adalah modal utama untuk bisa melanjutkan rejim kekerasan di bumi Nusantara ini. Dengan begitulah, Anda bisa memberi sumbangsih agar Amerika Serikat tetap tak membantu Indonesia lewat pelatihan militer dan jual-beli alat-alat militer.

Orang-orang di Kongres AS banyak menyimpan kesan baik dalam hubungan personal dengan beberapa personel tentara Indonesia. Di antara mereka ada yang perlu mengucapkan terima kasih karena ditolong tentara Indonesia ketika ia diserang Khmer Merah di Kompong Cam, dekat Distrik Batai, Kamboja, pada Mei 1993. Ia menyatakan, sangat kagum kepada tentara penolong itu, karena dengan bekal peralatan yang minim bersedia menolong dia. Tapi, kesan simpatik secara personal seperti ini tak akan meluluhkan Kongres AS untuk menyetujui normalisasi kerja sama militer Indonesia-AS. Mereka masih melihat personal TNI masih banyak yang mengedepankan kekerasan.

Setelah peristiwa yang menimpa saya itu, banyak nasihat diberikan kepada saya, dan sejak kecil sudah beribu kali saya dengar: sing waras ngalah. Inilah kesempatan untuk meneruskan rejim kekerasan, karena orang-orang yang waras akan selamanya memberikan jalan bagi orang macam Anda dengan cara terus mengalah. Dulu, di trotoar tempat Anda menghajar saya, ada rambu huruf S disilang. Saya tidak tahu kalau simbol itu artinya: sipil dilarang lewat. Maaf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar