Motivation

Kamis, 25 Agustus 2016

MATA CANTIK NAN SEHAT TAK HANYA IMPIAN


Mata Cantik Nan Sehat Tak Hanya Impian



eramuslim - Mata, meski termasuk organ yang amat kecil, punya peran amat vital. Sayangnya, di zaman ini banyak ancaman bisa mengganggu staminanya. Komputer, polusi, bahkan pola makan yang tidak benar bisa jadi penyebabnya. Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

Pernah dengar nama Bernardino Ramazzini? Ramazzini (1633 - 1714), kini dikenal sebagai perintis kesehatan kera, mengaitkan hubungan pekerjaan dengan timbulnya penyakit.

Semua berawal ketika Ramazzini tertarik memperhatikan para pekerja sampah di Roma. Di masa tua para pekerja itu selalu saja mengalami sakit mata, bahkan sering berakhir dengan kebutaan. Setelah meneliti, Ramazzini menyimpulkan, penyebabnya adalah radang mata karena asap sampah. Asap sampah membuat mata lama-kelamaan menjadi kering, terinfeksi, memborok, dan buta.

Hampir tiga abad lewat sejak masa Ramazzini, berbagai gangguan kesehatan mata, meski tak sefatal yang dialami para pekerja sampah, masih mengintai masyarakat masa kini.

Cantik itu relatif
Bila seseorang memiliki mata yang berfungsi sempurna sebagai indera penglihatan, bisalah mata itu disebut sebagai mata sehat. Fungsi dasarnya ada tiga, yakni kemampuan menerima cahaya, membedakan bentuk, dan membedakan warna. Bisa disingkat menjadi kemampuan menerima sensasi cahaya, sensasi bentuk, dan sensasi warna.

Namun agar seseorang dapat melaksanakan kegiatan kehidupan sehari-hari dengan baik, masih diperlukan berbagai fungsi mata yang lebih tinggi. Fungsi itu adalah lapangan penglihatan yang normal, daya melihat dengan dua mata secara tunggal sehingga ia memiliki daya stereoskopi (daya melihat ruang/tiga dimensi), serta persepsi kedalaman (depth perception,).

Sayang, tidak semua orang memiliki daya stereoskopi. Untuk fungsi itu perlu dua mata yang fungsinya setara dan bisa terkoordinasi. "Jadi, orang yang memiliki satu mata tidak mempunyai gambaran tiga dimensi yang sebenarnya," tutur dr. Hadisujono S., spesialis mata.

Lalu bagaimana dengan patokan mata cantik? Secara umum kecantikan adalah keadaan yang diterima sebagai ukuran yang terkait dengan tata nilai serta budaya kelompok masyarakat tertentu.
Oleh karena itu, cantik dari sudut pandang ini bisa dibilang sebagai sesuatu yang relatif dan subyektif. Misalnya, di beberapa kelompok masyarakat, lipatan kelopak mata sering dianggap sebagai salah satu bentuk kecantikan.

Lain lagi sudut pandang ilmiah. Patokan mata cantik antara lain berdasarkan ukuran dan letak mata yang proporsional terhadap wajah. Mata juga dibilang cantik bila letaknya berada tepat di tengah-tengah wajah seseorang.
Juga bila lebar mata kiri sama dengan lebar cuping hidung dan sama pula dengan lebar mata kanan.

Meski demikian, bentuk asimetri tidak selalu mengakibatkan gangguan pandang. Gangguan fungsi baru terjadi bila disertai mata juling, atau posisi bola mata yang tidak normal.

150.000 kali per menit!
Ternyata gangguan yang sering menimpa mata banyak berkaitan dengan jenis pekerjaan, aktivitas kehidupan, dan kondisi lingkungan. "Keluhan seorang nelayan tentu berbeda dengan profesi operator komputer," Hadisudjono memberi contoh.

Seorang operator komputer akan mudah mengalami kelelahan mata dan berbagai jenis iritasi lain seperti berair, pedih, dll. Faktor penyebabnya antara lain ergonomi, mutu layar, pencahayaan, atau kelainan pada mata yang tidak dirawat sebagaimana mestinya, misalnya memerlukan kacamata tetapi kacamata tidak dipakai.

Pupil mata bisa disamakan dengan diafragma kamera yang menyesuaikan kebutuhan ketajaman melihat pada jarak tertentu. Bila melihat dekat pupil mengecil agar bisa lebih fokus dan pandangan jadi lebih tajam.

Dibandingkan dengan membaca buku yang membuat pupil bergerak 1 - 5 kali per menit, maka saat bekerja dengan komputer pupil bergerak 75.000 - 150.000 kali per menit! Itu karena si pelaku harus melihat ke layar, beralih ke naskah, lalu ke keyboard, dll. Belum lagi faktor flicker atau getaran sinar.

Otot-otot luar penggerak bola mata pun bekerja saat membaca atau mengoperasikan komputer. Semua gerakan itu secara faali menimbulkan kelelahan. Adapun manifestasinya beragam, misalnya mengantuk, berair, sakit kepala, dll.

Mata perokok lebih kusam
Pada dasarnya mata mempunyai sistem perlindungan. Mata normal mampu secara otomatis melakukan pelumasan dengan mengeluarkan air mata. Misalnya, ada benda asing masuk ke mata, air mata akan banyak mengalir untuk membersihkannya.

Sayangnya, di zaman modern ini banyak orang mengalami gangguan pada kelenjar air mata akibat "pencemaran" yang dilakukannya sendiri. Bentuknya antara lain seringnya mengkonsumsi obat-obatan, pemakaian kosmetika (khususnya untuk mata), hairspray, cat rambut, yang tanpa sadar mengganggu kelenjar air mata. Faktor pengganggu lain yang amat populer adalah rokok.

Meski tidak sefatal gangguan asap sampah di zaman Ramazzini, asap rokok mempengaruhi kondisi luar dan dalam tubuh. Pada kondisi luar, asap rokok cepat memunculkan kerutan di sudut-sudut kelopak mata (crow's feet), iritasi mata, serta membuat kering kelenjar air mata. Akibat terakhir biasanya membuat mata perokok selalu lebih kusam, tidak bercahaya, serta merah karena berkurangnya mutu air mata pelumas.

Sedangkan nikotin menyebabkan penyempitan pembuluh darah halus, baik yang di jantung, otak, juga mata. Pengaruhnya, tentu tak jauh dari fungsi mata sebagai pusat penglihatan, yakni gangguan ketajaman penglihatan dekat, sehingga terpaksa harus memakai kacamata baca pada usia lebih muda. "Bagi para penderita hipertensi dan diabetes gangguan itu bisa lebih berat," Hadisudjono mengingatkan.

Faktor lain yang lebih fatal sebagai penyebab kurangnya air mata adalah operasi. Demi kecantikan, ada wanita rela dioperasi matanya oleh, sayangnya, bukan ahli mata. Akibatnya, kelenjar air mata terpotong.

Sesuai karakter air mata
Pada kondisi kurang normal tersebut, atau misalnya bila ada benda asing sulit dibersihkan, maka diperlukan bantuan dari luar. Tapi, jangan sembarangan memilih cairan pembersih.

Cairan pengganti air mata haruslah yang wataknya sama dengan air mata.

Hadisudjono menganjurkan untuk memakai air garam fisiologis yang biasa untuk infus, karena bersifat netral atau isotonik terhadap cairan mata. PH-nya yang sama dengan air mata manusia tidak merangsang mata. Pilihan lain adalah menggunakan air mata buatan.

Bila menggunakan cairan dengan pH yang tidak sama dengan air mata, yang terjadi justru iritasi. Bahkan tidak tertutup kemungkinan penggunaan semacam itu mengakibatkan cedera.

Sedangkan obat tetes mata yang dijual bebas memiliki komposisi yang tidak persis sama dengan air mata. Karena terbuat dari bahan kimia yang bersifat asam, tak aneh bila sering menimbulkan rasa pedih di mata, meskipun rasa pedih itu sudah dipertimbangkan masih dalam batas yang bisa ditahan.

Namun, obat tetes mata bermanfaat untuk mengurangi iritasi akibat debu, angin, dan matahari. Hanya saja, berbeda dengan air mata buatan, obat tetes mata tidak memberikan pelumasan.

Umumnya obat tetes mata bebas aman dipakai bila hanya sekali-sekali untuk jangka pendek. Bila sampai lewat dari tiga hari keluhan tak juga hilang, penderita sebaiknya cepat menghubungi dokter. Malah pada orang yang berbakat mendapat glaukoma, penggunaan obat tetes mata berlebih dan dalam jangka lama justru dapat memicu munculnya penyakit mata tersebut.

Sebagaimana diketahui, glaukoma adalah gangguan akibat tidak bisa keluarnya cairan di dalam bola mata sehingga tekanannya menjadi tinggi. Ini terjadi karena obat tetes mata bekerja dengan menyempitkan pembuluh darah. Saat pembuluh darah menyempit, mata merah akibat iritasi kembali putih, hingga tak jarang dokter mata menyebutnya sebagai pemutih mata.

Kacamata hitam itu perlu
Kondisi paling ideal tentu bila orang tidak pernah berjumpa dokter dan obat. Artinya ia pada umumnya selalu sehat walafiat. Meski sulit, tak ada salahnya diupayakan. Maka, mencegah tetap saja lebih baik daripada mengobati. Namun, tentu saja itu disesuaikan dengan gangguan potensial yang berbeda pada tiap orang.

Misalnya bagi para pemakai komputer, usahakan bisa menentukan waktu istirahat yang memadai. Setiap bekerja 1 - 2 jam, istirahatkan mata dari komputer selama beberapa menit. Manfaatkan beberapa menit itu untuk melihat titik terjauh.
"Cari yang hijau-hijau, atau biru. Manfaatnya, mata tidak melakukan akomodasi, sehingga tidak stres," tutur Hadisudjono.

Mata yang sering terakomodasi dalam waktu lama akan cepat menurunkan kemampuan penglihatan dekat. Selain itu perlu diciptakan lingkungan kerja yang nyaman bagi mata. Maka perlu diperhatikan cara menggunakan mata secara tidak melelahkan. Sebagai contoh, menonton TV pada jarak yang tepat, membaca dengan penerangan yang cukup, ergonomi dalam penggunaan komputer, tidur yang cukup, dll.

Di negara tropis kacamata hitam sangat dianjurkan sebagai alat pelindung debu, juga sinar matahari. Muasalnya, selain sinar kasat mata, sesungguhnya sinar matahari mengandung cahaya tidak kasat mata, yakni ultraungu dan inframerah. Bila sinar kasat mata mengganggu karena intensitas silaunya, maka sinar tidak kasat mata justru menyebabkan perubahan biologis pada mata seperti kekeruhan lensa (katarak), gangguan retina, dll.

Maka kacamata hitam seharusnya selain memiliki kualitas optik yang baik, juga mampu menyaring sinar baik yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Untuk mengujinya, di optik terdapat alat yang bisa menunjukkan derajat penetrasi sinar-sinar tersebut. Ini tentu berbeda dengan kacamata hitam yang dijual di kaki lima, yang umumnya warna gelapnya hanya bisa melindungi mata dari silau sinar kasat mata, tapi belum tentu menyaring yang tidak kasat mata.

Kacamata hitam anti-ultraungu lebih-lebih harus dipakai saat berenang di bawah terik matahari, karena akibat pantulan air intensitas ultravioletnya berlipat kali ganda. Selain kualitas optik, bentuk bingkai kacamata diusahakan semaksimal mungkin melindungi organ mata terhadap debu dan penyebab iritasi lain. Jangan korbankan mata hanya demi gaya.

Selain itu, upayakan mengkonsumsi makanan bergizi seimbang. Makanan bergizi yang memperbaiki mutu jaringan secara umum, juga akan berakibat positif terhadap mata. Pendek kata, semua makanan yang memberikan kontribusi pada kesehatan secara umum akan memberikan kontribusi pada kesehatan mata pula. Makanan seimbang akan memperpanjang usia seluruh bagian tubuh manusia. "Resep" 4 sehat 5 sempurna plus olahraga tak hanya baik untuk badan, tapi juga mata, yang juga bagian dari tubuh manusia.

Kekurangan vitamin yang ekstrem, seperti busung lapar, dapat termanifestasi di mata dengan cepat seperti kekeringan (xerosis), pelunakan jaringan mata (malacia), sampai luka kornea dan borok yang bisa berakibat kebutaan. Seiring dengan pertambahan usia, antioksidan seperti vitamin C dan E makin dianjurkan.

Tak kalah penting adalah menghindari obat-obat yang tidak perlu, apalagi obat terlarang. Misalnya, lama mengkonsumsi obat mag akan mengakibatkan kekeringan kelenjar airmata. Dalam jangka panjang, obat golongan steroid bisa mengakibatkan glaukoma, atau katarak.

Yang perlu diperhatikan juga, hati-hati dalam menggunakan bahan-bahan kimia di lingkungan rumah tangga, yang kebanyakan sangat berbahaya bagi mata. Bahan kimia tersebut biasanya bersifat basa atau alkali yang bila mengenai mata bisa langsung menghancurkan mata. Di antara bahan kimia tersebut adalah kaustik soda untuk wastafel mampet, minyak rem, pembersih AC, serta pembersih keramik dan porselin.

Hati-hati memperlakukan mata perlu dilakukan sejak dini, karena sesal kemudian memang tak bakalan ada gunanya. Anda setuju, bukan? (Shinta Teviningrum)

KISAH BERMAKNA


BELAJAR DARI BENCANA

Pada suatu shubuh, Setelah mengumandangkan adzan di Masjid Madinah, lama Bilal menanti Rasul keluar dari peraduannya untuk shalat berjamaah, namun Rasul tak juga muncul. Karena itu, pergilah Bilal menemuinya, didapatinya Rasul sedang duduk di atas sajadah menghadap qiblat, menangis tersedu-sedu. Bertanya Bilal, "Ya Nabiyallah, apa yang menyebabkan engkau menangis? Padahal kalau ada kesalahanmu, baik dahulu ataupun nanti, akan diampuni oleh Allah SWT". Rasul menjawab, "Wahai Bilal, tengah malam telah datang Jibril AS membawa wahyu kepadaku dari Allah SWT yang berbunyi:" : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali Imran:190-191). Rasul melanjutkan, Sengsara hai Bilal!   bagi orang yang membaca akan ayat ini lalu tidak difikirkannya.
Firman Allah  dan ungkapan Nabi tersebut di atas mengandung makna yang dalam bagi kita untuk senantiasa memikirkan berbagai fenomena alam yang terjadi sekeliling kita, terutama disaat banyaknya bencana yang menimpa sebagian dari kita.
Apabila kita merujuk kembali ke firman Allah SWT diatas, dapat diambil sebuah hikmah bahwa segala apa yang terjadi di dunia ini baik di siang maupun malam adalah tanda kekuasaan Allah SWT, dan juga merupakan pelajaran bagi manusia, bahwa manusia adalah makhluk lemah dan tiada berarti di hadapan-Nya, secanggih apapun teknologi hasil cipataan manusia, kalau Allah SWT berkehendak lain maka terjadilah sesuai dengan kehendak-Nya.
Selain tanda dari kekuasaan Allah SWT, fenomena alam yang terjadi disekitar kita juga merupakan peringatan bagi kita, agar kita mengelola dan memanfaatkan ni’mat Allah SWT yang tak terhingga banyaknya secara profesional dan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh-Nya, mengingat peran kita sebagai khalifatullah di dunia yang bertanggung jawab penuh untuk memakmur bumi ini. Benarlah apa yang diungkapkan oleh Nabi, akan sengsara orang-orang yang tidak mau menggunakan akalnya untuk berfikir dan berdzikir dalam rangka mengingat Allah SWT dan mensyukuri ni’mat-Nya sesuai dengan tuntunan syari’at dan ajaran yang telah diajarkan Allah SWT dan Rasul-Nya. Wallahu’alamu bi ash-showab.


MAKNA LAILATUL QADAR

MAKNA LAILATUL QADR
Oleh : Nurcholish Madjid


            Salah satu momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh kaum beriman ialah Lailatul Qadr (Laylat-u ‘l-Qadr) dalam bulan Ramadan. Sama halnya dengan berbagai momen keagamaan seperti Maulid, Isra’ Mi‘raj, Nuzulul Qur’an, dan dua hari raya, Lailatul Qadr menghasilkan bentuk-bentuk tertentu tradisi budaya keagamaan. Di sebagian daerah negeri kita ini, seperti Jawa Timur, Lailatul Qadr menghasilkan tradisi selamatan “maleman” pada tanggal-tanggal ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Selamatan itu dibarengi dengan tradisi “oncoran”, yaitu kelompok anak muda yang masing-masing membawa obor untuk dibawa keliling desa, seolah-olah hendak membawa cahaya kebenaran kepada pen­du­duk desa itu karena datangnya Lailatul Qadr. Di tempat-tempat lain tentu ada bentuk-bentuk tradisinya sendiri, yang semuanya mengungkapkan betapa pentingnya malam yang kudus itu.
Ditilik dari maraknya tradisi budaya keagamaan itu, maka jelas ada sesuatu yang harus kita pahami lebih jauh, mendalam dan luas tentang Lailatul Qadr. Karena perjalanan waktu yang panjang, banyak sekali budaya keagamaan yang akhirnya kosong dari makna dan tinggal sebagai kebiasaan lahiri dan formal saja. Pernyataan ini bukanlah usaha untuk mengecilkan arti suatu budaya keagamaan. Setiap masyarakat memerlukan prasarana perlambangan untuk menguatkan makna-makna hidup yang lebih mendalam. Tetapi perlambang yang sudah menfosil dan berubah menjadi seolah-olah tujuan dalam dirinya sendiri akan muspra, tanpa guna. Karena itu berikut ini kita akan coba melihat lebih jauh makna Lailatul Qadr dan hikmahnya bagi manusia dan kemanusiaan.

Pengertian

            Secara harfiah, Lailatul Qadr berarti “Malam Penentuan” atau “Malam Kepastian”, jika kata-kata qadr difahami sebagai sama asal dengan kata-kata taqdîr. Tetapi ada juga yang mengartikan Lailatul Qadr dengan “Malam Kemahakuasaan”, yakni kemahakuasaan Tuhan, jika kata-kata qadr difahami sebagai sama asal dengan kata-kata al-Qadîr, yang artinya “Yang Maha Kuasa”, salah satu sifat Tuhan. Sudah tentu kedua pengertian itu tidak bertentangan-meskipun pengertian yang pertama lebih umum dianut orang. Kedua pengertian itu saling melengkapi.
            Dalam al-Qur’an penyebutan dan gambaran ringkas tentang Lailatul Qadr itu dikaitkan dengan malam diturunkannya al-Qur’an, yaitu dalam surat al-Qadr:

“Sesungguhnya Kami telah turunkan dia (al-Qur’an) pada Lailatul Qadr,
Dan apakah yang membuat engkau tahu apa itu Lailatul Qadr?
Lailatul Qadr adalah lebih baik daripada seribu bulan.
Pada malam itu, turun para malaikat dan Ruh dengan izin Tuhan mereka,
membawa segala perkara; Damailah dia (Malam itu) hingga terbit fajar”.
            Jadi disebutkan bahwa Allah menurunkan al-Qur’an pada Lailatul Qadr yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan atau sekitar delapan puluh tahun (kurang lebih umur maksimal manusia). Hal itu demikian karena pada malam itu para malaikat turun, begitu juga Ruh (yang dalam hal ini ialah Ruh Kudus atau Jibril, malaikat pembawa wahyu Tuhan). Mereka turun dengan membawa ketentuan tentang segala perkara bagi seluruh alam, khususnya umat manusia. Malam itu adalah suatu kedamaian, hingga terbit fajar di pagi hari.
Pengertian seperti di atas itu adalah yang paling umum dipegang kaum Muslim. Tetapi untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam, kita harus meneliti pengertian masing-masing ungkapan atau istilah dalam surat al-Qadr itu. Pertama ialah ungkapan bahwa Allah menurunkan al-Qur’an pada Lailatul Qadr itu. Menurut Ibn ‘Abbas sebagaimana dikutip dalam Tafsir Ibn Katsir, yang dimaksud ialah diturunkannya al-Qur’an itu dalam bentuk keseluruhannya secara utuh dan sempurna dari al-Lawh al-Mahfûzh (“Loh Mahfuzh”-“Papan Yang Terjaga”) ke Bayt al-‘Izzah (Wisma Kemuliaan) di langit terendah (langit dunia), lalu diturunkan kepada Nabi s.a.w. secara rinci menurut kejadian-kejadian historis masa beliau selama dua puluh tiga tahun. Malam diturunkannya al-Qur’an juga disebutkan di bagian lain dalam al-Qur’an sebagai Malam yang diberkati (Laylah Mubârakah), dan malam itu ada dalam bulan Ramadan:

“Bulan Ramadan, yang padanya diturunkan al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi umat manusia, dan sebagai penjelasan-penjelasan tentang petunjuk (yang telah lalu) dan pembeda (antara mana yang benar dan mana yang salah)”.

            Yang sedikit menjadi persoalan ialah, tanggal berapa Lailatul Qadr dan Laylah Mubârakah itu dalam bulan Ramadan? Bagi bangsa Indonesia hal ini menjadi lebih menarik, karena ada tradisi nasional untuk memperingati secara resmi malam diturukannya al-Qur’an itu, yang biasa disebut sebagai malam Nuzûl-u ‘l-Qur’ân pada tanggal 17 Ramadan (yang kebetulan adalah juga tanggal Proklamasi Kemerdekaan). Konon yang memilih tanggal itu sebagai Hari Nuzûl-u ‘l-Qur’ân adalah Haji Agus Salim, bapak modernisme Islam di Indonesia, dengan persetujuan Bung Karno. Dalam menentukan pilihannya itu agaknya Haji Agus Salim merujuk kepada sebuah firman dalam al-Qur’an,

“Dan ketahuilah, bahwa apa saja yang kamu dapati sebagai harta rampasan perang, maka sesungguhnya seperlimanya adalah untuk Allah, Rasul-Nya, karib-kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, serta orang yang dalam perjalanan, jika kamu memang beriman kepada Allah dan kepada sesuatu yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) pada hari yang menentukan, yaitu hari dua pasukan tentera bertemu (berperang). Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

            Jadi firman Allah itu menjelaskan ketentuan tentang bagaimana harta rampasan perang harus dibagi-bagi dan siapa saja yang berhak. Ketentuan itu harus diterima oleh kaum beriman, jika memang mereka beriman kepada Allah dan kepada sesuatu yang diturunkan oleh-Nya kepada Nabi saw “pada hari yang menentukan, yaitu hari ketika dua pasukan bertemu dalam pertempuran”. Tafsir Ibn Katsir, berdasarkan berbagai sumber, menyebutkan bahwa yang dimaksudkan dengan “hari yang menentukan” itu ialah hari perang Badar. Juga berdasarkan berbagai sumber, Ibn Katsir mengatakan bahwa perang Badar itu terjadi pada hari Jum‘at tanggal 17 Ramadan (Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 juga hari Jum‘at!). Pada perang Badar itulah dua pasukan, muslim dan musyrik, bertemu dalam pertempuran. Perang Badar disebut “hari yang menentukan” (yawm al-furqân) karena perang itu adalah yang pertamakali dialami Nabi s.a.w. dan kaum beriman para pengikut beliau, dengan kemenangan yang telak, kemenangan yang benar (al-haqq), tauhid, atas yang palsu (al-bâthil), syirik. Seandainya dalam perang itu Nabi dan kaum beriman kalah, maka pupuslah sudah agama yang mereka bela dan tegakkan, dan teguhlah faham-faham palsu, khususnya kemusyrikan. Tapi karena kemenangan telak tersebut, maka Nabi dan kaum beriman telah berhasil memastikan, dengan pertolongan Allah swt, bahwa yang benar selamanya akan menang, dan yang palsu selamanya akan kalah. Sejarah Nabi s.a.w dan kaum beriman selanjutnya membuktikan hal itu semua.
            Jika benar demikian itu, maka sesungguhnya tanggal 17 Ramadan, malam Nuzulul Qur’an, adalah juga Lailatul Qadr. Hal ini menjadi berbeda dengan yang umum sekali dipercayai kaum Muslim, berdasarkan keterangan Nabi saw dalam hadis, bahwa Lailatul Qadr adalah salah satu malam dari malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Yang menarik ialah bahwa Nabi saw tidak menjelaskan dengan rinci malam yang mana dari malam-malam ganjil itu yang sesungguhnya malam Lailatul Qadr. Sikap Nabi ini ditafsirkan sebagai suatu hikmah agar kaum Muslim tidak mengkhususkan ibadat banyak-banyak hanya dalam satu malam tertentu saja, tetapi terus-menerus melakukannya dalam lima malam hari-hari terakhir bulan Puasa yang penuh barkah itu. Tetapi karena perbedaan tersebut itu, maka di negeri kita ada sesuatu yang amat unik (tidak terdapat di negeri Islam lain manapun juga), yaitu bahwa Nuzulul Qur’an adalah berbeda dengan Lailatul Qadr!
            Sudah tentu tradisi peringatan resmi Nuzulul Qur’an itu adalah baik sekali, karena itu harus dipertahankan. Sebab telah terbukti membawa hikmah yang amat bermakna bagi kehidupan nasional kita. Namun adanya perbedaan tersebut ada baiknya dicari “penyelesaiannya”, sehingga “tidak mengganggu”.
            Agaknya ada perbedaan tafsiran tentang apa yang sebenarnya yang diturukan Allah pada “hari yang menentukan” atau perang Badar sebagaimana disebutkan dalam firman terkutip di atas. Tafsir Ibn Katsir mengesankan pengertian bahwa yang diturunkan Allah pada perang Badar ialah ketentuan tentang pembagian harta rampasan perang, bukan al-Qur’an itu sendiri secara keseluruhannya. Tetapi A. Yusuf Ali, seorang penerjemah al-Qur’an ke dalam Bahasa Inggris dengan komentar yang diakui paling absah oleh Dunia Islam, mengisyaratkan bahwa memang yang diturunkan Allah pada “hari yang menentukan” (Yawm-u ‘l-Furqân) itu adalah al-Qur’an itu sendiri, mungkin dalam pengertian seperti diajukan oleh Ibn ‘Abbas terkutip di atas. Isyarat A. Yusuf Ali itu terjadi karena ia menerangkan apa makna al-Furqân (penentu atau pembeda antara yang benar dan yang palsu) dengan melakukan rujukan silang (cross reference) kepada ayat-ayat di tempat lain dalam al-Qur’an.
            Dalam surat al-Qadr yang diterjemahkan di atas terbaca ayat yang terjemahannya “Pada malam itu, turun para malaikat dan Ruh dengan izin Tuhan mereka, membawa segala perkara”. Lagi-lagi di sini ada sedikit perbedaan tentang apa yang dimaksud dengan “rûh” dan “amr” (“segala perkara”). Muhammad Asad, seorang penerjemah dan penafsir al-Qur’an yang juga sangat tinggi otoritasnya, mengartikan “rûh” dalam firman itu tidaklah sebagai Ruh Kudus atau malaikat Jibril, melainkan “wahyu Ilâhî” itu sendiri atau “ilham Ilâhî” (bagi yang bukan nabi) dalam artian yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Baginya, pengertian ini menjadi jelas dalam kaitannya dengan makna perkataan “rûh” dan “amr” di beberapa ayat lain dalam al-Qur’an. Misalnya, firman Allah :

“Ia turunkan malaikat dengan wahyu dari perintah-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki dari para hamba-Nya: “Hendaklah kamu beri peringatan bahwa tiada Tuhan melainkan Aku. Karena itu, bertaqwalah kamu sekalian kepada-Ku".

Pengertian “rûh” sebagai wahyu Ilâhî itu lebih jelas lagi dari firman Allah,

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) roh dari perintah Kami; engkau dahulu tidak pernah mengetahui apa itu Kitab dan apa itu iman, akan tetapi Kami jadikannya cahaya yang dengan itu Kami membimbing siapa saja yang Kami kehendaki di antara para hamba Kami. Sesungguhnyalah engkau memberi petunjuk ke jalan yang lurus”.

            Berdasarkan itu semua maka Muhammad Asad, dengan merujuk kepada Zamakhsyari (seorang otoritas klasik), memberi makna bahwa istilah “rûh” dalam al-Qur’an sering digunakan dalam pengertian “wahyu Ilâhî”, karena wahyu itu, seperti halnya dengan roh atau jiwa, memberi kehidupan kepada hati yang mati dalam kebodohan (tidak tahu yang benar dan yang palsu), dan dalam agama wahyu itu mempunyai fungsi seperti roh untuk badan. Asad juga menerangkan, dengan merujuk kepada Thabari, Zamakhsyari, Razi, dan Ibn Katsir, bahwa perkataan “rûh” yang secara harfiah berarti “jiwa” (atau “sukma”) itu, dalam konteks ayat kedua terkutip di atas, jelas menunjukkan pengertian “wahyu Ilâhî” yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw, yaitu al-Qur’an, yang dianugerahkan untuk membimbing manusia kepada kehidupan ruhani yang lebih intensif.
            Selanjutnya, bahwa wahyu Ilahi itu adalah sesuatu, seperti roh, yang memberi kehidupan spiritual kepada manusia dengan jelas disebutkan dalam al-Qur’an, demikian:

”Wahai orang-orang yang beriman, sambutlah Allah dan Rasul-Nya apabila Dia menyeru kamu kepada sesuatu yang menghidupkan kamu. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menyekat antara diri seseorang dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dihimpunkan”.

            Jadi kalau dalam Lailatul Qadr itu disebutkan para malaikat dan roh turun dengan membawa segala perintah, menurut penafsiran di atas itu artinya ialah turunnya wahyu Ilahi yang mencakup segala perintah Allah dan yang membawa kepada vitalitas spiritual umat manusia. Karena itu Lailatul Qadr adalah momen agung yang amat menentukan hidup manusia seumur hidup (sampai seribu bulan atau delapan puluh tahun), ketika orang bersangkutan memiliki kesiapan ruhani yang bersih untuk menerima wahyu Ilahi itu, yang dalam hal ini ialah menerima, memahami, menghayati dan mengamalkan al-Qur’an.

Lailatul Qadr bagi Umat Manusia

            Dengan pengertian-pengertian di atas itu, Lailatul Qadr memang merupakan “Malam Penentuan” dan “Malam Kemahakuasaan Allah”. Ini jelas sekali jika dikaitkan dengan apa arti kehadiran al-Qur’an bagi umat manusia. Sebagaimana ditunjukkan oleh sejarah, khususnya sejarah agama-agama, al-Qur’an tidak hanya mempengaruhi dan membawa perubahan kepada kaum Muslim saja, melainkan secara langsung atau tidak langsung juga mempengaruhi dan membawa perubahan kepada seluruh umat manusia.
            Sementara itu, ada penafsiran mistis yang menarik sekali, yang dikemukakan oleh A. Yusuf Ali. Dikaitkan dengan hikmah perbedaan pandangan tentang kapan sebenarnya Lailatul Qadr itu dalam bulan Ramadan, atau keterangan Nabi saw sendiri yang agaknya sengaja tidak dengan spesifik menunjukkan kapan itu sebenarnya, maka Yusuf Ali lebih menafsirkannya sebagai momen mistis. Apalagi jika disebut bahwa malam itu lebih baik daripada seribu bulan, yang dapat diartikan tidak secara harfiah melainkan sebagai simbolisasi bahwa Lailatul Qadr itu “mengatasi waktu” (transcends Time), karena sebagai Malam Penentuan dan Malam Kemahakuasaan Tuhan yang telah melenyapkan gelapnya kebodohan, dengan Wahyu-Nya, dalam semua perkara. Untuk pandangannya ini, dan sebagai pengantar kepada terjemah dan komentarnya kepada surat al-Qadr, Yusuf Ali menggubah syair yang indah sekali, demikian:

Blessed indeed is the Night of Power!
When the Mercy of God’s Revelation breaks through
The darkness of the human soul!
All the Powers, of the world divine,
Speed on their mystic Message of Mercy,
By God’s command, and bless every nook
And corner of the heart! All jars
Are stilled in the reign supreme of Peace,
Until this mortal night gives place
To the glorious day of an immortal world!

Terjemahnya, kurang lebih,

Sungguh diberkati Lailatul Qadr
Ketika Rahmat Wahyu Ilâhî menembus
Kegelapan sukma manusia!
Semua Kekuatan malaikat, dari dunia Ilâhî,
Bergegas dalam Pesan mistik Kasih mereka,
Atas perintah Allah, dan memberkati setiap relung
Dan sudut hati manusia! Semua ruang
Terpukau dalam daulat Damai sempurna,
Sampai tiba saatnya masa yang fana ini memberi tempat
Kepada hari penuh keagungan dari suatu dunia abadi!

Penutup

            Dari semua momen dalam hidup manusia, tentu ada satu momen yang menentukan hidup seseorang sepanjang umurnya. Momen itu dapat disebut sebagai “Momen Penentuan”, sebanding dengan Lailatul Qadr, bagi pribadi bersangkutan. Momen itu selalu dibarengi dengan suasana damai dan bahagia, yang merupakan dampak keruhanian karena merasakan hadirnya kebenaran yang ditemukan. Karena itu akan mempengaruhi seluruh hidupnya sepanjang umur.
            Lailatul Qadr yang disebutkan dalam al-Qur’an adalah “Momen Penentuan” bagi manusia dan kemanusian universal. Bersamaan dengan itu, sebagai malam mistis penuh barkah keruhanian yang hening dan damai, Lailatul Qadr dalam bulan Ramadan dapat mewujudkan suasana batin pribadi yang suci dan damai, sebagai pertanda “intervensi Ilahi” kepada pribadi bersangkutan, berupa keyakinan yang diperbaharui dan diperteguh, mungkin bahkan diketemukan untuk pertama kalinya dalam hidup, tentang kebenaran dan kesucian. Karena itu agama memberi arahan, agar setiap pribadi, dalam bulan suci Ramadan yang penuh barkah, mencari Lailatul Qadr yang mungkin dianugerahkan Allah khusus baginya-sama dengan turunnya para malai­kat dan “rûh” kepadanya yang membawa segala petunjuk kebenaran Ilahi dan kedamaian hidup selama-lamanya. Lailatul Qadr yang demikian itu, sebagai “malam penentuan” dan “malam kemahakuasaan Tuhan”, memang mengatasi sang waktu, karena kebahagiaan yang diwujud­kannya adalah abadi. Dan dapat sangat pribadi, sehingga saatnya pudapat berbeda-beda dari seseorang ke orang lain. Maka Nabi s.a.w. tidak menyebutkan kapan tepatnya malam itu.


KISAH INSPIRATIF


Maaf, Terima Kasih


Jumat (27/5) kemarin, untuk pertama kalinya saya masuk kerja lagi setelah terbaring di rumah sakit. Kali ini saya lewat Jl Pejaten. Alhamdulillah, saya lancar berjalan ke kantor karena tak ada trotoar di sana. Pada Selasa (17/5/2005) saya harus masuk rumah sakit karena dipukul orang yang naik motor di trotoar. Saya tak mempunyai memori soal kejadian itu hingga saya tersadar telah berada di Unit Gawat Darurat RS Pertamina, Jakarta, sekitar pukul 21.00 WIB. Tapi saksi mata menyebut pemukul saya berseragam militer.

Selama di rumah sakit, saya merasa bahwa sayalah yang bersalah, karena telah berjalan kaki di trotoar. Di Jakarta, trotoar adalah untuk pedagang kaki lima, parkir mobil, dan pengendara sepeda motor.

Kepada pengendara motor yang manghajar saya, maaf, saya telah mengganggu kelancaraan bermotor Anda di trotoar. Maaf kalau saat itu saya lancang menegur Anda bahwa trotoar adalah untuk pejalan kaki, sehingga saya tak mau minggir ketika Anda mengklakson saya. Saya tahu, banyak orang yang mudah marah karena ditegur. Saya pernah menegur orang yang hendak menyelinap masuk antrean di depan loket Stasiun Gambir, Jakarta. Ia juga marah-marah.

Tapi, saya juga harus berterima kasih kepada seorang tentara yang membeli tiket tanpa antre tak marah ketika saya tegur. Saat itu antrean begitu panjang, orang harus menunggu dua-tiga jam untuk bisa mendapatkan tiket tujuan Bandung. Tiba-tiba seorang tentara berseragam lengkap dengan pisau di pinggang beli tiket tanpa antre, dan dilayani petugas piket.

Saya menduga, ia marah mendengar teguran saya, sebab, ia menghampiri saya begitu saya selesai beli tiket. Belum juga ia sempat bicara, saya dahului bicara, menjelaskan alasan saya menegur dia. ''Saya tahu, tentara akan didahulukan dalam pelayanan, tapi dalam kondisi banyak orang berdiri antre berjam-jam, lebih baik Mas beli lewat belakang, sehingga nggak dilihat orang yang lagi antre,'' kata saya meski dalam hati waswas, jangan-jangan ia akan menghajar saya karena saya tegur dia di depan banyak orang.

Saya salut kepadanya. Ia malah berterima kasih karena telah ditegur, dan meminta maaf karena tidak ikut antre. Ia mengaku ditegur kakak angkatan dia yang saat itu juga mengawasi dia. Tapi, saya juga pernah dimarahi orang yang saya tegur karena merokok di kendaraan umum. Ia merasa berhak merokok, karena namanya saja kendaraan umum, jadi boleh dong merokok, tak peduli banyak orang terganggu asap rokoknya.

Tapi, maafkan saya, kalau saya tidak tahu bahwa ternyata merokok menghindarkan orang dari perbuatan jahat. Banyak orang bilang, tidak pernah ditemui orang yang membunuh, mencuri, dan berkelahi sambil merokok. Andai saja saat saya berjalan kaki di trotoar depan kantor itu sambil merokok dan si pengendara motor yang lewat trotoar juga sambil merokok ... Mungkin yang terjadi adalah basa-basi, saling menawarkan rokok, karena melihat rokok masing-masing sudah hampir habis. Kata orang-orang, tak mungkin kan ketemu orang tak dikenal lantas menawarkan uang ...

Saya pun merasa perlu berterima kasih kepada Anda yang menganiaya saya, karena setelah itu --dengan luka terparah di pelipis kiri dekat mata-- saya berkesempatan lagi belajar mengenal huruf dan simbol, meski belajarnya di poli mata. Saya juga perlu berterima kasih karena saya tak mempunyai memori peristiwa itu, sehingga saya tak perlu dendam kepada Anda, dan atasan Anda tak tahu, meski sebenarnya ingin sekali melihat Anda dihukum akibat perbuatan Anda itu.

Tapi, hikmah tentu saja ada, sehingga Anda bisa bercerita kepada keluarga Anda, bahwa Anda telah menghajar pejalan kaki di trotoar karena tak mau minggir ketika diklakson. Anda punya kesempatan menularkan nilai-nilai kekerasan kepada keluarga Anda atau rekan yang seide dengan Anda. Dari lingkup kecil inilah Anda bisa melanggengkan rejim kekerasan, yang suatu saat mungkin Anda perlukan di masa depan Anda. Kecintaan Anda pada kekerasan adalah modal utama untuk bisa melanjutkan rejim kekerasan di bumi Nusantara ini. Dengan begitulah, Anda bisa memberi sumbangsih agar Amerika Serikat tetap tak membantu Indonesia lewat pelatihan militer dan jual-beli alat-alat militer.

Orang-orang di Kongres AS banyak menyimpan kesan baik dalam hubungan personal dengan beberapa personel tentara Indonesia. Di antara mereka ada yang perlu mengucapkan terima kasih karena ditolong tentara Indonesia ketika ia diserang Khmer Merah di Kompong Cam, dekat Distrik Batai, Kamboja, pada Mei 1993. Ia menyatakan, sangat kagum kepada tentara penolong itu, karena dengan bekal peralatan yang minim bersedia menolong dia. Tapi, kesan simpatik secara personal seperti ini tak akan meluluhkan Kongres AS untuk menyetujui normalisasi kerja sama militer Indonesia-AS. Mereka masih melihat personal TNI masih banyak yang mengedepankan kekerasan.

Setelah peristiwa yang menimpa saya itu, banyak nasihat diberikan kepada saya, dan sejak kecil sudah beribu kali saya dengar: sing waras ngalah. Inilah kesempatan untuk meneruskan rejim kekerasan, karena orang-orang yang waras akan selamanya memberikan jalan bagi orang macam Anda dengan cara terus mengalah. Dulu, di trotoar tempat Anda menghajar saya, ada rambu huruf S disilang. Saya tidak tahu kalau simbol itu artinya: sipil dilarang lewat. Maaf.

LUANGKANLAH WAKTU


LUANGKANLAH WAKTU

Luangkanlah waktu untuk berpikir
Berpikir adalah sumber kekuatan

Luangkanlah waktu untuk membaca
Membaca adalah landasan bijaksana

Luangkanlah waktu untuk bermain
Bermain merupakan rahasia awet muda

Luangkanlah waktu untuk diam
Diam adalah kesempatan menuju Tuhan

Luangkanlah waktu untuk peduli
Peduli adalah kesempatan untuk membantu sesame

Luangkanlah waktu untuk mencintai dan dicintai
Cinta adalah anugerah terbesar dari Tuhan

Luangkanlah waktu untuk tertawa
Tertawa adalah musiknya jiwa

Luangkanlah waktu untuk bersikap santun
Sikap santun adalah jalan menuju kebahagiaan

Luangkanlah waktu untuk berkhayal
Khayalan menghasilkan masa depan

Luangkanlah waktu untuk berdo’a
Do’a adalah kekuatan terbesar di muka bumi
KONSEP HIDUP DI DUNIA



1. KONSEP ZIKR
          A. Zero base – pikiran yang jernih, tanpa ada buruk sangka.
B. Iman – Keyakinan yang kuat terhadapa Allah Swt, bukan percaya diri atau rendah diri, tapi percaya kepada Allah.
C. Konsisten – Tidak keluar dari tujuan utama.
D. Result oriented – Mencari ridho Allah swt.


2. KONSEP PIKR
          A. Power sharing – Pendelegasian kekuasaan
          B. Information sharing – Pembagian dan pemerataan informasi
          C. Knowledge sharing – Berbagi pengetahuan dan keterampilan.
          D. Reward sharing – Imbal balik.


3. KONSEP MIKR
          A. Militan – Berani  dan terlatih.
          B. Intelek – Berakal dan menghargai perbedaan.
          C. Kompetitip – Efisien dan berdaya saing.
          D. Regeneratif – Patah tumbuh hilang berganti.

              

LIDAH JAMINAN KESELAMATAN


Lidah Adalah Jaminan Keselamatan
>Publikasi: 25/08/2016 22:38
>--------------------------------
>
>eramuslim - Lukman al Hakim manusia bijak yang diabadikan Allah dalam
>sebuah nama surat dalam Al Qur'an pernah diperintahkan oleh tuannya
>untuk mempersiapkan daging terbaik untuk disediakan sebagai hidangan
>bagi para saudagar negeri seberang yang merupakan tamu-tamu tuannya
>tersebut. Maka Lukman menghidangkan daging lidah bagi tamu-tamu
>tersebut, hingga membuat tuannya tercengang bercampur malu. Namun, ia
>dan para tamunya penasaran dan kembali bertanya kepada pembantunya
>itu perihal daging terburuk, maka Lukman menjawab: Lidah!
>
>Dalam sebuah hadist dari Mu'adz, Rasulullah bersabda: "Maukah kamu
>jika saya katakan kepadamu tentang sendi dari semua kebaikan itu?"
>Aku (Mu'adz) menjawab, "Tentu, ya Rasulullah." Maka beliau menunjuk
>pada lidahnya, seraya berkata, "Jagalah ini!" Aku berkata, "Ya Nabi
>Allah, apakah kami akan memperoleh siksa akibat ucapan kami?" "Betapa
>celakanya engkau wahai Mu'adz, bukankah orang-orang yang tersungkur
>ke dalam neraka itu, melainkan hasil menabur fitnah melalui lidah-
>lidah mereka, akhirnya menuai siksanya?" (HR Tirmidzi dan Hakim).
>
>Saudaraku, tentu ada hikmah yang teramat dalam dari pemberian dua
>telinga bagi manusia. Sedangkan Allah hanya memberikan satu mulut
>diantara dua pasang organ tubuh lainnya yang diberikan. Tentu Allah
>berharap manusia lebih banyak mendengar banyak hal kebaikan dengan
>dua telinga dan mengambil pelajaran dari setiap apa yang dilihat
>sepasang matanya. Allah lebih berkenan jika manusia banyak berbuat
>dengan dua tangan mereka, bergerak ke arah kebaikan dengan dua
>kakinya.
Sementara Dia hanya menyisakan satu mulut untuk tidak banyak
>berkata-kata.
>
>Ironisnya, sebagian (besar) manusia lebih banyak berkata-kata dari
>pada amal perbuatannya, tidak suka mendengar dan lebih ingin
>didengarkan, bahkan menutup mata akan banyak hal kebaikan dari orang
>lain. Bicara berlebihan, dusta, fitnah, ghibah, issu, namimah, berita
>bohong, dan banyak hal lainnya yang berkenaan dengan lidah ini seolah
>menjadi hal yang biasa menghiasi keseharian kita.
>
>Padahal saudaraku, Rasulullah mengingatkan kita dalam sebuah sabda
>yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra, "Janganlah memperbanyak kata
>(bicara) selain dzikrullah, karena banyak bicara selain dzikrullah
>menjadikan hati keras. Dan orang yang terjauh dari Allah adalah yang
>berhati keras."
>
>Bahkan Baginda Rasul mengatakan, "Barangsiapa yang dapat memberikan
>jaminan kepadaku untuk menjaga sesuatu yang berada di antara kedua
>dagu (lisannya) dan kedua pahanya (kemaluannya), maka aku akan
>menjaminnya masuk surga." (HR. Bukhari).
>
>Juga hadist lainnya yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah
>bersabda: "Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka
>adalah melalui dua lubang; mulut dan farji (kemaluan)" (HR. Tirmidzi)
>
>Saudaraku, kata-kata adalah perlambang akhlaq, dan akhlaq adalah
>cerminan hati. Didalam hatilah bersemayam keimanan. Maka ketika Nabi
>Allah mengisyaratkan bahwa hati adalah penentu baik-buruknya perilaku
>dan keseluruhan jasad manusia, sudahkah kita membenahi hati ini agar
>setiap hal yang keluar dari mulut ini adalah kebaikan, agar semua
>yang tergerai dari lidah ini adalah kesejukkan. Sudahkah kita
>membersihkan hati ini, agar apa yang terlontar dari rongga mulut
>tidak memanasi telinga yang mendengarnya, tidak menyayat hati yang
>merasainya.
>
>Padahal saudaraku, dari Anas bin Malik Rasulullah saw bersabda:
>"Tidak akan lurus keimanan seorang hamba, sehingga lurus hatinya dan
>tidak akan lurus hatinya sehingga lurus lidahnya."
>
>Saudaraku, Nabi Allah yang mulia itu menjadikan syarat perbaikan iman
>dengan merehabilitasi hati, kemudian menjadikan syarat perbaikan hati
>dengan perbaikan lisan. Oleh karena itu, tentu sangat beralasan jika
>dalam hadist lainya beliau meminta agar manusia lebih baik diam jika
>tidak mampu berkata-kata yang baik, karena yang demikian itu adalah
>tanda bagi yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.
>
>Dalam sebuah riwayat juga diceritakan bahwa Uqbah bin 'Amir berkata
>kepada Rasulullah saw, "Ya Rasulullah, apakah keselamatan itu?"
>Beliau menjawab: "Jagalah lidahmu, luaskan rumahmu dan menangislah
>atas kesalahan dan dosa-dosamu." (HR.Bukhari-Muslim).
>
>Saudaraku, menjaga lisan adalah salah satu kebaikan yang utama yang
>dapat membebaskan manusia dari kejatuhan, kehancuran untuk
>mendapatkan keselamatan.
Baik itu, di dunia terlebih di yaumil akhir
>nanti. Tentunya sudah banyak contoh dari orang-orang terdahulu untuk
>kita jadikan pelajaran, betapa banyak orang jatuh dan hancur oleh
>karena lisannya sendiri, tentu mereka juga masih akan merasakan
>kehancuran yang lebih dahsyat di akhirat.
>
>Saudaraku seiman, menjaga lidah jaminannya adalah keselamatan dan
>sebaliknya, siapa yang tidak mampu mengontrol apa-apa yang terucap
>lidahnya, maka ketahuilah bahwa semua perkataan kita akan memberatkan
>perhitungan segala perbuatan kita dihadapan Allah kelak. Seperti
>dikatakan Rasulullah saw, bahwa "Semua ucapan manusia akan
>memberatinya, tidak meringankan baginya, kecuali amar ma'ruf nahi
>munkar dan dzikrullah swt." (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah) (Bayu
>Gautama)

KUNCI KEHIDUPAN


LEMPARAN BATU

Terkadang dalam kehidupan ini telinga kita sudah terlalu kebal terhadap suara-suara peringatan yang bertujuan membawa kita ke arah kehidupan yang lebih baik. Popularitas, ambisi, kesombongan, kekayaan, dan segala kompetensi yang dimiliki sering membutakan nurani dan menumpulkan ketajaman pendengaran kita terhadap alunan musik introspeksi yang merdu.
Ada kalanya seseorang harus “dilempar batu” dulu untuk memosisikannya kembali agar tidak terjerumus lebih jauh. Apa yang terjadi di depan kita, maupun dibelakang kita sesungguhnya merupakan persoalan kecil dibandingkan dengan apa yang ada dalam diri kita.
Bukan peristiwa yang penting, tapi respon terhadap peristiwa itulah yang dapat memunculkan intisari pemaknaan hidup yang sesungguhnya. Kemenangan kita yang paling besar bukanlah karena kita tidak pernah jatuh, melainkan karena kita BANGKIT setiap kali jatuh. Life is choice (hidup adalah pilihan). Kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang harus diputuskan, cepat atau lambat.